<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604</id><updated>2011-10-20T11:28:31.497+07:00</updated><category term='Cokelat Manis'/><category term='Puisi-ku'/><category term='Book Review'/><category term='Seputar Menulis'/><category term='E-Book Download'/><category term='Cerpen-ku'/><title type='text'>SELEPAS LAUTAN</title><subtitle type='html'>berdebur; pecah; lepas apa adanya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-4158979113626847190</id><published>2010-03-31T11:37:00.003+07:00</published><updated>2010-03-31T11:59:52.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>PERTEMUAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Ia adalah lelaki belia yang menggebu-gebu tentang kehidupan, saat kami berpisah sembilan tahun yang lalu. Kehidupan yang berjalan di tengah jarakku dan dia telah membuktikan sesuatu, bahwa waktu mampu mengubah seseorang. Setelah percakapan maya hari itu, dan telepon-teleponnya kemudian, hari ini kuputuskan singgah, meskipun Yogya sedang sangat cerah dan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan dia berkenalan di kota ini, dan untuk beberapa bulan yang hangat kami selalu bersama-sama menikmati siang dan malam. Ketika itu udara belum sepolusi sekarang, kendaraan roda dua tak sebanyak sekarang, dan bus-bus kota masih setia menelusup ke jalan-jalan kecil dalam kota. Aku senantiasa, sembilan tahun ini, masih mengingat senja-senja sederhana yang berkesan sepanjang jembatan di atas kali Code yang masih kumuh, percakapan kami tentang orang tua yang sama saban sore memilah sampah di bawah sana, sampai pada rembulan yang cahayanya berkilau-kilau di permukaan air kecoklatan itu. Aku senantiasa juga mengenang setiap tetes gerimis pagi hari, setelah malam beku di depan unggun api di pantai Parangtritis. Semua kenangan itu makin tercitra dengan jelas menjelang pertemuanku dengannya untuk pertama kali setelah berpisah, hari ini. [Lewat koneksi seorang teman lama di jejaring maya, aku menemukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;account&lt;/span&gt;-nya.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tinggal di bagian kota yang padat sekarang. Aku tak kesulitan mencari rumah kontrakannya sebab terletak begitu dekat dengan sebuah hypermarket di kota ini, dan dekat pula dengan bekas rumah kost-ku yang terakhir, sebelum aku pindah beberapa bulan yang lalu. Tak kami sadari, bulan-bulan sebelum kepindahanku sebetulnya jarak telah memendekkan dirinya di antara kami. Namun, terpikir juga olehku seandainya saat itu aku bertemu dengannya, mungkin aku tak mengenalinya, atau sebaliknya ia tak lagi mengenali aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ia telah benar-benar bermetamorfosa. Aku sempat terdiam melihat foto dirinya di jejaring maya. Ia tampak lebih gemuk, meskipun tetap berkulit putih. Aku tak mengenali tatapan matanya. Ia dahulu, bukanlah lelaki yang memiliki tatapan mata serius dan seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Mata yang aku kenal darinya adalah mata yang lucu dan kocak, dan selalu mengajak tertawa. Gerangan kehidupan seperti apa yang dijalaninya sembilan tahun terakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, kamu di mana? Aku sudah di depan. Keluar ya…” Aku menelepon seperti pesannya jika aku sampai di jalan depan kontrakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang dulu belia itu, keluar dari pintu rumah di seberang aku berdiri. Ia tersenyum kecil, Aku melangkah menghampiri dan dengan canggung ia mempersilakan aku masuk. Kami bertatapan sebentar dan tertawa. Suasana yang kaku itu kemudian mencair. Ia mengacak rambutku seperti dulu sering ia lakukan padaku. Aku menghalau tangannya sambil tertawa [aku tiba-tiba mempunyai perasaan bahagia seperti ketika masih belia dan jatuh cinta pertama kali]. Ia lalu membuatkanku minum. Aku duduk di ruang tamunya dengan kelebatan-kelebatan kenangan yang sesekali menyelinapi kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing ingin bercerita banyak tentang waktu yang hilang. Tetapi permulaan kadang-kadang memang membingungkan. Terdiam cukup lama dibuai suara Celine Dion, aku akhirnya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembilan tahun ini udah kemana aja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak kemana-mana. Aku tetap di kota ini setelah dulu itu.” Ia tersenyum sambil menatap aku, kemudian melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali aku pernah mendapat kabar tentang kamu, itu pun sekilas. Aku hendak mencarimu, tapi tak punya kontakmu. Gila apa, mencari orang tanpa kontak, Yogya kan nggak selebar daun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Aku –entah mengapa- sangat ingin menatapnya lekat-lekat, dari sedekat ini. Dan aku memang melakukannya. Kulitnya tetap putih, seakan panas kota tak pernah membakarnya. Matanya bersaput warna merah, mungkin lelah atau kurang tidur, dan garis-garis usia itu, meskipun belum tampak tegas tetapi telah tergambar di sana. Aku memanggil bayangan wajahnya yang terakhir dari ingatanku, dan membandingkannya. Ia yang belia, telah diganti dengan sosok lelaki dewasa di hadapanku kini, di kepala tiga usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu percakapan kami bergeser ke arah yang sensitif itu; tentang siapa-siapa yang telah melewati kehidupan, di tengah waktu yang hilang antara kami. Ia yang banyak bercerita sementara aku mendengarkan. [Aku memang suka mendengarkan dia, kisah-kisah dari mulutnya selalu menarik, lucu dan indah. Ia memiliki cara yang khas bagaimana membuat ceritanya mengalir enak]. Ia bercerita tentang perempuan-perempuan hebat di dalam kehidupannya. Bekas-bekas kekasihnya. Aku tak hendak bertanya mengapa bekas-bekas kekasihnya yang ia ceritakan. Tak pula ingin tahu siapa kekasihnya sekarang. Aku hanya mendengarkan dan yakin pertanyaan-pertanyaanku akan terjawab dengan sendirinya di tengah-tengah ceritanya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya tetap lembut. Tetapi aku menemukan bahwa ia menggunakan nada-nada yang lebih lembut. Lembut sekali sehingga aku harus merendahkan nada-nadaku pula untuk mengimbanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas kekasih yang kelihatannya begitu mempengaruhi kehidupannya, telah menjalin hubungan dengannya hingga tahun kelima, ketika perempuan itu memilih menikah dengan lelaki lain. Kesetiaan, ia menyadarinya, kadang kalah di depan jarak dan waktu. Semua hal itu manusiawi dan tak ada yang sepatutnya disalahkan. Ia kuliah sambil bekerja di kota ini, perempuan itu menetap di kampung halamannya, sebuah kota dengan rasa kulinernya yang terkenal seantero nusantara. Jarak membuat kebersamaan menjadi semu, sedangkan naluri dasar manusia membutuhkan perhatian. Namun ia yakin ada sebuah alasan yang tak ia ketahui, sebab selama ini, kekasihnya selalu berkata ‘Kalau hanya soal jarak, ayolah kita bertahan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;. Ia toh tetap melepaskannya. Sama sekali tak pernah menyalahkan perempuan itu. Bahkan, ia masih mau mengangkat telepon atau membalas pesan-pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kali menelepon, ia bertanya kabar, saat aku balik bertanya tentang kabarnya, aku hanya selalu mendengar isak tangis sampai telepon itu berakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia menyesal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaanku tentang kabar, selalu membuka kesedihannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam sejenak entah apa dalam pikirannya.Ia mengakui ada perasaan kehilangan yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih kagum sama dia. Mungkin juga karena dia termasuk perempuan yang susah didekati dan aku beruntung pernah mendapatkan dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih berhubungan baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kadang berkirim pesan, tetapi tak menyinggung hal yang yang sensitif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya ia menceritakan dirinya sendiri. Tentang sesuatu yang berubah setelah kejadian itu. Lelaki dewasa di hadapanku mengakui ada sesuatu yang lebih liar tumbuh di dalam dirinya. Meskipun pikirannya mengingkari, tubuhnya berlaku lebih jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti ada dendam, ada keinginan untuk balas dendam, atau apalah namanya kalau kamu bisa merasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk saja. Mungkin di satu sisi kehidupanku aku memang pernah merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, aku jalan dengan siapa saja, berhubungan tanpa status, nggak berharap lebih, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nothing to lose&lt;/span&gt; saja..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lebih dalam. Aku mengerti perasaan-perasaan itu. Semacam perasaan ingin menyakiti diri sendiri, memperburuk diri sendiri, menyematkan kata ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bad&lt;/span&gt;’ di depan nama diri. Semacam kompensasi, atau pelarian, atau kehendak untuk mengalihkan perasaan-perasaan tidak nyaman dan rasa sakit, pada hal-hal lain yang –ternyata- tidak lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Skripsi pun belum selesai. Statusku di kampus pun entah apa sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berkelebat dalam ingatanku. Ia saat belia dulu adalah guruku dalam banyak hal. Ia mengenalkan aku pada komputer dan banyak bahasa asing. Ia mengajariku ilmu agama dan nilai-nilai kebaikan. [Lelaki dewasa di hadapanku ini melewatkan masa kecil dan remaja awalnya di pesantren terkenal di Jawa Timur]. Tahun itu pula aku mencapai nilai terbaik dalam kehidupanku, dalam hal menghargai diri sebagai perempuan, terdorong oleh nasehat-nasehatnya. [Jangan tanyakan tentang nilai-nilai itu pada diriku yang sekarang!].Waktu berlesatan di dalam kepalaku. Perasaanku tidak salah, ia telah menemukan sesuatu di tengah-tengah waktu kami yang hilang. Sesuatu itu kemudian mengubah sebagian dirinya, jauh berbeda dengan dia yang kukenal dulu; polos, tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;neko-neko&lt;/span&gt;, tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nakal&lt;/span&gt;. Sekarang pun sesungguhnya ia masih tampak serupa itu, tetapi ia mengatakan sebuah kalimat yang terkenal; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;don’t judge a book by it’s cover&lt;/span&gt;; pengalaman telah mengajarkannya tentang itu. Ia bukan lagi lelaki belia-ku yang dulu. Ia adalah lelaki dewasa sepenuhnya. Ia telah menjejakkan kaki di dunia lelaki-lelaki dewasa dengan segala macam problema dan hitam-putihnya. Demikian berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak banyak berkisah tentang diriku. Apakah aku tampak sama baginya ataukah berubah? Kurasa aku tak ingin mengetahui jawaban dari orang lain sebab kejujuran telah kupaparkan bagi diriku sendiri, dan itulah jawaban yang pasti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di menit terakhir pertemuan kami, ia menggenggam tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih sudah berkunjung, sebenarnya aku masih kangen sama kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tiba-tiba memelukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogya sudah teduh sesenja aku melangkah keluar dari pintu kontrakannya. Dan di seberang sana, tampak dari sela-sela bangunan yang berhimpitan, sebagian dinding angkuh Plaza Ambarukmo. Hari sudah berubah, dan perasaanku – entah mengapa - menjadi lebih bahagia hari ini. Apakah aku merasa mendapat kawan dan pembenaran atas apa yang kulakukan di bagian hidupku yang lain? Ada orang-orang seperti aku dan dia di dunia ini, yang mendendam atas sesuatu, tetapi tak pernah terbaca sebab dendam itu dilampiaskan diam-diam kepada diri sendiri, sehingga orang-orang tertentu tetap hidup seperti biasa, tak mengerti badai yang bergolak di dalam jiwa kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dedicated to my complicated old friend; C, this is my imagination inspired by our conversation. However, thank you for telling me such a beautiful story about love and life.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-4158979113626847190?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/4158979113626847190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=4158979113626847190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4158979113626847190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4158979113626847190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2010/03/pertemuan.html' title='PERTEMUAN'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3710661279553110285</id><published>2010-03-06T11:08:00.001+07:00</published><updated>2010-03-06T11:10:13.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Jasadku Disalibkan Pada HarapanHarapan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertahun ini, aku berkarib dengan bangkai lautan&lt;br /&gt;penuh anyir dan asin. mengisyaratkan masa lalu yang luka dan nanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang terbaca dari setumpukan menit gelisah,&lt;br /&gt;setiap kali membinasakanmu ke dalam mimpi buruk berlarutlarut&lt;br /&gt;hingga lupa hari berganti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi di tengah mimpi buruk ia menemukan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kepastian itu; mengeras dalam pias angin senja lautan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentang kejujuran yang masih terasa menyakitkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sampai keesokan harinya. kemudian seperti biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pertanyaanpertanyaan menyergapnya seperti angin dari semua penjuru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang menjelma putingbeliung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(lalu, selalu erangnya parau di kamar mandi!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;batang kenangan itu sepanjang apa. badai setiap malam&lt;br /&gt;membasahi jarak ke ujung bernama ingatan tempat bercampur segala&lt;br /&gt;suara dari kedalaman masa; tak memiliki padanan ketika dibahasakan&lt;br /&gt;kau tahu rasanya saat ketakutan mendatangimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak berjawab sebab kau telah dimantra waktu.&lt;br /&gt;menjadi batu di tengahtengah keranyas pilu yang menghujan&lt;br /&gt;di atas matamu; bangkai lautan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota ini aku terpaksa membunuh puisimu&lt;br /&gt;tentang lelaki perempuan yang dilemparkan dari surga&lt;br /&gt;sebab ia menjadi mata bagi kesedihanku; merangkum&lt;br /&gt;gempa waktu yang terjadi berulangkali dan disuling ke dalam nadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu biasanya aku bangun pada dinihari yang aneh&lt;br /&gt;tak ada yang menyeranta kesedihan tapi ia selalu datang&lt;br /&gt;disisipi kekecewaan yang paling marah. tentang mengapa&lt;br /&gt;perempuan mesti terbujuk. katakata&lt;br /&gt;;maka ia menjelajah bumi asing yang lesap dalam badai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memerah. aku memarah. aku hendak membunuh&lt;br /&gt;setiap puisi yang baru lahir dari pikiranmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengasihi setiapnya. tapi aku menyerah&lt;br /&gt;jasadku disalibkan pada harapanharapan.&lt;br /&gt;apakah kau dapat mempercayainya; kekasihmu yang memaku jasadmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3710661279553110285?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3710661279553110285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3710661279553110285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3710661279553110285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3710661279553110285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2010/03/jasadku-disalibkan-pada-harapanharapan.html' title='Jasadku Disalibkan Pada HarapanHarapan'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-33553216734500593</id><published>2010-01-02T15:16:00.003+07:00</published><updated>2010-01-02T15:29:52.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Cerita Pertama dari Cerita-Cerita yang Terbuat Dari Kenangan dan Khayalan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengingat kau duduk di sebelahku suatu sore  di pantai sambil mengupaskan biji-biji kelengkeng. Yang terjadi sepanjang sore itu tidak manis seperti biji-biji kelengkeng. Itu adalah sore terakhir sebelum kau memilih jalan yang kau yakini, dan sebuah sore yang kucatat di dalam kode pin ATM-ku, agar aku tak pernah melupakannya. Aku memang tak pernah melupakannya. Aku mencampurnya dengan khayalan bahwa sore itu waktu berhenti pada saat kau berkata; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa mungkin aku bisa melepaskanmu?&lt;/span&gt; Lalu khayalanku membelokkan waktu kearah lain sebelum sampai pada kata-katamu ini; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jalan kita salah, kita harus berhenti di sini&lt;/span&gt;. Aku telah merekayasa kejadian itu di dalam kepalaku sehingga menjadi sebentuk kenangan indah yang tak pernah terjadi. Apakah waktu itu kau memandangku dengan penuh cinta tapi juga penuh luka? Apakah waktu itu kau mengepalkan tanganmu kuat-kuat dan meninju pasir? Apakah waktu itu kau bertanya sambil memukulkan kepalan ke dadamu ; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana rasanya di dalam sini jika kau benar-benar mencintai seseorang yang telah terikat dengan orang lain?&lt;/span&gt;.Apakah waktu itu kau berlari menjauh dariku karena tak mau mendengarku meneriakkan kesakitan dari dalam dadaku? Apakah waktu itu kau menyelimuti tubuhku yang menggigil dengan sweeter? Apakah waktu itu kau memelukku kuat-kuat sambil melihat matahari pelan-pelan terbenam? Apakah waktu itu sepanjang jalan pulang kau menggenggam tanganku dan tak melepasnya hingga kita sampai di belokan dekat rumahku? Apakah waktu itu sambil menggenggam tanganku, kau mencium bibirku kemudian mengatakan ;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku sayang kamu&lt;/span&gt; , lalu kau berpamitan pulang? Itu semua memang terjadi tapi kuhapus bagian-bagian yang membuatku tidak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kenyataan malam itu, setelah kau menghilang di belokan, aku menangis sampai tertidur. Pagi harinya, dan pagi hari-pagi hari berikutnya aku selalu terbangun dengan resah. Aku selalu merasa masih membaui parfummu pada pelukan yang terakhir dan merasakan jantungmu berdetak begitu dekat dengan jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah bertemu lagi. Aku masih selalu mengingatmu. Kuhidupkan semua kenangan tentangmu. Tetapi aku tak pernah mendatangi pantai itu atau tempat-tempat lain yang pernah kukunjungi denganmu. Aku tak punya keberanian. Khayalan-khayalanku akan membentur kenyataan di tempat-tempat itu. Dan pasti aku akan terluka lagi.&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                                                                                                                        &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cerita sangat pendek 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-33553216734500593?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/33553216734500593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=33553216734500593' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/33553216734500593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/33553216734500593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2010/01/cerita-pertama-dari-cerita-cerita-yang.html' title='Cerita Pertama dari Cerita-Cerita yang Terbuat Dari Kenangan dan Khayalan'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-4004361560371684737</id><published>2009-11-23T07:51:00.002+07:00</published><updated>2009-11-23T08:00:20.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Cerita Perempuan dan Bola-bola Mata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jatuh Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap mata perempuan itu dan mengatakan: Kau adalah perempuan paling dekat, bagi hatiku, bagi tubuhku. Suara gemuruh yang keluar dari jantung perempuan itu mengalahkan deru kereta api malam yang kutumpangi. Dari balik jendela kereta api, aku melihat mereka saling menatap. Perempuan itu telah jatuh cinta pada laki-laki yang kelak membunuhnya dengan menancapkan obeng tepat di bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata yang Retak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu pergi tetapi perempuan itu tetap mencintainya dan membiarkannya memasuki tidurnya di malam hari.Ia seperti perempuan yang diculik dan diperkosa sepanjang malam, dan tinggal mempunyai sedikit waktu untuk membaca tubuhnya sendiri. Orang-orang melihat bahwa  sudut-sudut matanya sudah retak dan merembeskan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perselingkuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pulang pukul dua belas malam itu, suaminya menemukan seorang lelaki telanjang di atas ranjang. Ia bertanya dengan marah: Kenapa lelaki ini ada di sini? Istrinya menjawab sambil membenahi gaun: Ia kedinginan di kuburan, aku jatuh cinta pada matanya yang terbuka di dalam peti mati, saat melayat pagi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata Pencuri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam aku merindukanmu. Foto dirimu yang ku-download dari jejaring maya dan kucetak sepuluh lembar, kupandangi sampai pada suatu ketika aku menemukan cahaya yang lain dari tatapan matamu dalam foto itu. Itu adalah tatapan mata yang sama dengan pada saat kucumbu kau habis-habisan di pinggir laut malam itu. Maka tengah malam aku datang ke tempat itu lagi. Aku menemukan bola matamu yang kemudian kumasukkan ke dalam stoples berisi formalin. Tengah malam di malam yang lain, aku mendapati acar bola mata itu menyorotku tajam, bertanya; mengapa.  Aku menjawab dengan penuh cinta:  Ini hukuman bagi pencuri, yang melihat dan mencuri jantungku. Aku mendedahkan dada di hadapan acar bola mata itu. Di tempat jantungku dulu berada ada sebuah  rongga hitam dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pencuri Mata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mencintai mata laki-laki itu. Ia mengambil pisau dapur ketika mereka selesai bercinta. Laki-laki itu terlalu pulas. Laki-laki itu terbangun dengan dua lubang berlumuran darah di wajahnya, sementara sepasang bola matanya menatap lurus kepadanya dari atas meja. Perempuan itu membasuh pisau berdarah di wastafel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggugah Selera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki memesan sepasang bola mata yang sudah dikupas sebagai hidangan pembuka sambil menunggu pacarnya melentikkan bulu mata di toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata yang Mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari aku meneleponmu. Tanpa nama. Tanpa nomor. Tanpa suara. Aku kangen mendengarmu. Aku tak membutuhkan percakapan panjang. Setelah mendengar kau menyapa ‘Halo’ aku akan mengakhiri telepon itu. Tapi kau hanya diam, sampai habis pulsaku. Pagi harinya aku mendengar tubuhku ditemukan mati di bak mandi sambil memeluk telepon genggam. Mata matiku melihat kau terbang mengejek di langit-langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Mencintai  Kedua Bola Matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meneleponmu lagi dari kuburan. Tanpa nama. Tanpa nomor. Dengan suara: Aku mencintai kedua bola matamu. Roh yang keluar dari tubuhku melihat kau mematikan telepon genggam sebelum memeluk tubuh perempuan yang melenguh di ranjangmu. Dalam lensa matamu, telepon genggam itu tiba-tiba terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paket Bola Mata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menerima sebuah paket pos berisi sepasang bola mata dan sebuah pesan: Kenakan sepasang bola mata ini dan datanglah ke jembatan malam nanti. Maka malam itu kau bersalin bola mata dan datang ke jembatan. Di sana seorang perempuan sudah menunggu. Tanpa berkata apa-apa ia terjun dari jembatan dan kau melihat kepalanya membentur batu di bawah. Bola matanya lepas dan menggelinding di atas batu sementara tubuhnya terbawa arus. Bola mata itu adalah bola mata yang dikirimkan padamu lewat pos siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenang-kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang ke stasiun dan menyerahkan sepasang bola matanya sebagai kenang-kenangan. Saat itu aku teringat sepasang bola mataku yang kutinggalkan untukmu dan mungkin sudah kau buang ke selokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keruh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bola mataku aku menyimpan semua detil tubuhmu. Di dalam bola mataku aku menyimpan semua kejadian denganmu. Di dalam bola mataku aku menyimpan sepuluh ribu kata-katamu tentang harapan dan cinta. Di dalam bola mataku aku menyimpan sepuluh ribu kubik air mata ketika kau menyuruhku pergi. Bola mataku menjadi keruh dan penuh seperti sup. Ketika kelak kita berpapasan, kau mungkin tak mengenaliku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehendak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa kelak yang akan memiliki bola mata laki-laki itu, tapi perempuan itu berharap yang kelak memilikinya akan berpikir untuk menjualnya. Ia telah menabung setiap hari sejak perkenalannya dengan mata laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bola Mata di Dalam Mug&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perempuan itu mencungkil bola matanya sendiri kemudian meletakkannya di dalam mug pemberian kekasihnya. Bola mata itu terjaga dengan aman selama beberapa tahun sebelum tiba-tiba mug itu retak. Dari retakannya merembes air mata yang berubah menjadi darah. Perempuan itu sekarang menjadi buta dan sakit-sakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata yang Menunggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu ingat, kau selalu menyentuh pipi di bawah kelopak matanya setiap kali kalian selesai bercumbu, dan setiap kali kalian harus berpisah untuk bertemu di hari yang lain. Perempuan itu bunuh diri sebab kau tak melakukannya untuk terakhir kali ketika kalian harus berpisah untuk selamanya. Ia mewariskan sepasang bola mata yang selalu kuputar di pemutar compact disk. Di sana bola matanya menunggumu memberikan sebuah sentuhan perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Telepon Tengah Malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suatu malam kau menerima telepon tanpa nama, tanpa nomor dan tanpa suara, berkatalah sesuatu walaupun sapaan singkat. Mungkin itu roh-ku yang  meneleponmu dari kuburan. Aku sudah membungkus bola mataku di dalam plastik kedap udara. Aku membuangnya di dekat cungkup sebab aku tak mau menangis lagi. Ingat ya, bersuaralah pada telepon malam-malam tanpa nama tanpa nomor tanpa suara itu. Saat itu, roh-ku barangkali sedang sakit dan sangat merindukanmu; merindukan mendengar suaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam kereta, aku melihat bola mata pecah di jendela. Seorang perempuan tertabrak dan terseret kereta yang kutumpangi. Orang-orang bilang ia sedang melamun di rel kereta api, mengenangkan kekasihnya yang pergi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Frustasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menikah dengan laki-laki lain, tetapi tak pernah benar-benar meninggalkan laki-laki yang memberinya sepasang bola mata. Dengan bola mata itu ia bisa melihat cinta. Suatu hari satu dari kedua bola mata itu tercecer. Sejak saat itu ia melihat cinta sebagai raksasa hitam yang selalu mengejar dan ingin mencekiknya. Suatu malam, suaminya menemukan ia mati dengan satu tangan mencekik lehernya sendiri dan tangan yang lain menggenggam erat sebuah bola mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelum Pergi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah kalau kau tak mencintaiku lagi tapi tinggalkan kedua bola matamu. Aku akan datang subuh nanti ke ranjangmu dan meminta bola matamu sebelum melihat matahari. Aku telah merasakan helaian keringatmu dan bau tubuhmu dan air kehidupan dari engkau, tapi aku belum mencicip kedua bola matamu. Aku sangat menginginkannya seperti kanak-kanak menginginkan lollipop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu telah pergi. Tetapi perempuan itu memiliki seribu bola mata yang akan membayangi kehidupan laki-laki itu. Laki-laki itu akan belajar sesuatu tentang cinta, sebelum perempuan itu memutuskan memasukkan semua bola mata ke dalam kardus, dan membuangnya ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seribu bola mata ditandasnya, akhirnya ia sadar, perempuan yang menyuguhkan bola-bola mata itu kepadanya, yang paling bersungguh-sungguh mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata yang Menangis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberi arsenik pada minuman perempuan itu, lalu melenggang pergi. Malam harinya sepasang bola mata yang menangis telah menenggelamkan kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan yang Sekarat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sekarat. Dan bola-bola mata di sekelilingnya hanya menatap kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Janji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jera meminjam bola matamu karena mereka menguras air mataku sampai menjadi kemarau. Aku akan mengirimkannya kembali kepadamu lewat pos bersama sebuah buku. Kau tunggu saja bulan depan di teras rumahmu, di dekat batang-batang muda euphorbia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;22 November 2009; tersesat di belantara bola mata yang menghakimi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-4004361560371684737?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/4004361560371684737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=4004361560371684737' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4004361560371684737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4004361560371684737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/11/cerita-perempuan-dan-bola-bola-mata.html' title='Cerita Perempuan dan Bola-bola Mata'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5965059781693331346</id><published>2009-11-18T16:17:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T16:19:30.534+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Siapa Yang Benar-benar Mencintaimu?</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Siapa orang yang benar-benar mencintai anda? Suatu hari saya berselancar dan menemukan artikel seperti yang saya kutip di bawah ini. Just for fun….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu tidak pernah mampu memberikan alasan kenapa dia mencintai kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu selalu ingin tahu tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, dia ingin tahu semua kegiatan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan sms seperti ‘selamat pagi‘, ‘selamat tidur‘, ‘take care’ dan lain-lain, walaupun kamu tidak membalasnya, karena dengan itu dia menyatakan cintanya dalam cara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu merayakan hari ulang tahun dan kamu tidak mengundangnya, dia tetap mengingat hari ulang tahunmu.Dia mungkin akan menelepon atau mengirim sms untuk mengucapkan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah melupakannya, karena saat yang dilaluinya bersama kamu adalah sesuatu yang berharga untuknya. Dan saat ia mengingatnya, matanya pasti berkaca, karena saat itu tidak bisa selalu berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu selalu mengingat setiap kata-kata yang kamu ucapkan, bahkan mungkin kata-kata yang kamu sendiri lupa pernah mengungkapkannya. Karena dia menempatkan kata-katamu di hatinya. Berapa banyak kata-kata penuh harapan yang kamu ucapkan padanya, dan akhirnya kamu musnahkan? Pasti kamu telah lupa, tetapi tidak bagi orang yang mencintai kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu akan belajar menggemari lagu-lagu kegemaran kamu, dia ingin tahu apa kegemaran kamu - kesukaan kamu kesukaannya juga - walaupun sukar meminati kesukaan kamu, tapi akhirnya dia bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kali terakhir kalian bertemu, kamu mungkin sedang flu, atau batuk-batuk, dia akan mengirim sms atau menelepon untuk bertanya keadaan kamu - karena dia bimbangkan tentang kamu, peduli tentang kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu mengatakan akan menghadapi ujian, dia akan menanyakan kapan ujian itu berlangsung, dan pada saat harinya tiba dia akan mengirimkan sms untuk memberi semangat kepada kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu adalah sesuatu yang biasa, tetapi baginya barang itu sangat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat, ketika sedang berbicara di telepon dengan kamu, sehingga kamu menjadi bingung. Sebenarnya saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah menyejukkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekat kamu dan ingin menghabiskan hari-harinya hanya dengan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suatu saat kamu harus pindah ke daerah lain, dia akan memberikan nasihat agar kamu waspada dengan lingkungan sekitar yang mungkin membawa pengaruh buruk kepada kamu. Dan jauh dihatinya dia benar-benar takut kehilangan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal yang aneh seperti menelepon kamu 100 kali dalam sehari. Atau mengejutkan kamu di tengah malam dengan mengirim sms. Sebenarnya ketika itu dia sedang memikirkan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai kamu kadang-kadang merindukan kamu dan melakukan hal-hal yang membuat kamu sakit kepala. Namun ketika kamu mengatakan tindakannya itu membuat kamu terganggu, dia akan meminta maaf dan tidak akan melakukannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dengan sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia. Bahkan dia begitu gembira karena dapat membantu kamu. Dia tidak pernah mengelak dari melaksanaan permintaanmu walaupun sesulit apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu melihat handphonenya maka nama kamu akan menghiasi sebagian besar inboxnya. Dia masih menyimpan sms-sms dari kamu walaupun kamu mengirim berbulan-bulan yang lalu. Dia juga menyimpan email-email dari kamu dan segala pemberian kamu menjadi benda-benda berharga buatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika kamu coba menjauhkan diri darinya atau memberi reaksi menolak, dia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupan kamu, walaupun hal itu membunuh hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan, dia akan ada menunggu kamu karena sebenarnya dia tak pernah mencari orang lain. Dia selalu menunggu kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang begitu mencintaimu, tidak pernah memaksa kamu walaupun hatinya meronta, dan saat kamu meminta dia berlalu, dia akan pergi , karena dia benar-benar mengerti apa itu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tanyakan pada diri sendiri, siapa yang benar-benar mencintai anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5965059781693331346?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5965059781693331346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5965059781693331346' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5965059781693331346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5965059781693331346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/11/siapa-yang-benar-benar-mencintaimu.html' title='Siapa Yang Benar-benar Mencintaimu?'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-616193694011408693</id><published>2009-11-13T19:47:00.002+07:00</published><updated>2009-11-13T19:52:16.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Maafkan Aku, Aku Merindukan Setiap Inci Tubuhmu</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya&lt;br /&gt;sebuah petualangan tercatat&lt;br /&gt;dalam kumpulan&lt;br /&gt;yang dibukukan oleh waktu; seekor kunang-kunang&lt;br /&gt;terbang mengitar berjamjam&lt;br /&gt;sebelum sekarat, jatuh di atas kayu mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku merindukan setiap inci tubuhmu&lt;br /&gt;dalam kesakitan panjang. aku telah usai&lt;br /&gt;dengan petualanganpetualangan&lt;br /&gt;yang kucatat menjadi kitab perjumpaan dan perpisahan&lt;br /&gt;;terbuka di tengah-tengah. tapi tak dapat&lt;br /&gt;kau baca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hawa terbujukkah yang salah,&lt;br /&gt;maka jarak seperti mula ia dan adam diturunkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuan di permulaan malam&lt;br /&gt;mengaji kesedihan. pada sekumpulan semut bernyanyi&lt;br /&gt;pujipujian.  di bawah tikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggal kerumun hitam. mengambang di genangan air mata&lt;br /&gt;saat aku tiba subuhsubuh itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-616193694011408693?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/616193694011408693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=616193694011408693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/616193694011408693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/616193694011408693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/11/maafkan-aku-aku-merindukan-setiap-inci.html' title='Maafkan Aku, Aku Merindukan Setiap Inci Tubuhmu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3277148622981529537</id><published>2009-11-13T19:37:00.006+07:00</published><updated>2009-11-13T19:43:52.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Short...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TWMnJLnI/AAAAAAAAAS8/1msgFbKvwXM/s1600-h/a1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TWMnJLnI/AAAAAAAAAS8/1msgFbKvwXM/s400/a1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403566768722095730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TeY5JR7I/AAAAAAAAATE/h-uN8acwodU/s1600-h/a2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TeY5JR7I/AAAAAAAAATE/h-uN8acwodU/s400/a2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403566909457778610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TqKPxeVI/AAAAAAAAATM/_yzmiUC1A6E/s1600-h/a3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TqKPxeVI/AAAAAAAAATM/_yzmiUC1A6E/s400/a3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403567111684585810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1T1if4IHI/AAAAAAAAATU/jjMlmTKxOmk/s1600-h/a4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1T1if4IHI/AAAAAAAAATU/jjMlmTKxOmk/s400/a4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403567307173142642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1T-tlYhuI/AAAAAAAAATc/OpKi9gOBhmM/s1600-h/a5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1T-tlYhuI/AAAAAAAAATc/OpKi9gOBhmM/s400/a5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403567464767850210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1UDzbi7tI/AAAAAAAAATk/79D0WEQCJpc/s1600-h/a6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1UDzbi7tI/AAAAAAAAATk/79D0WEQCJpc/s400/a6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403567552236547794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3277148622981529537?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3277148622981529537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3277148622981529537' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3277148622981529537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3277148622981529537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/11/short.html' title='Short...'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sv1TWMnJLnI/AAAAAAAAAS8/1msgFbKvwXM/s72-c/a1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1835270262045351095</id><published>2009-09-30T22:13:00.001+07:00</published><updated>2009-10-01T19:23:07.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D (3)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It's the first thing you see as you open your eyes. The last thing you say as your saying goodbye. Something inside you is crying and driving you on…(Something Inside)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat di depan mata kepalaku sendiri , cinta dengan hebat telah mengubah kehidupan seseorang. Perubahan itu bukanlah terjadi semata pada apa yang dapat dilihat oleh indera, terkadang perubahan yang terjadi malah sama sekali tak dapat diindera oleh orang lain. Dan bersamaan dengan itu, untuk pertama kalinya pula dalam hidupku, aku menghabiskan malam dengan seorang perempuan. Bukan, bukan, jangan berpikiran negatif. Aku dan dia tidak melakukan apa-apa pada malam itu. Dan tak perlu bertanya siapa perempuan yang kumaksud. Aku telah dua kali bercerita tentangnya. Perempuan yang sama telah merebut sebuah sisi dari hatiku untuk peduli, untuk menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya hari demi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kami menjadi dekat sejak pertemuan kami yang kedua. Perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D itu masih tetap bercerita tentang orang yang sama dalam berbagai kesempatan. Pun pada malam yang panjang itu, ketika ia berbaring meringkuk di sofa warnet berbagi dengan dudukku, pada pukul setengah tiga pagi. Ia berkisah dalam gumam. Ia berkisah tentang warnet pada awalnya. Tetapi dapat ditebak kemana kisahnya akan berujung. D. Yang seolah melekat di otak dan tak dapat dia lepaskan. Aku hampir-hampir tak mampu menahan kesabaranku untuk bertanya siapa sebenarnya seorang yang dipanggilnya D itu. Seberapa hebatnyakah dia, seberapa sempurna, sampai seorang perempuan harus memilih jalan seperti yang ia tempuh. Tapi aku menahan diri tak bertanya sampai ia selesai berkisah. Dan ia tertidur. Lalu dalam igauan yang parah pada pukul setengah lima subuh, aku mendapatkannya. Aku mendapatkan sebuah nama yang lalu kucatat dalam ingatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah tiga dinihari itu kami memutuskan menghabiskan sisa malam di warnet. Ia telah kusarankan pulang ke rumah kostnya, tetapi ditolaknya dengan berbagai alasan. Maka di sanalah kami berakhir hingga matahari mulai menampakkan diri, menuntaskan satu paket akses internet selama lima jam. Sebelumnya, kami menjelajah kota sejak lepas isya. Bermula dari sebuah balasan yang kukirim atas smsnya yang bertanya apa rencanaku malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ad ide mw kmn. Tp ak mw kluar mlm ni. Bgadang x.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak ak. How bout ke alun2 kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utara or selatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Both. Pick me up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjemputnya pada pukul tujuh malam. Ia membiarkan rambutnya tergerai. Basah. Tentunya habis mandi. Malam itu dia mengenakan t-shirt hitam yang makin membentuk siluet kurus tubuhnya. Wajahnya hampir selalu tampak pucat. Ia jarang berbedak. Ketika aku tiba, ia sudah berdiri di muka teras rumah kosnya. Bergegas menyambar jaket. Lalu sesaat kemudian kami sudah berkendara di jalan raya. Malam itu terang meskipun bulan hanya separuh. Ia mengajakku makan di warung lesehan yang terkenal dengan sambal mentahnya yang enak. Ia makan seperti orang yang benar-benar kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sering lupa makan. Jadi sekalinya makan biasanya langsung kemaruk.” Ia tertawa. Aku tersenyum dan bilang aku suka melihatnya makan seperti itu. Sesungguhnya aku suka karena saat itu aku melihatnya tertawa tanpa beban. Lepas makan, aku mengarahkan sepeda motor ke alun-alun utara kota. Musim liburan begini, alun-alun utara yang pada hari biasa saja sudah selalu ramai semakin terlihat sesak malam itu. Di beberapa sudut terlihat orang berkumpul. Melihat baju-baju yang dijual pedagang di satu pojok, atau melihat penjual kembang api dan mainan-mainan berdemonstrasi di sudut yang lain. Ada pertunjukan kesenian rakyat malam itu, di sebuah kerumunan yang lain. Tanpa bermusyawarah, kami langsung tahu tujuan kami. Perempuan seperti dia, sedikit banyak aku telah mengenalnya, lebih menyukai kesenian rakyat ketimbang berburu baju-baju yang dijual di sana. (Aku mengetahuinya sebab ia sering sekali mengungkapkannya keinginannya untuk berkunjung ke bangunan-bangunan semacam keraton atau pemandian putri dan selir-selir. Suatu hari aku akan memuaskan keinginannya itu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk diam di boncengan sepeda motorku. Pukul sepuluh malam kesenian itu usai dan kami masih tetap di sana. Rupanya para penjual kembang api telah kelarisan. Malam itu kami melihat puluhan kembang api dibakar dan berpijaran di angkasa, di atas alun-alun utara kota. Ada binar kesenangan seperti di mata anak-anak saat aku mendapati ia menatap ke angkasa yang berpendaran. Entah siapa yang memulai, kami bergenggaman tangan di bawah pijaran kembang-kembang api itu. Seperti sebuah adegan dalam drama Korea. Orang masih ramai di sana, membakar kembang-kembang api yang lain saat pada sebelas malam ia mengajakku berpindah. Sepasang muda-mudi berpelukan dan berciuman tepat di depan mata membuatnya tak nyaman. Ia bergumam bahwa di kota ini kebebasan sudah mencapai titik yang harus diperhatikan. Tak mau membuatnya lebih jengah, aku membawanya meninggalkan alun-alun utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alun-alun Selatan kota. Ternyata tengah malam di sana lebih ramai. Setelah memarkir sepeda motor, ia menyeretku ke sebuah sudut dan kami duduk bersisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang kau harapkan ada bersamamu saat ini?” Ia bertanya. Aku tiba-tiba teringat kekasihku. Lalu aku menyebutkan namanya. Ia mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak menanyaiku?” . Ia bertanya lagi. Tangannya memilin-milin bunga rumput yang basah oleh embun yang mulai turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak mau bertanya untuk mendapatkan jawaban yang sudah kuketahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus ia terdiam. Matanya memandang orang-orang, sepasang kekasih, ayah dan anak, siapa saja yang melintas di depan kami mengayuh sepeda tandem sewaan di dalam alun-alun sambil tertawa-tawa. Ternyata diamnya berlanjut. Ia malah terlihat melamun. Akhirnya aku memecahkannya, kebisuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau kesulitan melupakannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri heran. Aku berpikir aku sudah melupakannya. Kau ingat kan kejadian yang kuceritakan itu?”. Ya. Aku mengingatnya. Ia meneleponku hanya untuk menceritakan bahwa ia bermimpi tentang seorang yang dipanggilnya D dan dalam mimpi itu ada hal yang membuatnya sedih kemudian menangis. Ia tiba-tiba terbangun ketika merasa wajahnya basah. Ia bermimpi, ia menangis dalam mimpi itu, dan yang terjadi pada saat itu dalam tidurnya, air matanya benar-benar mengalir. Ia terjaga dengan heran sebab tak pernah ia mengalami hal itu sebelumnya. Sepanjang hari itu pun ia tak memikirkan apa-apa tentang seorang dalam mimpinya, dan telah beberapa minggu ia sanggup tak menangis. Ia menekannya, ia selalu mengalihkannya pada hal lain jika kesedihan itu mendatanginya. Tetapi air matanya mencari jalan sendiri. Dalam tidur lelap dan bermimpi, air matanya membebaskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta banyak membawa keajaiban. Permusuhan dapat dilerai, orang dapat berubah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya, dunia dapat berubah, arah angin dapat dibelokkan. Ajaib sekali ada hal-hal terjadi di luar jangkauan pikiran kita. Ajaib sekali cintaku pada kekasihku telah membawaku sejauh ini, menemukan sosok perempuan kalut di pantai itu, mendengarnya bercerita juga tentang cinta, melihatnya demikian bahagia namun juga demikian tersiksa mengalami cinta, aku kemudian memahami bahwa aku pun berubah menjadi lebih kuat dan tegar karena cinta, cinta pada dia yang lebih dulu meninggalkanku dari dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bergeser ke tengah alun-alun Selatan ketika jam telah menunjuk pukul satu malam. Masih banyak orang di sana, mencoba-coba kemampuan melintas tepat di antara dua pohon beringin besar dengan mata tertutup. Ada kepercayaan setempat bahwa hanya orang terpilih yang mampu melintasinya tanpa berbelok arah. Kami berdiri saja. Melihat sekian banyak orang melangkah ke berbagai arah yang menurut mereka lurus ke depan. Perempuan itu tak mau mencoba. Ia enggan. Akhirnya kami melintas di antara kedua pohon beringin besar itu tanpa penutup mata. Tentu saja kami sukses. Kami bergerak lurus dan berakhir di sebuah warung tenda. Aku memesan segelas jahe susu sementara ia memilih segelas jahe hangat. Saat itu pukul setengah dua dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manis?” Aku sedang mengaduk gelasku saat ia bertanya. Aku menyeruput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia suka jahe susu, tapi tak suka yang manis. Tadi, aku hampir saja mengingatkan penjualnya untuk memberi tak banyak gula, lalu aku ingat aku sedang denganmu.” Ia tertawa. Tapi getir. Aku menatapnya. Kadang-kadang, aku iba padanya. Ia cantik. Ia menarik. Ia cerdas dan bekerja di sebuah bidang yang kebanyakan dipegang kaum adam. Ia satu-satunya perempuan di sana dan mampu menjalani pekerjaan itu. Aku iba karena ia mempunyai banyak pilihan tetapi terjebak di tempat. Tak kemana-mana, tak membuka mata untuk melihat. Malah, ia memilih cara-cara itu. Masih ingat kan tentang konsep cinta sejati yang sudah bergeser itu? Ia memang, kulihat, menikmati kebersamaannya dengan macam-macam orang akhir-akhir ini. Mereka yang membawa cinta semu seperti yang dia bilang dulu. Aku iba, sebab ia sedang merendahkan dirinya sendiri. Aku tahu ia tak melacurkan apa-apa dari raganya, tetapi ia sedang melacurkan harga dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D, siapapun kau, di manapun kau, mungkin kau pun bertanya apakah aku termasuk dalam jajaran cinta yang semu itu. Aku tak tahu apa posisiku dalam kehidupannya. Perempuan yang memanggilmu D itu seolah telah menjadi orang terdekatku. Padanya aku membaca cinta, kesungguhan dan luka. Darinya aku mendapat cahaya untuk menemukan jalan, untuk membuang kesedihanku dan menggantinya dengan harapan-harapan baru akan masa depan. Ajaib. Padahal ia masih jalan di tempat, entah kapan keluar dari masalahnya sendiri. Aku merasa ia demikian dekat, demikian dekat. Kau pun mungkin pernah merasakan ia begitu dekat denganmu, dan sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah menyangkal. Perempuan itu pernah berkisah pada waktu yang lain, tentang malam kalian melihat purnama di tepian rel kereta api di mana di hadapan membentang persawahan. Mungkin kau lupa, maka aku mengingatkanmu. Saat itu kau berkata padanya bahwa perempuan yang memanggilmu D itu adalah sosok perempuan terdekat denganmu, dalam kehidupanmu, setelah ibumu. Kau mungkin tak tahu ia begitu bahagia saat mengingat itu. Ia bertanya di ujung kebahagiaannya, masihkah tempat itu untuknya ataukah ia telah tergantikan. Aku tak dapat menjawab, D, sebab aku tak tahu. Tapi aku menghiburnya bahwa tempat seseorang di dalam hati tak akan tergantikan oleh orang lain. Seperti ruang maya, hati memiliki jumlah ruang tak berbatas untuk meletakkan setiap orang yang masuk ke ruang-ruang tersendiri tanpa harus menyisihkan seseorang. Mungkin, D, kau masih meletakkannya di hatimu meskipun di sudut yang jauh. Mungkin. Aku tak tahu tentang itu. Tetapi mungkin pula kau berusaha menguncinya di sebuah ruangan yang tak dijangkau. Mungkin kau berusaha menghapusnya dengan menghubungi lagi bekas kekasihmu, membangun kontak dengannya, lalu membangun lagi ruangan baru untuk bekas kekasihmu, demi benar-benar menghapus perempuan yang memanggilmu D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang bahwa ia merasakannya, D. Ia tak tahu darimana ia tahu tetapi ada suara di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, kadang-kadang aku ingin marah. Mengapa ada orang yang mencintai dan tak mendapatkan balasan yang indah dari rasa cintanya? Apa yang telah dilakukannya di masa lalu sehingga alam menghukumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aku bukan orang baik’. Ia selalu berkata begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dengan segelas jahe hangatnya, ia memantik rokok. Semalaman ini, baru saat ini ia memantik rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah mengalami bahagia yang hebat saat dengannya. Aku berterimakasih untuk itu. Bahagia yang paling puncak dibanding bahagia-bahagiaku yang lain. Aku pernah dapat mencintai dengan keseluruhan jiwa ragaku, dengan kesediaan untuk melakukan apapun, dan itu jarang terjadi padaku. Aku berterimakasih aku pernah memiliki rasa cinta yang hebat dan kuat. Meskipun segalanya berakhir tak seperti yang aku kehendaki, aku tetap berterimakasih. Tanpanya, aku tak akan menjadi diriku yang sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar. Itu yang harus kau lewati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang, aku merasa mendendam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau ingin lakukan saat begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak ingin mengenalnya lagi dan tak berharap berjumpa. Namun jika waktu membiarkanku berjumpa dengannya aku ingin melakukan satu hal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menampar hingga bibirnya pecah dan berdarah, untuk semua yang telah kualami dan kurasakan hingga hari ini, meskipun itu tak akan pernah sebanding.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sangat membencinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salah. Aku mencintainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuang puntung rokok ke jalanan. Digamitnya lenganku. Pukul dua lebih kami meninggalkan area alun-alun selatan yang mulai sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kuceritakan di awal, aku telah menyarankannya pulang ke rumah kost, tapi ia beralasan. Matanya mulai memerah dan ia mulai menggigil. Sepanjang jalan kota kami yang mulai beralih diisi para pedagang yang menuju pasar untuk lebih gasik menggelar dagangannya, dinihari itu, ia memeluk pinggangku. Aku merasakan gigil tubuhnya. Aku menarik lengannya agar lebih mendekap tubuhku, dan kujalankan sepeda motor pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warnet, ia membuka situs jejaring sosial dan membalas beberapa pesan. Lalu meringkuk berbagi sofa dengan dudukku. Aku membuka email sambil mendengar gumamnya, masih tentang D. Sampai ia mengigau parah subuh itu, aku masih duduk menjagai tidurnya, sesekali kupandangi wajahnya yang resah. Aku menyimpan igauan itu darinya. Hanya sebuah nama. Yang kucatat dalam hati. Kelak, aku akan membukanya jika waktunya tiba. Barangkali nama itu adalah D yang selalu diresahkannya atau mungkin orang lain. Perempuan itu meskipun sangat dekat denganku saat ini, ia masih demikian misterius. Kadang, aku tak mengerti mengapa ada orang yang bisa meninggalkan dia. Bukankah kemisteriusan itu adalah daya tarik? Ia hitam, gelap, penuh tanda tanya. Ia telah membuatku merasa ingin masuk lebih jauh untuk mengenalinya dan mengerti alasan pilihan-pilihan yang kadang berada di luar jalur nalarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami di warnet sampai pagi, menghabiskan satu paket akses internet selama lima jam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menghabiskan penuh satu malam dengan seorang perempuan, bukan kekasihku, hanya seorang yang pernah kukenal di sebuah pantai, yang menunjukkan padaku kekuatan dan keganasan cinta dalam mengubah kehidupan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I’ve been sitting, watching life pass from the sidelines. Been waiting for a dream to seep in through my blinds. I wondered what might happen if I left this all behind. Would the wind be at my back, could I get you off my mind, this time....(This Time)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;29 September 2009, 22.56, 26A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Something Inside &amp;amp; This Time, taken from August Rush OST, all by Jonathan Rhys Meyer )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1835270262045351095?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1835270262045351095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1835270262045351095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1835270262045351095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1835270262045351095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/09/perempuan-yang-bercerita-tentang_30.html' title='Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D (3)'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-9200679253308824135</id><published>2009-09-15T17:15:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T17:19:35.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Confessions of A Broken Heart</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;September mengingatkanku tentang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sebuah hari sebelum pertengahan bulan&lt;/span&gt;. Hei, aku sedang sakit. Sakit dada. Sakit jantung. Sakit ingatan. Ingatan tentang hari sebelum pertengahan bulan telah menambah gemetar dan keranyas di persendian. Kau mau membuat aku sekarat? Aku sudah dalam kesekaratan tingkat menengah beberapa bulan terakhir ini. Seperti kanker, jika tak segera ditangani stadiumku akan meningkat dengan cepat apalagi ditunjang gaya hidup tidak sehat yang sudah kujalani sejak hidupku menjadi semakin tidak teratur. Tak ada yang membangunkanku dengan telepon di pagi hari, tak ada yang mengingatkanku untuk makan dan menyuruhku mandi. Aku yang sejak semula sudah memiliki bakat hidup tidak teratur bagai memperoleh angin neraka; hidupku kacau balau. Waktu simpang siur. Jadwal tumpang tindih sehingga makan dan mandi menjadi prioritas kesekian. Hidupku berlari di antara program-program komputer, lelaki-lelaki minus status (dalam kehidupanku), dan jadwal-jadwal kegiatan sastra yang lebih sering tak sempat kuhadiri lagi. Hidup memaksa untuk memiliki sebuah pilihan. Dan aku memaksa untuk mengambil paling tidak dua pilihan sebab tak mungkin mengambil semua pilihan yang disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hari sebelum pertengahan bulan September membawaku memasuki sebuah lorong waktu. Ada aku. Ada dia yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan bulan itu di dalam dokumen-dokumen pribadinya. Dan ada kejadian-kejadian yang terekam dalam memori otak. Senja, pagi, malam. Seribu petualangan di alam, seribu percumbuan di bawah rembulan. Juga seribu pertengkaran yang terjadi di dalam batin, antara aku dan diriku, juga pertengkaran sunyi antara dia dan dirinya sendiri, terkait dengan seribu petualangan dan seribu percumbuan itu. Sebab karenanya seribu larangan telah dilanggar, seribu norma telah diabaikan, dan seribu perjanjian pernah dibuat. Pernah dibuat. Tetapi tak ada realisasi. Seperti sebuah mimpi yang adalah bunga tidur; angan-angan pernah dilepas dan diulur tinggi, lalu angin memberat dan makin memberat, memutus apa yang terulur tinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, aku sedang sakit. Aku ingin membaringkan tubuhku di ruang yang tenang dan tak ada cahaya yang menyilaukan. Aku ingin mengeluarkan semua suara bising yang berpusar, berkejar dan membelit-belit itu. Semua suara yang mengingatkan aku; alarm tentang sesuatu di sebuah hari sebelum pertengahan bulan September. Aku ingin beranjak dan mematikan alarm itu (rasanya aku sudah mematikannya sejak bulan Agustus). Tetapi hari ini alarm itu berdentang keras memekak di jantungku. Padahal jantungku sedang sakit. Dadaku sedang sakit. Dan ingatanku sedang sakit. Maka aku tambah sakit. Detak jantungku semakin cepat , dadaku panas. Ingatanku mau meledak. Aku telah menyediakan sebaskom es untuk mengompres. Aku mengompres sendirian. Kubasahi sapu tangan dari salah satu lelaki-ku, kuperas lalu kutempelkan di dadaku. Alarm itu tidak mati-mati. Ada bunyi sirine yang terus menerus di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersiksa. Sungguh tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meraba-raba dinding. Mencari tombol untuk mematikan suara itu. Tetapi tanganku tak menjangkau apa-apa. Aku sedang sakit. Aku tidak sanggup menemukan di bagian mana dalam otakku alarm itu terletak. Dia yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan bulan September bagaikan ideologi laten yang bersembunyi di dalam kepalaku. Tidak hilang. Ada. Dan muncul pada saat paling lemahku, paling sepiku, paling sendiriku dan paling sedihku. Dulu, ia yang pertama muncul dalam kepala di saat sedang bahagiaku. Tetapi beberapa bulan ini aku me-reset semua sehingga bukan dia yang muncul di kepala pada saat-saat bahagiaku. Bukan dia, bukan siapa-siapa. Aku membiarkannya kosong saja. Aku sudah tak perlu lagi membagi segala bahagiaku kepadanya sebab tak bakal ia peduli. Cerita- cerita kehidupanku hanya akan jadi angin lalu saja di telinganya. Melintas dan hilang. Orang-orang hanya peduli pada siapa yang mengambil peran besar di dalam hati dan kehidupan. Aku tidak mengambil peran yang besar, aku tidak memiliki ruang yang disediakan olehnya di dalam hati dan kehidupan, maka tahu dirilah jalan satu-satunya. Tahu diri adalah pilihan yang sulit. Tahu diri juga dapat berarti harus merelakan sesuatu. Tahu diri juga dapat berarti mundur, dan kehilangan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah jarang muncul di kepala saat aku sedang bahagia. Tetapi masalah lain, ia justru sangat sering muncul saat aku sedang sedih. Ia adalah point kesedihan. Ia adalah momentum dimana aku tak sanggup mengatasi segala macam yang kurasakan dan kualami, dia adalah momentum hilangnya kontrol atas diriku sendiri. Dan, sekarang, mendekati hari-hari pertengahan September aku serasa dikekang dalam ruangan beton tanpa celah. Ruangan yang terbangun dari campuran kesedihan dan kenangan, kesakitan, kegagalan, keterpurukan. Selalu saja perasaan gagal dan terpuruk mengikuti segala bentuk ingatan tentang dia yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan bulan September. Gagal. Dan terpuruk. Betapa tidak nyamannya perasaan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, kau, kau yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan September, kenapa tak membiarkan aku duduk tenang dan tidur nyenyak? Aku masih berputar-putar dalam labirin sementara waktuku sudah habis. Aku masih berputar-putar mencari jalan untuk pergi dari sini. Ruangan ini galau, pucat, perih. Hei, kau, aku hanya ingin merasakan tempatmu yang tenang, tidurmu yang lelap dan mimpimu yang indah. Kau pasti bisa tertawa lepas sebab tak ada lagi yang merecoki hidupmu, tak ada lagi yang merecoki makanan di piringmu, tak ada lagi yang mengganggumu dengan sms-sms atau telepon di waktu-waktu istirahatmu. Kau pasti juga menghapus namaku dari daftar orang-orang yang pantas kau ajak bicara. Kau sudah terbebas. Tak merasa perlu untuk sekedar menyapaku atau bertanya apa kabar. Kau, yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan September, kau memang tak perlu menyapa. Aku menghalangi diriku sendiri untuk mengenalmu lagi. Aku membuat halang rintang di depanku jika itu adalah tentang mengaksesmu, segala informasi atau jalan yang mengarah kepada dirimu. Aku telah dengan kesadaran dan keinginanku sendiri menutup semua celah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah aku dapat melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari, aku masih terbangun dengan resah setelah tidur malam yang selalu terlalu larut dan mendekati dinihari. Aku masih menatap hari dengan nanar. Aku masih diganggu denging dan suara beep di kepalaku yang mengingatkanku tentang dia yang memiliki sebuah hari sebelum pertengahan September. Aku masih diganggu bunyi beep di latar belakang dalam hari-hariku yang sangat padat. Aku masih diingatkan akan sebuah hari sebelum pertengahan September. Alarm sialan itu seperti tak mau patuh dengan perintah berhenti yang kuteriakkan hingga suaraku parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sudah tak bernama. Tak terekam. Tak memiliki sesuatu yang patut diingat. Maka biarkan aku. Biarkan aku sembuh dan dapat berlari mengejar apa yang jadi impian. Biarkan aku sembuh dan kembali normal, detak jantungku normal, dadaku tidak sakit, ingatanku selalu mengingat yang bahagia. Aku sudah memberi terlalu banyak, aku ingin berhenti memberi. Memberi cinta. Memberi kasih. Aku mau membanting alarm itu seandainya kutemukan dimana letaknya. Aku akan membiarkannya jatuh berkeping-keping dan mati. Benar-benar mati. Segala yang mengingatkanku tentang dia hanya membawaku pada muara yang sama. Aku tambah sakit. Bertumpuk-tumpuk. Maka aku tak ingin mengenalnya. Tidak. Itu sangat menyakitkan. Itu berat. Itu juga menakutkan. Takut aku tak lebih kuat dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, aku menutup telingaku dengan bantal. Aku membenam kuat-kuat di tempat tidur. Aku tak mau mendengar suara beep selirih apapun. Aku tak mau mengingat! Aku mau tepat di sebuah hari sebelum pertengahan September aku telah menemukan letak alarm sialan itu dan membuangnya jauh-jauh ke jalan raya, biar dilindas mobil-mobil yang lewat. Sampai remuk. Sampai lumat. Tak berbentuk. Seperti yang terjadi pada jantungku beberapa bulan yang lalu, dan masih menyisakan nganga yang menetes darah. Perih, tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(seperti yang dikisahkan pelan-pelan kepadaku, waktu demi waktu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-9200679253308824135?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/9200679253308824135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=9200679253308824135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/9200679253308824135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/9200679253308824135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/09/confessions-of-broken-heart.html' title='Confessions of A Broken Heart'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6573915601286234956</id><published>2009-09-10T19:15:00.004+07:00</published><updated>2009-09-10T19:53:50.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D (2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Semalam perempuan itu mengirimiku sms. Ini adalah sms kesekian kali setelah pertemuan kami di pantai waktu itu. Aku telah hampir melupakan wajahnya, tetapi aku tak pernah melupakan tatapan mata yang mampu membuatku kembali dari sebuah perjalanan tanpa ujung yang melelahkan. Aku telah kembali menjadi diriku yang utuh, tetap dengan kenangan menyakitkan itu, tetapi aku tak lagi merasakannya sebagai sebuah beban. Kenangan adalah sesuatu yang tak perlu diperlakukan berlebihan. Dengan sendirinya, dalam porsi yang cukup ia mengambil bagian dalam kehidupan kita. Kita akan menyimpannya dalam lipatan limbik, ia akan tetap di sana, diam, sampai kapanpun. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;Ak membuatmu terinspirasi utk lbh mudah melewati kesedihanmu. Mengapa hal yang sama malah tdk kualami?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kenangan membutuhkan waktu untuk mengikhlaskan dirinya disimpan. Kenangan seperti segala sesuatu yang ingin selalu berada di puncak, tampak, terlihat dan tak mau disembunyikan. Kenangan juga memiliki kekuatan untuk menguasai. Kenangan, bersama-sama dengan waktu, pada saat tertentu, akan merampas kekinian dan melemparkan kita ke dalam lorong gelap masa lalu. Yang paling menyakitkan adalah jika kita tak mampu mengatasi kesedihan yang timbul; sebab dari berbagai kasus kenangan lebih kuat menghadirkan kesedihan ketimbang kebahagiaan. Jujurlah, sepanjang hidup sampai hari ini, berapa banyak kenangan yang membuat sedih? Bandingkan dengan kenangan yang membuat bahagia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;Bulsh*t kau bilang kesibukan bisa mengalihkanmu dari sesuatu! Tdk. Tdk. Aku mengalami hari-hari paling sibuk, tekanan , hdp dlm ketakberaturan mengejar deadline. Dan itu semua tak mengalihkan apapun. Dia hdir di dl *some text missing*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;*some text missing* m baris-baris coding. Wajahnya jelas saat aku berada di dpn komputer mengerjakan apapun. Tnyata, ak msih dikuasai kenangan&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku tercenung. Betapa anehnya kehidupan. Betapa demikian cepat segalanya berubah. Dalam satu detik tawa lepas dapat menjadi tangisan sedu. Dan betapa anehnya pula, pengalaman orang lain dapat membawa kita mengambil jalan benar, tetapi orang lain yang kita jadikan cermin itu masih saja terkungkung dalam kegelapannya, dalam ruangnya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tak saja mengirimiku sms, ia juga menulis surat elektronik. Kotak masuk emailku menampilkan pesan-pesan baru setiap minggu. Dari sana aku tahu bahwa perempuan itu memiliki jadwal tetap online di tengah hari-hari sibuk. Ia barangkali semacam orang yang memiliki kehidupan ganda. Entah menjadi pribadi siapa ketika ia berselancar di dunia maya. Orang-orang berhak memilih untuk jadi diri sendiri atau jadi pribadi yang diinginkan di dunia maya, tak akan ada yang mengeluhkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;Tahu tidak, Tuhan kan adil. Akan ada balasan bagi setiap perbuatan. Perbuatanku, perbuatanmu, siapa saja. Orang-orang akan menuai dari apa yang ia tanam. Dan tahu tidak, kebahagiaan adalah ketika orang lain menjadi bahagia atas apa yang kita lakukan, bukan menjadi bahagia sendiri tanpa mempedulikan dampak yang terjadi pada orang lain. Satu lagi, tahu tidak, kemerdekaan sejati hadir dari keberanian mengikuti kata hati (:D ini slogan dalam iklan rokok, kubaca di baliho pinggir jalan….) Apa coba kaitannya, kau pasti akan bilang begitu kan? Kapan-kapan aku kirim email lagi, tapi bukan untuk menjelaskan apa kaitan ketiga hal itu. :D&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu. Dan email berikutnya memang tak membahas hal itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Hai, aku tak ingin lagi merasakan cinta sejati. Setelah kupikir-pikir, cinta semu lebih menyenangkan. Cinta sejati akan membuatmu dikejar-kejar pertanyaan apa kesalahanmu, apa kekuranganmu, dan selalu menuntut pengorbanan yang lebih besar serta pemberian maaf atas kesalahan sebesar apapun. Cinta semu akan melepaskanmu dari hal-hal itu dan akan membawamu bersenang-senang. Sungguh. Coba saja. Dan, tahu tidak, aku menginginkan cinta semu yang banyaaaak!&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah isi email yang menjadi tonggak perubahan caraku melihatnya. Kepribadian sendu dan teduh yang kubaca dari sikapnya di pantai hari itu, seolah-olah hilang. Aku seolah-olah tak berhadapan dengan perempuan yang sama, yang dengan menggebu-gebu namun sentimental menceritakan seseorang yang dipanggilnya D, yang kelak kusimpulkan sebagai cinta sejati yang ia sebut-sebut itu. Perempuan itu seolah telah jadi orang lain. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Org lain? Betapa cepat kau menyimpulkan sesuatu yg bahkan tak berada di dpn matamu.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menemuinya, setelah emailnya yang terakhir;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku masih suka laut. Aku tak menjadi orang lain, tetapi memang ada hal-hal yang harus aku ubah dari pikiranku. Semisal konsep cinta sejati itu. Tak ada yang bisa menjamin bahwa setiap perubahan adalah menjadi lebih baik. Aku banyak mengalami kemajuan dalam kehidupanku, contohnya di bidang pekerjaan, aku juga punya teman-teman baru. Nah. Teman-teman baru membawaku pada cinta-cinta semu yang baru. Tahu tidak, setelah orang-orang dari masa lalu memasuki lagi kehidupanku, aku jenuh juga. Aku butuh sesuatu yang segar, seperti es buah mangga. Segar dan manis. Kemajuan di satu bidang, dan kemunduran di bidang yang lain juga katamu? Haha…kehidupan memang aneh. Tentang kejadian itu aku marah. Aku juga meredam. Aku luka dan jalang seperti Chairil. Aku juga terbuang dari kumpulanku. Asing. Entah bertemu siapa dan menjadi apa. Entah terbang mengikuti angin mana dan sampai ke mana. Aku berdarah. Aku ingin berteriak, memaki, membanting sesuatu, membunuh orang, mencincangnya dan membuangnya ke laut. Tapi hanya ingin. Aku tak mampu. Bahkan untuk meringankan rasa sakit itu aku tak mampu. Hei, kau benar bilang bahwa jangan menekan sesuatu ke dalam terlalu kuat sebab akan berbalik mendorong keluar sekuat kau menekannya. Bolehlah contohmu tentang artis sinetron yang merilis kemarahannya ke dalam video. Tetapi setidaknya aku lebih elegan merilis kemarahanku lewat tulisan-tulisan yang kukirim padamu. Aku sedang menuntaskan kemarahanku. Siapa coba yang mau hidup dengan kemarahan? Itu akan sangat menyiksa. Aku tak mau tersiksa dengan rasa apapun, pun rasa ‘sangat mencintai’. Persetan. Tidak persetan dengan ‘cinta’nya, coz cinta banyak memiliki sisi yang baik. Tahu tidak, aku masih mau bermain cinta, menanggapinya, tetapi tidak untuk cinta yang sejati itu. Sudah sakit-sakit, tidak selalu dihargai. Buka mata. Ada banyak cinta yang bisa mengajak bersenang-senang, tanpa rasa cemburu, tanpa rasa sakit, tanpa pengorbanan atau janji yang muluk-muluk sebab sudah saling tahu itu semu. Sudah ya….aku kasih tahu, sekarang aku sedang dekat dengan seseorang. Cinta semu yang entah keberapa kali kualami lagi sejak kejadian itu. Aku membutuhkan banyak pengalih perhatian, kau mengerti kan&lt;/span&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sqj1HXD8rqI/AAAAAAAAASk/YEpZwPp-QCY/s1600-h/girl-and-rain-dark.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379819261692522146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 227px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sqj1HXD8rqI/AAAAAAAAASk/YEpZwPp-QCY/s320/girl-and-rain-dark.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;D, siapapun kau, di manapun kau, apakah kau melihatnya seperti aku melihatnya? Kehidupan itu maksudku, apakah kau melihatnya seperti aku melihatnya? Kehidupan itu begitu aneh. Pengalaman membuat orang bertumbuh, benar. Pengalaman juga yang membuat orang terpuruk atau kehilangan kemanusiaannya. Di rumah sakit jiwa, berapa perbandingan pasien yang sakit sebab pengalaman hidup dibanding kelainan genetis? Perubahan kepribadian dapat terjadi tanpa bisa kita duga. Ada orang-orang yang memang kuat menghadapi terpaan badai dalam kehidupannya, ada orang-orang yang tidak sekuat itu. Dalam kasus perempuan yang memanggilmu D, kupikir dan kau pikir mestinya bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Kau percaya, aku pun percaya perempuan itu memiliki kekuatan atas apa yang ditimpakan padanya sebab Tuhan tidak akan mencoba di luar batas ukuran kekuatan. Dia hanya belum dapat kembali dari lorong itu. Dia belum dapat utuh lagi menemukan dirinya sendiri. Dia masih berupa kenangan-kenangan yang terpecah-pecah, dia masih berupa gasing yang belum berhenti berputar meskipun kesibukan menghalanginya dari segala arah. Mungkin, akan butuh waktu lama seperti menyembuhkan cedera. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;D, ada kala seseorang berada pada titik seperti daun kering tertiup angin. Tak mengerti dan tak peduli kemana angin akan membawanya. Tak ada rencana. Segala gagasan hanya menjadi gagasan saja. Waktu, lagi-lagi waktu, katanya mampu mengembalikan semua menjadi normal. Benarkah? Selalu ada keraguan; apakah waktu dapat membuat gelas yang pecah kembali utuh, atau membuat buah yang busuk kembali ranum dan harum? Dia, perempuan itu, sedang berada pada kala yang kusebutkan tadi. Perempuan yang bercerita tentangmu itu sedang melayang-layang sebagai daun yang diseret angin kemana-mana dan tak berdaya memenuhi keinginannya untuk jatuh di tempat yang indah. Gagasan-gagasan baik hanya tertinggal sebagai gagasan, sementara ia memilih cara lain untuk menjalani kehidupannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah kau melihatnya? Atau kau bahkan tak peduli sama sekali? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar mengambil keputusan untuk menemuinya. Berbekal beberapa baris alamat yang kucatat dalam handphone aku menemukan rumah kostnya. Sepi. Seperti hunian mati. Mungkin sebab aku kesana pada malam, dan orang-orang mulai berangkat tidur. Aku mengetuk. Tak ada jawab. Aku mengetuk lagi. Tak ada jawab lagi. Aku memutar pegangan pintu. Terbuka. Aku masuk. Di dalam tak kulihat siapa-siapa. Pintu kamar mandi terbuka. Aku melongok dan hanya menemukan ember penuh cucian kotor yang direndam. Aku meraba saku celanaku, mengambil handphone.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kamu di mana?” aku meneleponnya. Lalu suara derit terdengar. Wajahnya muncul dari jendela kecil yang hanya muat bagi tubuh kurus. Dan untung saja tubuhku kurus. Aku menyelinap melalui jendela itu. Ternyata itu tak menuju ke luar. Ada semacam bunker kecil di belakang, barangkali 1x1 meter lebih sedikit. Cahaya bulan masuk melalui langit-langit tinggi yang terbuka, jatuh membentuk bayang-bayang. Ruangan itu gelap, dan dia duduk di sana. Memandang ke atas. Seperti bercakap-cakap dengan bulan melalui sinar matanya. Dan ia tak pernah lepas dari batang-batang rokok itu. Puntung berserakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Indah tidak? Inilah alasanku mengambil kamar ini. Ada ruangan rahasia di sini. Aku bisa menatap bulan jam dua malam sekalipun, sendirian, aman, tidak kedinginan.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami hanya diam sepanjang malam itu. Melihat bulan sampai tak terlihat lagi. Setidaknya aku lega ia baik-baik saja, meskipun tampak lebih tirus dan kurus. Dan lelah. Mungkin sebab pekerjaan yang menekannya akhir-akhir ini. Setidaknya ia baik-baik saja, secara fisik. Ia sempat bergurau bahwa cinta yang membuatnya selalu merasa punya arti hidup di dunia ini, tetapi cinta juga yang membuatnya merasa benar-benar tidak berarti. Cinta membuatnya merasa sangat fit, dan cinta juga yang mengirimkan penyakit-penyakit psikosomatis pada tubuhnya. Di dalam bunker itu, kami sama-sama merenungkan perjalanan, dan berpikir untuk berhenti sejenak melepas lelah. Adakah yang bisa menyembuhkan luka hati selain ketulusan? Adakah yang bisa mengembalikan harapan setelah putus asa, selain sisa-sisa harapan itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I may never find all the answers&lt;br /&gt;I may never understand why&lt;br /&gt;I may never prove what I know to be true,&lt;br /&gt;But I know that I still have to try&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If I die tomorrow I'd be all right,&lt;br /&gt;Because I believe that after we're gone&lt;br /&gt;The spirit carries on&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Dream Theater)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;(subuh di 26A, lorong waktu yang baru……………..) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6573915601286234956?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6573915601286234956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6573915601286234956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6573915601286234956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6573915601286234956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/09/perempuan-yang-bercerita-tentang.html' title='Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D (2)'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sqj1HXD8rqI/AAAAAAAAASk/YEpZwPp-QCY/s72-c/girl-and-rain-dark.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-23496465247746926</id><published>2009-08-17T08:59:00.006+07:00</published><updated>2009-08-17T11:20:40.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can I just let you walk away, just let you leave without a trace&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;When I stand here taking every breath with you&lt;br /&gt;You're the only one who really knew me at all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can you just walk away from me, when all I can do is watch you leave&lt;br /&gt;Cos we've shared the laughter and the pain, and even shared the tears&lt;br /&gt;You're the only one who really knew me at all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So take a look at me now, 'cos there's just an empty space&lt;br /&gt;And there's nothing left here to remind me, just the memory of your face&lt;br /&gt;Take a look at me now, 'cos there's just an empty space&lt;br /&gt;And you coming back to me is against all odds and that's what I've got to face&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wish I could just make you turn around, turn around and see me cry&lt;br /&gt;There's so much I need to say to you, so many reasons why&lt;br /&gt;You're the only one who really knew me at all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So take a look at me now, 'cos there's just an empty space&lt;br /&gt;And there's nothing left here to remind me, just the memory of your face&lt;br /&gt;Take a look at me now, 'cos there's just an empty space&lt;br /&gt;But to wait for you, well that's all I can do and that's what I've got to face&lt;br /&gt;Take a good look at me now, 'cos I'll still be standing here&lt;br /&gt;And you coming back to me is against all odds&lt;br /&gt;That's the chance I've got to take&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just take a look at me now&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Phil Collins)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan itu bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D. Sudah satu jam aku duduk di atas pasir, di dekatnya, mendengarnya. Saat dia bercerita mendadak lautan seolah bisu. Angin diam. Ombak diam. Bagai melihat sebuah film bisu. Aku merasakan angin, merasakan jilatan ombak di kakiku yang telanjang. Tapi indera pendengarku tak bekerja selain menangkap suara perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D. Suaranya menyihirku. Suara itu terdiri dari nada-nada yang  cenderung rendah. Seharusnya timbul tenggelam di antara suara deburan ombak di saat normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D,  kukenal beberapa saat yang lalu. Aku menyusuri pantai ini untuk mengenang kekasihku, lalu bertemu dengan perempuan itu. Ia sedang berusaha menyalakan pemantik ketika aku lewat di sampingnya. Ia tidak peduli denganku. Ia tidak memandangku. Bahkan matanya  menembus tubuhku saat kusengaja berdiri di jurusan pandangnya. Akhirnya kudekati dia.  Kuhalangi angin agar dia bisa menyalakan pemantik itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya matanya mengisyaratkan sesuatu semacam  terima kasih. Ia membiarkan aku menjatuhkan tubuh di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sendirian?” Ah. Aku seharusnya menyapa dia dengan kata-kata yang lain. Tapi dia tersenyum. Dan tidak menjawab pertanyaan bodohku tadi. Bukankah memang sudah jelas dia sendirian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya tadi kau bertanya  apa yang sedang ada dalam kepalaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang sedang ada dalam kepalamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau mendengar ceritaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengisyaratkan tak keberatan. Kenapa tidak, aku juga sedang enggan mengingat kesedihan yang pernah menimpaku di sini. Lalu perempuan itu mulai bercerita. Cerita yang melompat-lompat . Cerita yang akan sulit dimengerti jika ditulis dalam sebuah cerita pendek.  Cerita-ceritanya berupa mozaik yang terlepas satu sama lain. Aku menghubungkannya sendiri dengan kemampuanku melihat hal besar dari detail-detail yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menceritakan tentang seseorang yang dipanggilnya D. Perempuan itu tidak memberitahukan siapa seseorang yang dipanggilnya D itu dalam kaitan dengan kehidupan pribadinya. Tapi menilik dari kedalaman ia mengenal seseorang yang dipanggilnya D, aku menarik kesimpulan bahwa seseorang yang dipanggilnya D adalah sosok yang telah sangat ia kenal. Perempuan itu mengerti segala kebiasaan seseorang yang dipanggilnya D, mulai dari makanan dan minuman kegemarannya, buku yang dibacanya, serial yang tak pernah dilewatkannya, selera berbusananya, bahkan tahap-tahap saat ia tertarik untuk bercinta.  Perempuan itu menuturkannya seperti seorang guru menyampaikan materi ajar yang sudah dikuasainya bertahun-tahun. Ia hanya jeda untuk mengisap rokok yang terselip di jarinya, atau menyalakannya lagi ketika angin membuatnya padam. Satu dua kepulan asap. Lalu mengalir lagi segala yang seolah sudah disiapkan dan dilatihnya untuk diceritakan padaku. Padahal kami baru saja bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mozaik-mozaik yang tidak beralur itu aku menangkap kepedihan. Perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D itu kadang tertawa lepas saat sampai pada bagian-bagian lucu, tetapi pada saat yang bersamaan matanya terlihat berkaca-kaca. Aku melihat ada yang  bertolak belakang antara mimik yang berusaha dimunculkannya, dengan ekspresi yang tersirat di kedalaman matanya. Ada yang bilang bahwa mata tak bisa menyimpan kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kemudian ia jujur pada mozaik yang terakhir. Ia tengah dirundung kesedihan . Ia telah kehilangan seseorang yang dipanggilnya D, yang diceritakannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ia pergi dengan wanita lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau ia membohongimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuang rokok yang tinggal puntung. Meraba ke dalam tas kecilnya, mengeluarkan kotak rokok lalu menarik sebatang dari dalam sana.  Beberapa detik kemudian suara pemantik terdengar berulang-ulang. Aku menghalangi angin dengan telapak tanganku agar pemantiknya menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ia membohongiku. Eh, kau tidak merokok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Aku menatapnya memberi isyarat  bahwa aku ingin tahu kelanjutan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa dia membohongiku. Itu saja. Tak banyak yang bisa kukatakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin terasa bertiup menerbangkan pasir ke wajahku. Tapi aku masih tidak mendengar suara angin ataupun suara laut dan orang-orang yang berkejaran di sana. Suara perempuan itu magis. Maka ketika ia terdiam sejurus lamanya setelah mengucapkan kalimat itu, kehidupan terasa mati di sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Soi-fyEdb9I/AAAAAAAAASc/mnGfAym6u4U/s1600-h/love_water_beachsmall.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Soi-fyEdb9I/AAAAAAAAASc/mnGfAym6u4U/s320/love_water_beachsmall.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370752008865017810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang sedang berhenti bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D kini menghembuskan asap rokok ke atas, yang segera tersapu angin pantai yang bertiup cukup kencang.  Rokoknya berkali-kali padam sepanjang kami duduk di sana. Lalu seperti tadi, ia memandang kosong ke laut lepas. Kami sama-sama diam. Aku menunggu. Akhirnya suara itu memupus kesepian di sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah perhatianku membuatnya tidak nyaman? Aku selalu ingin memberi, tidak pernah memperhitungkan berapa banyak.  Jika ia menginginkan sesuatu, aku selalu berusaha mendapatkannya untuk dia. Apakah aku bersalah? Mengapa ia dengan mudahnya melakukan itu, setelah kuberikan padanya hampir semua yang kumiliki dan semua yang bisa kuusahakan?  Sampai detik aku bercerita padamu ini, aku masih tak sanggup membenci dia. Aku hanya bisa memilih untuk tidak mengenalnya lagi. Tidak sedikitpun. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu memuntahkan semuanya. Itu adalah bentuk nyata dari bayangan kepedihan yang ditekan di balik sinar matanya.  Ia tidak menangis. Tetapi aku melihat tangisan yang mahahebat di balik pancaran sinar matanya. Mungkin ia telah menangis berkali-kali sebelum ini. Ia hanya menghirup udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-parunya. Aku tiba-tiba menggenggam tangannya. Perempuan itu tidak menepiskan genggamanku. Aku teringat kekasihku. Kekasihku hanyut di pantai ini hanya sesaat setelah kami memerankan sebuah kisah tentang laut dalam pementasan terakhir teater kami.  Setelah itu teater kami bubar. Masing-masing berpencar menjelajah kehidupan nyata dengan membawa sebuah kenangan ganjil yang menyakitkan. Terlebih-lebih aku. Aku terkungkung dalam kesedihan yang tak mampu kuungkapkan. Kesedihan itu bergumpal makin masif menjajah tubuhku. Berkala, aku menghidupkan kekasihku dengan menyusuri pantai ini sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencium jemari perempuan yang duduk di sampingku. Terlarut dalam tangisan yang terperangkap di dalam matanya, aku seperti melihat diriku sendiri. Aku mendadak terisak. Air mataku turun. Tuhan, aku ingat belum pernah bisa menangis sejak kehilangan kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menantang pandangan matanya. Ia bertanya dengan tatapan yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;D, siapapun kau, di manapun kau, aku hanya ingin menuliskan sesuatu setelah pertemuanku  yang hanya sekali itu dengan seorang perempuan yang memanggilmu D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu. Ada orang-orang yang ketika diingatkan akan sesuatu yang telah terjadi dan terlipat di dalam waktu, mereka berkata; ah, itu masa lalu. Hei, bukankah seseorang tak akan pernah menjadi dirinya kini jika tidak melewati sesuatu bernama masa lalu itu? Tidak ada yang pernah terbuang percuma di dalam hidup, meskipun ada kejadian-kejadian yang membuatmu merasa membuang waktu. Kenangan. Itu adalah hal lain yang berbanding lurus dengan masa lalu. Kenangan akan membentuk dirimu menjadi manusia yang utuh. Mungkin kau memang akan merasa terperangkap di dalamnya. Mungkin kau pernah berpikir untuk melupakannya, bahkan mengingkarinya, menyangkalnya ketika teman-temanmu mengingatkanmu tentang kenangan itu. Mungkin kau mempunyai seribu satu macam alasan untuk menekannya dalam-dalam. Tetapi, D, kenangan tidak akan pernah mati. Apa yang tak abadi, ia akan abadi dalam kenangan, ia akan abadi bersama waktu. Saat segalanya mati di bumi ini, waktu tidak mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuang kotak rokoknya yang telah kosong, perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D, menepiskan genggamannya, dan beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri. Tepat di hadapannya. Aku menawarkan sebuah pelukan, karena aku sendiri merasa membutuhkan pelukan. Entah mengapa kenangan membuncah-buncah tentang kekasihku saat aku berdiri di hadapannya; seolah-olah kepedihannya mewakili apa yang menggumpal masif di dalam diriku. Ia menyambut pelukanku, dan berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu waktu, aku pernah berharap ia akan memelukku seperti ini, sekali saja untuk saat yang terakhir, agar aku bisa melepaskan himpitan yang menyesakkan dadaku. Tetapi tidak. Begitu saja. Maka aku meraba dalam gelap, aku berenang menggapai permukaan tanpa pedoman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku dan perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D berpisah. Seperti pertemuan kami, laut dan semesta masih diam. Langit diam. Pasir diam. Angin diam. Perempuan yang bercerita tentang seseorang yang dipanggilnya D lebih dulu meninggalkan pantai. Aku melihat lambaian rambutnya untuk yang terakhir kali di tikungan, sedikit terhalang pokok cemara laut yang tumbuh sedang. Lalu aku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...masih terasing di 709, 13 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-23496465247746926?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/23496465247746926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=23496465247746926' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/23496465247746926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/23496465247746926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/08/perempuan-yang-bercerita-tentang.html' title='Perempuan Yang Bercerita Tentang Seseorang Yang Dipanggilnya D'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Soi-fyEdb9I/AAAAAAAAASc/mnGfAym6u4U/s72-c/love_water_beachsmall.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3721288466990648554</id><published>2009-08-11T18:41:00.004+07:00</published><updated>2009-08-11T18:48:33.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Kota dan Kekasih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku selalu membutuhkan seseorang di setiap kota yang kukunjungi. Aku selalu merasa takut sendirian, kesepian dan tak dibutuhkan. Kota yang riuh terlihat seolah-olah sebagai binatang buas yang hendak merobek tubuhku  dengan taring-taringnya yang tajam. Aku butuh pelindung.  Aku butuh kekasih. Karenanya aku selalu memiliki seorang kekasih di setiap kota yang kukunjungi. Ada orang-orang yang bersedia menjadi kekasih hanya pada saat aku berada di kota itu. Mereka pun pasti memiliki kekasih lain di kota yang sama atau bahkan di kota lain tetapi aku tidak peduli. Di antaraku dan kekasihku di setiap kota telah terjalin pengertian yang cukup, bahwa kami adalah sepasang kekasih hanya jika aku berada di kota lelaki itu. Kami akan mengabaikan kekasih-kekasih lain pada saat itu dan membiarkan hati mengembara lepas dari tataran norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hal itu pula yang membawaku mengenal An. Lelaki pendiam yang perfeksionis. Ibarat sungai, An adalah permukaan tenang namun menyimpan arus bawah yang deras. Arus bawah itu tak mampu kuhalang dengan bendungan yang selama ini aku siapkan  di depan kekasih-kekasihku yang lain. Arus An terlampau kuat dan menyeretku ke palung yang berpusar-pusar ketika aku mencoba berenang melawannya. Maka aku terseret semakin dalam. Dan An adalah kekasih yang kutemukan di kotaku sendiri. Sesungguhnya ia kekasih yang kusembunyikan  sebab di kotaku aku telah memiliki seorang kekasih lain yang kuperlihatkan kepada umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam ketika matahari telah lama pulang, di pantai di belakang rumah, di kotaku, aku berpelukan dengan An memandang ke langit di atas laut lepas. Siapapun akan melihat kami sebagai sepasang kekasih yang mabuk, dan memiliki seluruh yang ada di muka bumi ini sebab kami tak peduli apapun yang bernyawa di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu aku kecil, aku sering berbaring di halaman belakang menatap langit bersama kakekku. Kau tahu apa yang diajarkannya padaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang langit. Bintang-bintang bertebaran membentuk gugus-gugus. Aku tak bisa membaca rasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tarik garis antara bintang-bintang itu.” An menunjuk ke arah bintang-bintang yang dimaksud, tetapi terlalu banyak bintang yang tak bisa kubedakan. “Itu rasi layang-layang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak mengerti kan?” An tertawa kecil membaca ketakmengertianku. Pelukannya menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nikmati saja bintangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami berpelukan dalam diam. Dalam desauan angin pantai malam hari. Aku tak pernah menyangka malam itu adalah malam terakhir di pantai bersama An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sering pergi ke kota-kota lain dan memiliki kekasih-kekasih yang lain. Di kota Y, aku memiliki kekasih pemain band kafe yang cukup digandrungi perempuan. Aku tahu kekasihnya bertebaran dimana-mana sebab ia tipe lelaki yang mudah mendapatkan perempuan untuk diajak berhubungan serius atau hanya sekedar  berhubungan semalam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapanpun kau ke kota Y, hubungi aku. Buat kau, aku selalu ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuktikannya dengan hampir tak pernah menolak permintaanku jika aku berkunjung ke kotanya, dari mulai minta dijemput hingga dicarikan tempat menginap yang secure. Kadang ia bersedia membatalkan janji dengan seorang perempuan lain demi aku. Aku cukup senang dengan cara-cara dia memperlakukan aku. Aku sangat merasa aman dan terlindungi di kota Y.  Sedangkan di kota K, kekasihku adalah seorang suami dan calon ayah dari janin yang dikandung istrinya. Sejak sebelum dia menikah,ia telah ada sebagai kekasihku di kota itu. Semula aku hendak berhenti menjadikannya kekasih sebab aku merasa sangat berdosa terhadap istrinya dan aku sendiri sebetulnya jijik terhadap perempuan yang berkasih-kasihan dengan suami orang. Tetapi ia menyampaikan keberatan. Ia mau aku tetap sebagai kekasihnya jika aku berkunjung ke kota K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa kan kita bersembunyi di celah kesempatan?” tawarnya suatu hari ketika aku telah berniat meninggalkannya. Matanya adalah mata yang magis. Yang tidak pernah mampu kukatakan tidak pada sinar mata yang seperti itu. Maka hingga kini kami masih saling menganggap sebagai kekasih meskipun dengan frekuensi pertemuan yang hampir tak pernah. Kadang-kadang aku berkunjung ke kota K tetapi tidak lagi mengabarinya. Terpikir akan menggeser posisinya dengan kenalanku yang lain di kota K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota S, seorang lelaki ambisius menyediakan dirinya untukku. Ia tipe lelaki yang bisa melakukan apa saja untuk menyenangkan dan mengambil hati pasangannya, menggelapkan uang kantor pun dilakoninya. Aku geli sekaligus kasihan ketika ia menerima surat peringatan dari kantornya yang terakhir sebab memakai uang kantor tanpa alasan  jelas. Kadang, pasak memang terpaksa lebih besar dari tiang, tetapi sesungguhnya aku bukan perempuan materialistis. Hanya saja jika seorang lelaki memberikan apa-apa untukku, kukira tak ada alasan untuk menolaknya. Lagipula orang tak bisa hidup hanya dengan berkasih-kasihan saja, semua akan kembali pada materi. Kekasih di kota S ini sepertinya benar jatuh cinta padaku. Tapi aku hanya membutuhkan perasaan dilindungi, dicintai dan dibutuhkan, aku menolak hubungan serius yang ditawarkannya. Aku belum ikhlas menyerahkan diriku dalam ikatan yang erat hanya pada satu kekasih. Aku terbiasa memiliki banyak kekasih dan banyak cinta. Aku ragu apakah aku akan merasa cukup hanya dengan memiliki semua itu dari satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di kotaku sendiri, aku memiliki seorang kekasih yang kuumumkan kepada publik. Di kota ini, aku membutuhkan status sebagai kekasih seorang lelaki yang sering terlihat bersamaku kemana-mana. Aku tak ingin dikata-katai buruk oleh lingkungan sekitarku jika aku terlihat sangat sering bersamanya tetapi tak terjalin sesuatupun. Tentunya ia pun keberatan untuk terus bersamaku jika tak ada hubungan yang jelas. Keberadaan kami dalam satu kota menjadikan ia kekasih yang paling intens pertemuannya denganku. Ia sepertinya terlihat cukup dengan ini; kuakui keberadaannya sebagai kekasih dan kuperkenalkan kepada keluargaku. Sejujurnya, tentang cinta, aku cukup pusing dan tak mengerti. Banyak cinta yang diberikan padaku, tetapi aku tak yakin apakah aku pernah benar-benar jatuh cinta dalam hubungan-hubungan itu. Dengan kekasih di kotaku sendiri pun, aku tak yakin aku pernah jatuh cinta  meskipun ia kekasihku yang kuakui di muka umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu sebelum aku mengenal An. An yang tak antusias, tak perhatian, tak peduli. An yang jarang bilang cinta tapi katanya mencintaiku dengan sungguh-sungguh. Perlahan tapi pasti, sikap An yang tak menganggap itu membuatku menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam hatiku. Seperti perut bumi yang semula diam, kini bergolak memunculkan kepundan. Kepundan yang semakin lama membuat hawa semakin panas itu akhirnya meledak suatu ketika. Aku jatuh cinta pada An. Sebenar-benar orang jatuh cinta, sebenar-benar orang mabuk sesuatu yang belum pernah disentuhnya selama ini.  Akibat yang tak terduga, aku mulai perlahan meninggalkan kekasih-kekasihku yang lain. Juga kekasih di kotaku sendiri. Mereka tentu saja bertanya-tanya, dan aku menjawab bahwa aku sedang jatuh cinta. Kekasih-kekasih di kota-kota lain cukup mengerti meskipun aku tahu mereka keberatan kehilangan aku. Sebaliknya, lahar panas dari kepundanku yang meledak itu seketika menyapu pohon-pohon besar ketika kekasih yang kuakui di depan umum mengetahui alasanku. Untung saja aku masih menyembunyikan An, sehingga tak perlu terjadi pertikaian. Tapi An, tanpa kumengerti, menarik diri. Perlahan memang, tapi aku sangat merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?” tanyaku suatu hari. Ia tak memberikan alasannya. Berhari-hari aku mengejar untuk sebuah jawaban dari pertanyaan apakah dia tak lagi mencintaiku. An bilang, aku boleh percaya atau tidak, ia masih mencintaiku. Ia bahkan teramat sangat mencintaiku, tetapi ia memohon aku untuk meninggalkannya (aku sempat berpikir mungkin aku terlalu tak baik di mata An, hingga ia menghendaki itu). Aku berkata padanya bahwa apapun yang dia lakukan untuk membuat aku meninggalkannya, aku tak akan pernah meninggalkannya. Kecuali ia berkata bahwa ia tak lagi mencintaiku. Pada kondisi seperti itu tak mungkin aku terus menyakiti diri sendiri dengan memberikan cinta yang tak dibutuhkannya, bukan? Seperti menggarami lautan. Aku tak akan mempertahankan orang yang memang sudah tak mencintaiku, karena semua akan percuma, betapapun aku sangat mencintai dia. Dan entah sebab An membaca sinyal atau memang menuruti kata hatinya, suatu hari ia mengatakannya padaku tanpa bertatap muka (teramat hancur aku! Apakah ini adalah balasan akibat aku terlalu sering mempermainkan orang-orang yang jatuh cinta padaku?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jgn hub aku lg. Ak g cinta lg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah pukulan terhebat. Aku sampai pada sebuah titik dimana ketakutanku berkumpul, rasa gamang menapaki hidup semakin tajam tanpa yang kucintai berada dalam genggamanku. Aku seperti mencapai sebuah puncak lalu kembali ke awal lagi. Aku dilempar ke atas dengan kekuatan penuh. Lalu jatuh dengan keras. Teramat aku mencintai An, hingga detik ini aku masih tak tahu harus berbuat apa.Aku telah meninggalkan semua kekasihku, demi cinta yang kurasakan, yang akhirnya meninggalkan aku. Maka di sinilah aku sekarang, di sebuah kota lain yang hiruk pikuk, yang lebih buas dari binatang buas manapun. Jauh dari siapapun. Sendirian. Setiap malam menatap langit dari jendela di lantai dua, berharap bisa membaca sebuah rasi bintang, lalu tidur dan bermimpi kembali ke pantai malam itu, dan tak pernah bangun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                                Room 709, 21:19, 4 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3721288466990648554?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3721288466990648554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3721288466990648554' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3721288466990648554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3721288466990648554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/08/kota-dan-kekasih.html' title='Kota dan Kekasih'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2408386288683964819</id><published>2009-06-10T11:04:00.006+07:00</published><updated>2009-06-10T11:29:45.456+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Aku Merindukanmu</title><content type='html'>Aku merindukanmu. Seperti mawar&lt;br /&gt;tanpa pertolongan musim manapun&lt;br /&gt;mekar diamdiam. Meruakkan gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kubiarkan. Tak kuarung waktu&lt;br /&gt;mencarimu. Lalu siasia belaka seperti yang biasa&lt;br /&gt;terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kerinduan, sayang, satusatunya&lt;br /&gt;yang tersisa dari kepergian paling merah&lt;br /&gt;Ketika matamu melepas warna asing dan kutemukan diriku&lt;br /&gt;runduk serupa pokok cemara laut muda&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;belum kukuh menahan liukan angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebab kerinduan , sayang, satusatunya&lt;br /&gt;yang mampu kutangiskan dalam puisi&lt;br /&gt;setelah siluet dan bau tubuhmu dilarikan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke selat yang jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Maka kudiamkan saja bau gelisah&lt;br /&gt;memusimkan diri di kamar tidurku&lt;br /&gt;tanpa pertolongan cuaca pertemuan manapun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2408386288683964819?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2408386288683964819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2408386288683964819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2408386288683964819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2408386288683964819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/06/aku-merindukanmu.html' title='Aku Merindukanmu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6918222585380830704</id><published>2009-03-04T11:19:00.007+07:00</published><updated>2009-03-04T11:54:12.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>…. Maka Semua Akan Menjadi Kekasihmu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;search engine &lt;/span&gt;untuk mencari ilmu ikhlas. Kau lebih berpikiran praktis untuk mendapatkan sebuah informasi dengan cepat, ketimbang tanya sana-sini atau hunting ustadz ke pesantren-pesantren. Menurutmu itu kelamaan meskipun kau mengakui bahwa informasi yang kau dapat dari ahlinya pasti lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngelotok&lt;/span&gt; dan terfokus. Kau hanya menginginkan informasi segera saat ini sebab hati dan tubuhmu sudah tak kuat lagi, ingin tahu apakah ilmu ikhlas memang mampu mengobati sakit perasaan macam yang kau rasakan itu. Barangkali kau, juga orang lain yang penasaran dengan ilmu ikhlas, terinspirasi dari kisah rekaan tentang anak band yang jatuh bangun mencari dan memenuhi syarat dari pak haji demi mendapatkan restu mempersunting putrinya, mulai belajar shalat hingga belajar ilmu ikhlas itu. Bahkan ketika kau mengeksekusi kata kunci ilmu ikhlas di kotak search engine, hasil pencarian memunculkan banyak sekali nama Fandy, tokoh anak band dalam cerita rekaan itu. Jangan-jangan dia jadi lebih terkenal daripada ilmu ikhlas itu sendiri. Kau memilah dan menyalin beberapa artikel yang tidak berkaitan dengan kisah anak band itu, kemudian menyimpannya di flashdisk,lalu  membayar akses internetmu. Pulang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kau tak asing dengan kata ikhlas. Sejak usiamu kanak-kanak kau telah diajari oleh orang tuamu bagaimana membagi jajan dengan kawanmu, ketika remaja kau dengan sendirinya telah mengambil tindakan membantu seorang ibu tua menyeberang jalan, di beberapa kesempatan kau juga menyisihkan uang sakumu untuk memberi pengemis di lampu merah. Semua kejadian itu lalu kau lupakan. Kau memiliki semboyan sendiri tentang ikhlas yang kedengarannya seperti kata-kata dalam sebuah iklan; berikan dan lupakan. Tapi kali ini, ketika kau telah memberikan dan dituntut untuk melupakan, rasanya demikian berbeda. Kau tak pernah hujan airmata setelah memberikan recehmu pada pengemis, tak pernah menghujat dunia ini tak adil ketika jajan bagianmu lebih kecil daripada yang diterima adikmu. Kali ini, ya, kali ini, kau mengalami yang tak pernah kau alami itu. Keberatanmu untuk ikhlas kali ini bukanlah terhadap apa yang sudah kau berikan, tetapi terhadap apa yang sangat kau inginkan, kau usahakan namun tak kau dapatkan juga meski berpeluh-peluh sudah tubuhmu dan berurai-urai airmatamu. Kau sangat menginginkannya tetapi garis hidupmu berkata lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, kau membuka data dari internet tadi. Kepalamu sesungguhnya sangat sakit sebab migrain yang selalu menyerang bagian kepala yang sama; kanan. Tetapi sakit kepala itu tertindih kesakitan lain dari dalam tubuhmu. Yang tak terperikan dan tak ada obat medis yang mampu menyembuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;word&lt;/span&gt; terbuka di depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;…. Salah satu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;ilmu yang paling sulit dikuasai manusia di muka bumi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; ini adalah ilmu ikhlas. Ilmu ini banyak diserukan oleh orang, namun tidak semua mampu menguasai secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…. Mereka memang gampang bilang ikhlas, yang pontang-panting yang ngejalanin.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kecongkakan dan kepongahan membuat kita kadang lupa bahwa masih ada yang mengatur kita sesuai jalur yang ada. … bahwa dibalik semua yang terjadi akan ada hikmah yang mungkin akan kita ketahui kelak di kemudian hari. … bahwa kalau kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;…. Kesulitan mempelajari ikhlas adalah karena demikian simpel dan sederhananya sehingga pikiran kita malah sulit mencerna. Selain itu, ikhlas memang aktivitas yang berhubungan dengan hati sehingga untuk memahaminya kita harus menutup pikiran, dan mulai berlatih menggunakan hati. Intinya mengalokasikan kesadaran dari otak ke dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kau menarik nafas panjang. Teringat percakapan sms dengan seseorang entah berapa minggu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knp skt? Coz km g ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emg gampang ngikhlasin kmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perpisahan harus selalu terjadi, meskipun kita tak menghendakinya dan tak pernah terlintas sama sekali di dalam pikiran? Perpisahan yang enak katanya tidak menyisakan perasaan sakit atau tekanan-tekanan atau keberatan-keberatan tertentu. Kau tak mengalaminya. Kau malah merasakan seolah nyawamu diambil paksa saat kau belum ingin mati (perumpamaan yang aneh, apa ada orang yang menginginkan mati?). Tapi seperti itulah. Seperti Izrail yang tak mau diajak bernego lagi soal waktu pencabutan nyawa, perpisahan pun begitulah. Harus terjadi jika saatnya memang telah tiba. Tak peduli kau menangis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gero-gero&lt;/span&gt; atau berlutut memohon. Dan itu jugalah yang terjadi. Kau harus melepaskan sesuatu atau seseorang dalam perpisahan itu. Kau melepaskan sesuatu sekaligus seseorang dalam perpisahan itu. Kau melepaskannya. Tapi kau tidak mengikhlaskannya. Orang lain akan melihatmu biasa saja tetapi di dalam tubuhmu terjadi pertarungan antara ikhlas dan ego. Pertarungan yang sangat perang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knp kmu g mau mempertahankan ak, pdhl km bisa kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ak bukan perusak tatanan. Biar semua tetap bgtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahmu ini sebenarnya sangat klise. Semacam picisan Gibran tentang seorang lelaki yang ditinggal menikah oleh kekasihnya, atau tentang perempuan yang meninggalkan kekasihnya untuk menikah dengan orang lain (apa bedanya?).  Perpisahan - yang sok ikhlas - tersebab begitu, dalam bahasa yang puitis, kau katakan;  mereka telah membunuh dirinya sendiri di hari pernikahan itu. Dan, dalam kisahmu, seseorang yang tak kau ikhlaskan itu adalah seorang berhati baik. Kau tahu ia merasakan sama sakit sepertimu tetapi ia tak sepertimu yang mengumbar rasa sakit kemana-mana, ke telinga orang-orang yang sudah muak mendengar bahkan ke dunia maya. Dia menyimpan perasaannya sendiri seperti seorang nyonya kaya pelit mengunci perhiasan di dalam kotak. Berlapis-lapis gembok ia buat bahkan udara pun sulit keluar masuk. Kau hanya diperbolehkan tahu bahwa ia mencintaimu. Kau pernah bertanya cinta macam apa yang mampu melepaskan yang dicintai begitu saja, dengan kepasrahan penuh. Dia menjawab; ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cara pandang kita terhadap cinta barangkali berbeda. Cinta itu tidak menyakiti’&lt;/span&gt;. Kau berpikir mungkin kau memang egois. Maka timbangan ikhlasmu terlihat seperti papan jungkat-jungkit yang kelebihan beban di satu sisi; itulah egomu. Sebab ikhlas dan ego berbanding terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah km sebenarnya ikhlas melepaskan aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak. Tapi aku berusaha. Dan aku gak akan berhenti bermimpi. N tetap punya harapan coz harapan yg membuat org tetap bsemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kmu sendiri yg tau caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back 2 hti nurani. Slama ni kita dibutakan sesuatu yg kita blg cinta. Tp pernah gak kita berpikir bhw kita mgkin sdg dikuasai nafsu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tp knp demikian mengikat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang begitulah sifat nafsu.&lt;br /&gt;&lt;blockquote  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;menjadi ikhlas itu adalah proses.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kita harus melatihnya dalam setiap bagian kehidupan. Ini karena ikhlas tidak mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…keikhlasan dimulai dari hati.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kau tercenung di depan layar komputermu. Artikel-artikel itu sudah kau baca semua. Kau telah mendapatkan semua informasi yang kau mau. Tapi di dalam hatimu masih saja terjadi perang. Egomu masih lebih kuat, seperti kebanyakan manusia lain. Kau membutuhkan sesuatu yang lebih besar, mungkin semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shock theraphy&lt;/span&gt;. Kau terlalu mencintai dia. Kekasih yang kau lepaskan itu. Kekasih yang padanya kau biarkan pertama kali kulitmu disentuh, hatimu disentuh. Orang-orang barangkali bertanya kenapa kalian berpisah. Kau hanya menggeleng. Biarlah tak terungkap pada orang lain, biar tak dibicarakan sebab sudah cukup sakit mengetahuinya sendiri. Kau dan kekasihmu memang harus berpisah, dalam keadaan saling mencintai pada puncak cinta itu, dalam situasi segalanya terasa begitu indah. Ikhlas atau tidak ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau membunuh komputermu. Ilmu ikhlas itu tak semudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngoprek hardware &lt;/span&gt;atau menulis program komputer. Ilmu ikhlas pun tak lantas dapat kau kuasai meskipun kau baca semua artikel yang dihasilkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;search engine&lt;/span&gt;. Belajar ilmu ikhlas itu berarti me&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reset&lt;/span&gt; ulang pikiran, hati dan cara pandangmu. Bagaimana tidak? Kau minimal musti melakukan beberapa hal ini: bersyukur, mengubah pola pikir, menyadari bahwa semua adalah titipan Tuhan lalu membesarkan hatimu sendiri. Sesungguhnya kau beruntung karena kekasihmu yang kau lepaskan itu adalah orang baik yang mengajakmu berpikir positif dan mencari ilmu ikhlas. Perpisahan kalian memang menorehkan rasa sakit yang amat sangat. Tak saling memiliki namun cinta dan nafsu yang ada diantara kalian telah demikian besar. Telah tak terbendung sehingga perasaan-perasaan itu seolah hendak mengalahkan kuasa Tuhan. Tetapi kalian perencana. Hanya perencana. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ap kamu sekarang bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak. Tp ak yakin suatu hari bs bahagia. Km juga hrs yakin bs lewati ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau menuntaskan pelajaran teori ikhlas, beberapa kilometer jauhnya darimu seseorang pun sedang merasakan sakit yang ditanggungnya sendiri, tak ia katakan pada siapapun kecuali padamu, pada waktu-waktu tertentu. Ia mencintaimu seperti kau mencintainya. Ia peduli padamu dengan cara yang tak perlu kau tahu. Ia memilih jalan Tuhan ketimbang jalan para iblis yang tak ikhlas, menuntut dan mendendam. Dialah sebenar-benar pecinta sebab mampu melepaskanmu yang tidak menjadi haknya, dengan penuh, dengan rasa sakit yang dirasakannya sendiri. Kau musti tegaskan hati dan memahami jalannya, perlahan sebab kemampuan kalian mengatasi kejadian ini tak pernah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menghela nafas panjang. Barangkali sia-sia saja mencari ilmu ikhlas itu dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;search engine,&lt;/span&gt; ataupun jika kau menemui ustadz-ustadz, sebab ilmu ikhlas itu telah ada di dalam dirimu sendiri. Kau hanya perlu mengaktifkan tombolnya atau membiarkannya tetap dalam keadaan tak aktif. Kekasihmu telah lebih dulu menyadari bahwa ilmu ikhlas itu ternyata sangat dekat dalam tubuhnya sendiri, mempelajarinya pun tak perlu bergantung pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menelungkupkan kepala di atas meja dan terlelap di sana. Kau sangat lelah dengan kejadian-kejadian ini. Menguras peluh dan airmatamu dan kadangkala menyabotase akal sehatmu pula. Kau sangat lelah. Ingin jatuh ke dalam mimpi. Ingin menggenggam tangan kekasihmu; ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ajari aku semalaikat engkau…&lt;/span&gt;’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sa4Eye8pH1I/AAAAAAAAARM/XPcvJ5KGuWE/s1600-h/DSC01011.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sa4Eye8pH1I/AAAAAAAAARM/XPcvJ5KGuWE/s320/DSC01011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309186276063780690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(NB: Dua hari yang lalu kau membaca lagi Quantum Ikhlas yang mulai berdebu di rak buku, untuk membuka rahasia keikhlasan. Semalam kau memandangi novel-novel El-Shirazy, barangkali kau akan membacanya lagi untuk kali yang kedua, hari ini. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cukupkan dirimu dengan ridha Allah. Bila Dia menjadi kekasihmu, maka semua akan menjadi kekasihmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;road to ikhlas, March, 1, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6918222585380830704?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6918222585380830704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6918222585380830704' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6918222585380830704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6918222585380830704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/03/maka-semua-akan-menjadi-kekasihmu.html' title='…. Maka Semua Akan Menjadi Kekasihmu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/Sa4Eye8pH1I/AAAAAAAAARM/XPcvJ5KGuWE/s72-c/DSC01011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-8219606100165430511</id><published>2009-02-25T11:16:00.002+07:00</published><updated>2009-02-25T11:31:52.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Menulis'/><title type='text'>Bagaimana Menulis Puisi?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menulis puisi adalah tentang menggali dunia di dalam diri kita dan sekitar kita. Kita bisa nulis tentang apa saja, mulai tentang cinta sampai tentang got jorok di sebuah tanah pertanian zaman dulu. Sepanjang kita menikmatinya dan sepanjang tulisan itu mampu melepaskan sesuatu dari dalam diri kita, kita sedang berada di jalur yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu langkah-langkahnya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Baca dan dengarkan pembacaan puisi. Umumnya, para penyair mendalami keahliannya dengan membaca dan mendengarkan pembacaan puisi. Puisi  kadang hanya frase atau baris yang entah datang dari mana. Itulah inspirasi, itulah awalnya, kita hanya perlu menyelesaikan sisanya. Jika suatu waktu kita ingin menulis sebuah ide yang spesifik, lakukan sedikit brainstorming. Tulis di atas kertas kata-kata dan frase yang muncul ketika kita berpikir tentang ide itu. Tulis secepat mungkin, setelah selesai baca ulang daftar dan temukan hubungan-hubungannya; kemudian biarkan kreativitas mengalir.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Pikirkan apa yang ingin kita capai melalui puisi yang kita tulis. Mungkin pengen mengekspresikan perasaan cinta pada kekasih; mengenang kejadian tragis; or cuma pengen dapat nilai A di kelas puisi. Pikirkan tentang alasan kita menulis puisi dan siapa sasaran (penikmat,/pendengar)nya, kemudian mulailah menulis.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Putuskan bentuk puisi yang cocok. Ada banyak pilihan bentuk puisi; gurindam, soneta, puisi modern... dll. Atau abaikan semua bentuk puisi itu dan tulislah bentuk kita sendiri. Bentuk terbaik puisi kita biasanya berkembang dengan sendirinya seiring kita menulis puisi.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Dengarkan puisi yang kita tulis. Puisi di saat sekarang lebih sering dinikmati dalam bentuk tertulis, tapi sejak ribuan tahun telah dinikmati pula sebagai sebuah seni suara, sehingga suara yang kedengaran dari puisi masih tetap penting. So, setelah ditulis dan diedit, baca keras-keras dan dengarkan bagaimana 'kedengaran'nya.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Tuliskan semua pemikiran sesegera mungkin. Jangan mengedit saat menulis. Atau malah edit saja saat menulis. Pilihan ada di tangan kita, dan tak ada salahnya mencoba kedua metode beberapa kali untuk melihat mana yang pas buat kita.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Pilih kata-kata yang tepat. Katanya, jika novel adalah 'words in the best order', maka puisi adalah 'the best words in the best order'. Pikirkan bahwa kata-kata sebagai batu bata dengan ukuran dan bentuk yang berbeda, beberapa akan pas dengan sempurna dan beberapa tidak. Kita akan tetap bekerja sampai mendapatkan struktur kata-kata yang kuat. Gunakan hanya kata-kata yang penting dan mendukung makna puisi.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Gunakan penggambaran nyata dan deskripsi yang hidup. Cinta, benci, kebahagiaan; ini adalah konsep abstrak. Hampir semua puisi berisi tentang emosi dan hal-hal abstrak lainnya, tapi sangat sulit membangun sebuah puisi menggunakan hanya hal-hal abstrak - sangat tidak menarik. Dukung hal yang abstrak itu dengan bentuk yang nyata, benda-benda; setangkai mawar, ikan hiu, api yang berkobar-kobar, dll. Puisi yang bagus tak hanya menggunakan gambaran yang nyata; tetapi juga deskripsi yang hidup. Tunjukkan apa yang kita bicarakan, bantu para pembaca/pendengar puisi kita untuk berimajinasi.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Gunakan poetic devices (apa ya padanannya dalam bahasa Indonesia?) untuk membuat puisi lebih indah dan bermakna. Yang paling terkenal adalah rima. Rima dapat menambah suspense pada baris-baris puisi, lebih bermakna atau membuat baris-baris puisi lebih kohesif. Mempercantik pula. Tapi jangan digunakan berlebihan; itu kriminalitas! :D. Kadang kita malah sama sekali tak harus menggunakan rima. Poetic devices yang lain adalah metafora, asonansi, aliterasi dan repetisi, dll (majas nih maksudnya yach). Majas dapat membuat sebuah puisi berhasil namun jika terlalu terfokus pada majas, bisa-bisa puisi malah jadi rusak.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Edit puisi yang sudah kita tulis tadi. Jika puisi dasar sudah selesai, biarkan dulu beberapa waktu kemudian baca keras-keras untuk diri kita sendiri. Seimbangkan pilihan kata dengan ritme membaca. Keluarkan kata-kata yang tak perlu dan ganti penggambaran-penggambaran yang tak berhasil. Beberapa orang mengedit puisi satu kali, tapi sebagian yang lain mengeditnya berkali-kali. No problem.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Dapatkan pendapat dari pihak luar. Sangat sulit untuk mengkritik hasil karya sendiri kan? Jika sudah selesai dengan satu puisi, usahakan pendapat dari teman atau klub penulis puisi. Mungkin kita  tidak akan menyukai beberapa pendapat dan saran-saran mereka, tapi tak ada salahnya untuk mencoba agar puisi kita menjadi lebih baik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Okey? Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(disadur seenak pemilik blog, dari wikihow)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-8219606100165430511?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/8219606100165430511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=8219606100165430511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8219606100165430511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8219606100165430511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/02/bagaimana-menulis-puisi.html' title='Bagaimana Menulis Puisi?'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-4093664448512540602</id><published>2009-02-25T10:34:00.011+07:00</published><updated>2009-02-25T11:14:55.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Lelaki Indahku 2</title><content type='html'>Panggilannya Rafa atau Fafa. Nama panggilan saya juga Fafa, beberapa orang memanggil dengan singkatan nama saya; Fara. Beda-beda sedikitlah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Siapa sih Rafa atau Fafa ini? Bedanya dengan saya adalah dia berjenis kelamin laki-laki. Wajahnya yang innocent dan mata genitnya telah merebut seluruh perhatian saya dari sosok laki-laki manapun saat ini. Dia membuat hidup saya lebih berwarna seperti lukisan pensil warna. Merah, kuning, biru, orange. Heheehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Rafa memiliki hobi yang sama; makan tempe goreng! Jadi semenjak kehadiran Rafa jumlah tempe yang digoreng pasti ditambah. Cowok genit ini jagoan banget makan tempe goreng dan kadangkala sampai menggasak jatah saya. Itu berarti pengurangan protein jatah tubuh saya. Walah, jadi itung-itungan deh.Tapi gak apa-apa, sebagai timbal baliknya saya boleh sepuas hati meminjam mobil, sepeda, pesawat, sampai kereta api punya si Rafa ini. Semuanya terbuat dari plastik. Dan kalo beruntung saya juga bisa mendapat setangkup dua tangkup biskuit twist lick dunk yang juga disukainya dan selalu ada di toples makanan khususnya. Pokoknya simbiosis mutualisma lah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia putra adik saya. Saat saya menulis ini usianya menginjak satu setengah tahun. Kata orang lagi lucu-lucunya dan ngangeni. Gak usah panjang-panjang deh nulisnya, saya kasih pics saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTBiOLA6WI/AAAAAAAAAQM/AXMuCpFi5Qc/s1600-h/DSC00667.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTBiOLA6WI/AAAAAAAAAQM/AXMuCpFi5Qc/s320/DSC00667.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306579054613293410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Liat kamera ya Sayang...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTCG5QtoKI/AAAAAAAAAQU/lRWK3tO5MGQ/s1600-h/DSC00528.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTCG5QtoKI/AAAAAAAAAQU/lRWK3tO5MGQ/s320/DSC00528.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306579684655210658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTCji2iYVI/AAAAAAAAAQc/GceqGIQkIhk/s1600-h/DSC00523.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTCji2iYVI/AAAAAAAAAQc/GceqGIQkIhk/s320/DSC00523.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306580176856047954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Hmmm...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTC9lzU-jI/AAAAAAAAAQk/PUT0A76Lxdo/s1600-h/DSC00846.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTC9lzU-jI/AAAAAAAAAQk/PUT0A76Lxdo/s320/DSC00846.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306580624324491826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTDNYTxPtI/AAAAAAAAAQs/_p0g7e_wmUA/s1600-h/DSC00853.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTDNYTxPtI/AAAAAAAAAQs/_p0g7e_wmUA/s320/DSC00853.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306580895580372690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengen pegang ya?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTD4pNofII/AAAAAAAAAQ0/5liD1KUNFfg/s1600-h/DSC00862.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTD4pNofII/AAAAAAAAAQ0/5liD1KUNFfg/s320/DSC00862.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306581638852410498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bude beliin truknya kegedean...heheheh..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, jadi refresh deh mood saya ngeliat dia. Kapan-kapan saya upload lagi pics paling barunya, sekarang Rafa lagi sering rewel gara-gara dua hari yang lalu nyungsep jatuh dari kursi dan lecet-lecet. Kasiah yach. Cayo!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-4093664448512540602?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/4093664448512540602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=4093664448512540602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4093664448512540602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4093664448512540602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2009/02/lelaki-indahku-2.html' title='Lelaki Indahku 2'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SaTBiOLA6WI/AAAAAAAAAQM/AXMuCpFi5Qc/s72-c/DSC00667.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1676669695885722608</id><published>2008-12-19T17:05:00.005+07:00</published><updated>2008-12-19T17:42:59.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Aku Dibunuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt6PJkqWoI/AAAAAAAAAOA/OsdjW3uGyYw/s1600-h/intentions-of-murder-rail.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt6PJkqWoI/AAAAAAAAAOA/OsdjW3uGyYw/s200/intentions-of-murder-rail.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281449388708354690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam yang lalu aku dibunuh. Saat pertama, rasanya seperti melihat pijaran kembang api waktu perayaan tahun baru; silau. Perlahan-lahan, aku bergerak keluar dari tubuhku, meninggalkan sepasang kaki tak bersandal, meninggalkan pinggulku yang padat, meninggalkan jantung di balik buah dada yang digilai banyak lelaki. Tubuhku mengejang luar biasa saat aku hampir tiba di luar.Tubuhku kesakitan seperti ditombak bertubi-tubi dengan pencungkil perapian yang membara. Di ulu hatiku. Tak lama kemudian aku dengan jelas melihatnya, meskipun gelap melingkup sekitar: tubuhku memang ditombak dengan sebatang linggis karatan, tepat di ulu hati . Darah mulai mengental, menempel di renda bra putih yang sangat kukenal. Tubuhku setengah tak berpakaian. Perutku yang rata seperti dibubuhi semacam saos kental, menjijikkan. Pinggulku mati dan memar membiru. Aku tak tahu siapa yang membunuhku. Aku pun tak pernah membayangkan akan mati dibunuh, lalu foto tubuhku yang mati muncul di koran-koran, dinikmati oleh orang-orang penggemar cerita kriminal, sambil menyeruput kopi di bawah pohon asam pinggir jalan. Mungkin satu jam, dua jam atau dua hari lagi tubuhku akan ditemukan orang-orang. Seperti mayat artis yang dua bulan lalu ditemukan di pematang sawah. Lima tusukan pisau. Orang-orang berkerumun sambil menutup hidung, polisi memasang batas kuning di lokasi, wartawan gosip memburu sensasi dan dramatisasi. Ada pula pedagang minuman tiban yang melihat kesempatan mengais rezeki. Waktu itu aku disana. Aku sempat melihat mayat artis itu sebelum dikemas ke dalam kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah pukul berapa sekarang. Aku masih menunggui tubuhku. Apa yang tadi terakhir kulakukan sebelum dibunuh? Otakku berhenti sejak tubuhku mati, ingatanku sama sekali tak bekerja. Aku duduk di dekatnya, memandanginya. Kasihan tubuhku. Semut-semut mulai membuat jalur tak putus-putus di sekitar tubuhku, beruntung tak ada burung pemakan bangkai terbang melintas malam begini, atau hewan pengerat yang kebetulan lewat dan terpancing dengan amis darah, sebab aku tak akan sanggup melihat ususku diburai, dan binatang-binatang itu berpesta pora. Tapi keberadaan semut-semut itu pun mulai menyesakkanku. Mereka mulai memasuki lubang-lubang di tubuhku, membawa secuil-secuil entah apa dari tubuhku, sambil bergunjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat wajahnya. Dia cantik."&lt;br /&gt;"Sstt... "&lt;br /&gt;"Tapi dia mati."&lt;br /&gt;"Sstt... "&lt;br /&gt;"Sakit sekali pasti ditombak di situ..."&lt;br /&gt;"Sstt.... Kerja, kerja, kerja. Keburu ditemukan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memeras otak, mengingat saat sebelum aku dibunuh. Tapi otakku sudah beku di dalam kepalaku yang terkulai di atas kerikil. Kerikil? Itu pecahan batu yang hampir sama ukurannya, terlalu besar untuk disebut kerikil. Koral mungkin lebih tepat. Setengah meter dari tempat tubuhku mati adalah batangan-batangan besi, dijajar rapi untuk sebuah tujuan; suara alarm memekakkan lalu gemuruh yang ganjil menggetarkan bumi membersamai sorot sangat terang, muncul tiba-tiba. Tubuhku terlihat jelas dalam cahaya, telentang dalam posisi vitruvian yang tak sempurna dengan jemari seperti hendak mencengkeram, bergetar-getar di permukaan miring hamparan koral, linggis karatan itu tampak seperti tonggak nisan kuburan dukun ilmu hitam. Kelam. Tapi cahaya itu tak berhenti. Setelah kotak-kotak cahaya yang lebih kecil dibelakangnya bergerak cepat melintas di sebelah tubuhku, sepi kembali mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, aku dibunuh di tepi rel kereta api. Dan entah pukul berapa sekarang. Tubuhku mulai kaku. Saat ini yang paling aku inginkan adalah mengambil otakku dan mencungkil kejadian-kejadian dari sana. Aku pernah mendengar di televisi berita pesawat jatuh, selain korban-korban itu, kotak hitam menempati urutan penting untuk dicari. Konon, kotak hitam menyimpan rekaman kejadian terakhir yang bisa dipakai sebagai dasar investigasi. Mengapa manusia tidak dilengkapi dengan perkakas semacam kotak hitam? Mungkin dengan begitu setiap orang akan berpikir dua kali sebelum membunuh orang lain, dan tubuhku tak akan mati dibunuh di pinggiran rel, di atas koral kasar, dirubung ribuan semut dengan linggis karatan menombak angker di ulu hati. Darah sudah mengental menjadi saren. Aku ingin muntah. Tapi aku tetap bertahan di samping tubuhku. Mungkin aku akan menemukan jawaban siapa yang terakhir kali bersamaku di pinggir rel kereta ini, dan mengapa aku dibunuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt3Jkzaz1I/AAAAAAAAAN4/Rj_PyykF9k0/s1600-h/rel.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 108px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt3Jkzaz1I/AAAAAAAAAN4/Rj_PyykF9k0/s200/rel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281445994403909458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali ini lewat tengah malam, meskipun aku tak tahu jam berapa sekarang. Tak ada orang melintas di sini. Pegawai PJKA yang bertugas mengecek rel barangkali pun tak lewat malam ini. Aku sering berpikir mengapa ada orang mau mengerjakan pekerjaan seperti itu; menjinjing lampu ting di saat orang-orang lain tertidur lelap, berjalan puluhan kilometer di jalur kereta api membiarkan istrinya meringkuk sendirian kedinginan di kamar, tapi saat ini tiba-tiba aku merasa sangat membutuhkan salah satu dari mereka. Setelah aku mati dibunuh, tiba-tiba muncul kesadaran untuk jangan pernah meremehkan orang lain, apapun pekerjaannya, apapun isi pikirannya. Suatu hari ternyata aku membutuhkan orang-orang yang tak pernah kuanggap penting dalam hidupku. Suatu hari. Dan ternyata hari itu adalah hari saat aku mati dibunuh. Aku tiba-tiba membutuhkan pegawai PJKA itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang macam apa yang bisa membunuh dengan demikian sadis? Sekilas tadi saat cahaya sorot kereta api menimpa tubuhku, aku melihat pakaian dalamku tercabik. Pakaian luarku entah teronggok di mana.Kulit langsatku tampak pucat tak berdarah. Tampak jelas sekali sebab tubuhku hampir telanjang. Apakah si pembunuh telah memperkosaku pula? Melihat tubuhku yang lumayan molek dan tentunya tadi tak berdaya, sangat mungkin menyulut pula nafsu binatangnya. Mengapa pula ia membunuh perempuan sepertiku dengan linggis karatan yang berat alih-alih menggunakan pisau lipat kecil yang bisa dimasukkan dalam saku? Apakah tadi aku langsung mati saat linggis karatan itu menghujam, atau pembunuhku sempat memutar-mutar linggis itu setelah menancap dan menikmati ekspresi kesakitanku? Waktu masih berada dalam tubuh itu dan hidup, aku memang penggemar kisah-kisah psikopat, aku menikmati kisah-kisah dengan tokoh protagonis sekaligus antagonis pengidap penyakit jiwa yang tampil sangat waras dan innocent. Menurutku tokoh-tokoh berkehidupan ganda memiliki perjalanan hidup yang sangat menarik, penuh tantangan dan lebih mampu mewujudkan imaginasi. Tapi aku benar-benar tak pernah berita-cita menjadi korban seorang psikopat yang orgasme melihat ekspresi sekarat korbannya. Mungkin, pembunuhku tadi pun melenguh puas di tengah-tengah sekaratku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan serakah. Sampai besok ia tak kan habis..."&lt;br /&gt;"Mumpung belum busuk."&lt;br /&gt;"Tinggalkan yang darah-darah..."&lt;br /&gt;"Hmm?"&lt;br /&gt;"Sstt... Kau lupa, di seberang rel ini sawah-sawah semua. Kau tahu artinya itu?"&lt;br /&gt;"Tikus...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut-semut semakin banyak hilir mudik. Bekerja sama sambil bergunjing, seperti ibu-ibu rewang di rumah orang punya hajat. Semut-semut itu  tak punya jam malam, tak mengajarkan anak-anaknya tidur tepat waktu setelah mengerjakan PR. Naluri mereka adalah makan, makan, makan dan beranakpinak. Kapan terakhir kali aku makan, apakah tadi aku sempat makan malam pula dengan pembunuhku? Sebuah skenario muncul; pembunuh itu, mungkin seorang yang kukenal baik. Ia datang ke rumah atau menjemputku entah dari mana lalu mengajakku makan malam. Setelah itu barangkali ia mengajakku menikmati bintang-bintang - bukankah semasa hidup aku sangat menyukai bintang dan menebak-nebak rasi? - dari pinggir rel kereta api ini. Di seberang terhampar persawahan hingga bintang tak terhalang pepohonan apapun. Kemudian, barangkali kami berseteru entah tentang apa. Lalu ia mengambil linggis dari semak-semak dan menombak ulu hatiku.Pembunuh itu kemungkinan seorang laki-laki dan sudah merencanakan hendak membunuhku. Ia telah lebih dulu menyembunyikan batang linggis berkarat di semak-semak dan menggunakannya sesuai rencana. Tapi mungkin juga ia seorang perempuan. Perempuan yang pasti terbiasa dengan benda-benda kotor sebab tak banyak perempuan mau berurusan dengan karat, kecuali jika itu terhubung dengan perhiasan. Jika ia seorang perempuan, mungkin pilihan senjatanya juga lebih manusiawi. Tapi, jika ia seorang perempuan, latar belakang apa yang membuatnya membunuhku? Hidupku biasa-biasa saja, tak ada sesuatu yang bisa membuat perempuan lain merasa iri dan orientasi seksualku termasuk sangat normal. Pembunuh itu, aku hampir yakin seorang laki-laki. Tapi laki-laki siapa? Apakah dia kekasihku atau ayahku? Dalam berita-berita di koran yang pernah kubaca, seorang gadis ditemukan mati di dalam rumah kost, ternyata dibunuh oleh pacarnya sendiri. Mayat gadis cantik yang dibuang di pinggir jalan tol pun, juga dicekik oleh pacarnya sendiri. Tak pernah habis aku berpikir, apakah cinta memiliki alasan untuk membunuh seorang kekasih dan alasan macam apa yang dapat diterima oleh akal sehat? Cinta memang konon tak masuk akal, tapi lebih tak masuk akal jika ia dijadikan alasan untuk membunuh. Pasti bukan cinta pula alasan seorang ayah jika menyetubuhi anak gadisnya sendiri, kemudian membunuhnya dan menyimpan mayatnya di kolong ranjang. Namun, jangan-jangan benar kekasihku yang telah membunuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt17t4UDHI/AAAAAAAAANw/xee0b9ddJFw/s1600-h/blood_oil1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt17t4UDHI/AAAAAAAAANw/xee0b9ddJFw/s200/blood_oil1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281444656810560626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam jantan mulai berkokok. Sepertinya pagi hampir tiba. Sedikit merasa tenang sebab orang-orang akan segera menemukan tubuhku, setidaknya petani-petani yang hendak pergi ke persawahan itu. Aku juga berharap wanita-wanita pedagang di dusun dekat sini melewati pinggiran rel untuk pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Aku belum menemukan jawaban oleh siapa dan mengapa, aku dibunuh. Tubuhku masih tetap kutunggui sebab aku takut jangan-jangan ada anjing liar lapar muncul entah dari mana, menyerobot tubuhku dan mengobrak-abrik tempat itu. Pihak berwajib yang kelak menyelidiki kematianku akan kehilangan bukti-bukti jika tempat itu mosak-masik. Bisa-bisa pembunuhku tetap berkeliaran bebas diluar sana sementara tubuhku digerogoti cacing di dalam kubur, tanpa bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sana..."&lt;br /&gt;"Keretanya setengah lima. Cepat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang. Siluet orang. Berapa orang? Ayam jantan berkokok sahut menyahut sekarang. Semburat kemerahan samar-samar di langit sebelah timur, hampir belum tampak dan entah mengapa aku mulai terangkat naik, melayang di atas tubuhku. Aku panik, seperti Bandung Bondowoso menyadari pagi datang lebih cepat sebelum seribu candinya selesai. Aku berusaha berpegangan pada batang linggis berkarat yang tertancap di ulu hatiku, aku masih ingin menunggui tubuhku dan memastikan ia mendapat perlakuan yang layak setelah benar-benar kutinggalkan. Tapi aku hanya menggenggam udara kosong, tak bisa menyentuh apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Linggisnya. Cabut pelan-pelan."&lt;br /&gt;"Dibuang?"&lt;br /&gt;"Nanti di kali. Jangan di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu berdiri di samping tubuhku. Aku masih melayang-layang, betapapun usahaku untuk turun. Bobotku sepertinya hampir dilupakan oleh gravitasi. Aku hanya dapat melihat di keremangan subuh, dua orang berkudung sarung melakukan sesuatu terhadap tubuhku yang mati itu. Satu orang menginjak perutku yang terbuka dan penuh darah kering, menekankan kakinya sementara kedua tangannya menarik linggis karatan sekuat tenaga. Kawannya mengamati sekitar sambil memicingkan mata, menembus remang subuh. Tubuhku yang sudah kaku tersentak sesaat ke atas. Linggis itu lepas. Meninggalkan lubang hitam keunguan yang menimbulkan rasa ngeri sekaligus jijik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau penasaran tidak?"&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;"Kok dibunuh. Sepertinya bukan orang jahat."&lt;br /&gt;"Banyak orang baik-baik mati dibunuh...."&lt;br /&gt;"Cepat. Seret..."&lt;br /&gt;"Kau penasaran tidak? "&lt;br /&gt;"Bukan urusan. Tugas kita hanya memindahkan mayat ini. "&lt;br /&gt;"Kenapa tidak langsung dipindahkan tadi setelah dibunuh? Aneh orang itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bekerja bergegas. Tubuhku diseret seperti karung dedak di tempat penggilingan. Aku mendorong sekuat tenaga menggapai turun untuk mencegah, tapi aku tetap melayang-layang. Aku ingin berteriak keras-keras saat ini, jika tak mungkin mencegah mereka menyeret tubuhku setidaknya aku bisa bertanya siapa yang membunuhku, dan mengapa. Aku tak ingin mati penasaran seperti kisah-kisah dalam film, lalu menjadi hantu di pohon besar dan balas dendam. Dan sekarang tubuhku sudah berpindah dari permukaan koral miring itu, hanya setengah meter. Mereka meletakkan tubuhku yang kaku melintang di atas dua lajur besi. Mereka terengah. Aku yakin bukan sebab tenaga yang digunakan saat menyeret tadi, itu hanya butuh satu menit. Mungkin sesungguhnya mereka pun menanggung beban melakukan ini atas tubuhku. Kemudian, sehelaan nafas, suara alarm seperti yang kudengar tadi malam mengagetkan mereka. Alarm itu terdengar panjang dan jauh, dan batangan-batangan rel mulai bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo cepat! Bawa linggisnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah menyelinap hilang saat sorot cahaya menyapu tempat itu. Tubuhku kembali terlihat jelas seperti tadi malam saat sorot yang sama muncul; posisi vitruvian tak sempurna, setengah telanjang, namun tanpa linggis karatan menancap ulu hati. Melintang di sana. Mati. Bergeser-geser sedikit sebab getaran rambat dari sesuatu yang besar dan sedang bergerak sangat cepat. Aku berusaha menggapai turun, tapi aku semakin melayang naik, semakin jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah menit kemudian sunyi. Getaran di batangan rel semakin lemah dan hilang. Lalu ayam jantan berkokok makin riuh. Ufuk timur berwarna merah darah. Aku melesat cepat. Gravitasi sudah tak mengenaliku lagi. Aku hanya tinggal perasaan dan emosi, pertanyaan dan dendam. Beberapa jam yang lalu aku dibunuh, ditombak dengan linggis karatan entah oleh siapa, mungkin pula sebelumnya diperkosa, namun hari ini di koran sore akan muncul foto sisa tubuhku yang hancur lebur -disensor kotak-kotak- di halaman kriminal; Dilindas KA, Gadis Tak Dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mengapa dia membunuhku?&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1676669695885722608?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1676669695885722608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1676669695885722608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1676669695885722608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1676669695885722608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/12/aku-dibunuh.html' title='Aku Dibunuh'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUt6PJkqWoI/AAAAAAAAAOA/OsdjW3uGyYw/s72-c/intentions-of-murder-rail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3349083971502547072</id><published>2008-12-18T19:52:00.004+07:00</published><updated>2008-12-18T20:10:52.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Dari Diary</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berapa lama sudah kita lupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menziarahi kuburan mimpi di pinggir jalan ke pantai&lt;br /&gt;aku lupa membawa uba rampe. bunga, kemenyan dan sisa &lt;br /&gt;parfum bermerk pierre cardin tertinggal di kamar. entah&lt;br /&gt;di atas sprei kusut atau di bibir bak mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semalam aku menombak wajahmu&lt;br /&gt;yang lancang berkeliaran meributi malam seperti dengung nyamuk&lt;br /&gt;pagi harinya aku tak ingat menyiapkan segala uba rampe&lt;br /&gt;aku sibuk mengingat dimana kuletakkan pakaianku&lt;br /&gt;semalam kusampirkan sebagai ganti tirai. jendela yang berharihari &lt;br /&gt;kubiarkan terbuka buat menguapkan nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku lupa, sayang, berapa lama sudah kau juga lupa&lt;br /&gt;membaca puisipuisi berdebu dalam komputermu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;anak sungai glagah malam hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;derik. gesekan batangbatang kalanjana&lt;br /&gt;membukakan pintupintu mimpi&lt;br /&gt;ada gemuruh di bawah sana. arus terjun pada dam&lt;br /&gt;terdengar sampai ke pintupintu yang terbuka&lt;br /&gt;perlahan. mengasingkan kita&lt;br /&gt;pada sebuah ruang luas; mengabarkan kenyataan&lt;br /&gt;malam ini &lt;br /&gt;kita masih berdiri di tentang pintu mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUpLTmEfZOI/AAAAAAAAANg/80-FZqEpAk0/s1600-h/dw.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUpLTmEfZOI/AAAAAAAAANg/80-FZqEpAk0/s200/dw.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281116313054307554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perkara Tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tubuhku tubuh perempuan. tumbuh dalam kota penuh mimpi buruk&lt;br /&gt;di mana anjing penjaga dijagal tuannya sendiri kemudian tulangbelulangnya dilempar&lt;br /&gt;keluar jendela usai makan malam; hidup dalam kepala&lt;br /&gt;                                  membungkus benih pemberontakan&lt;br /&gt;dua puluh enam, kota menciptakan makhlukmakhluk dari mimpi buruk&lt;br /&gt;di dalam tubuhku. tubuh perempuan. perselingkuhan yang indah tak mampu&lt;br /&gt;memabukkanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tubuhku tubuh perempuan sampai aku memperkosa si tuan yang menjagal &lt;br /&gt;anjing penjaganya. di ruang makan yang redup dan penuh sisa makanan anjing&lt;br /&gt;dua puluh enam makhluk keluar dari tubuhku hinggap di dinding. di langitlangit&lt;br /&gt;kota kerlipkerlip di luar jendela terkekeh puas; pemberontakanku bukan&lt;br /&gt;sebab mabuk perselingkuhan dan cinta segitiga terlampau panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau memaki.&lt;br /&gt;aku selesai. &lt;br /&gt;makhlukmakhluk mimpi buruk menjilati sisa tubuhku di tubuh si tuan; sepertinya aku&lt;br /&gt;masih perempuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3349083971502547072?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3349083971502547072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3349083971502547072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3349083971502547072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3349083971502547072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/12/dari-diary.html' title='Dari Diary'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SUpLTmEfZOI/AAAAAAAAANg/80-FZqEpAk0/s72-c/dw.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1425277593233571695</id><published>2008-11-27T21:59:00.002+07:00</published><updated>2008-11-27T22:06:44.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Stasiun-stasiun</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keberangkatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuan buta di peron stasiun. menunggu&lt;br /&gt;seperti pesakitan. detik terakhir sebelum peluit &lt;br /&gt;melengking sampai dada; seorang lelaki yang menjanjikan &lt;br /&gt;kornea. demi kenikmatan memandang bumi berlari&lt;br /&gt;ke belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kepalanya bertumbuhan ladangladang&lt;br /&gt;gunung. burungburung putih di atas sawah&lt;br /&gt;kebun strawberi. dan hujan. gelandangan&lt;br /&gt;meminum sisa dari plastik es yang dilempar keluar jendela&lt;br /&gt;dan wajahwajah pengantarnya. di peron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiga hari yang lalu&lt;br /&gt;"bawa korneaku denganmu, di hari keberangkatan&lt;br /&gt;untuk menebus segala kecintaan yang kubatalkan"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;peluit melengking sampai dada. peron beranjak dari rabaannya&lt;br /&gt;terakhir kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; lelaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  yang menjanjikan kornea&lt;br /&gt; berjingkat melintasi ladangladang. di kepalanya. &lt;br /&gt; di hari keberangkatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS63Q7e8S-I/AAAAAAAAANY/4iNijGa0HNc/s1600-h/15102008047a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS63Q7e8S-I/AAAAAAAAANY/4iNijGa0HNc/s200/15102008047a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273353715170692066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada kedatangan di tubuh maghrib &lt;br /&gt;macet. suntuk menyambut di stasiun&lt;br /&gt;hirukpikuk. menyumpalkan guguran waktu&lt;br /&gt;antara celah besi rel hitam&lt;br /&gt;dan cericit sms dalam handphone&lt;br /&gt;menghitung waktu mundur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaleidoskop. gambar dalam otak&lt;br /&gt;ditambah keliar matarasa dari jendela &lt;br /&gt;kereta. dan sepincuk tangis anakanak di gerbong &lt;br /&gt;makan&lt;br /&gt;sampai di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kedatangan yang paling murung. ujung jarum&lt;br /&gt;jam murung. menulisi ingatan dengan sebait &lt;br /&gt;sajak; waktu jadi gasing. hitungan mundur makin detik&lt;br /&gt;ketika stasiun hilang. cericit dalam handphone &lt;br /&gt;beranakpinak dari keberangkatan yang mencacah &lt;br /&gt;tubuhku di celahcelah besi rel. hingga. semaghrib ini&lt;br /&gt;selasar pintu keluar adalah waktu yang menjadi suam&lt;br /&gt;di dalam hitungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulipat waktu di dalam saku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Hardest Part&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota tanpa pantai. aku masih membaui laut&lt;br /&gt;dari poripori kulit. seperti minyak wangimu&lt;br /&gt;senyawai lindap selimut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu kerinduan, serbuk laten dari arah &lt;br /&gt;keberangkatan. bertahan &lt;br /&gt;dengan memakan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan. telah kutinggal di trotoar pada hari sibuk&lt;br /&gt;ketika rasa hirukpikuk. sebelum jarum jam berputar &lt;br /&gt;mabuk. di kota lain. tempat asal&lt;br /&gt;tercium asin. lantas apa?; persetubuhan &lt;br /&gt;kerinduankenangan. melahirkan anakanak yang tak patuh&lt;br /&gt;pada petuah. ribut mendobrak bilik hukuman&lt;br /&gt;(sederhana saja, kata siapa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka sejumput liar keringat sendiri . penat dan kuyup&lt;br /&gt; mengayuhkayuh. di pusat kota&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; kesepian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1425277593233571695?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1425277593233571695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1425277593233571695' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1425277593233571695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1425277593233571695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/11/stasiun-stasiun.html' title='Stasiun-stasiun'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS63Q7e8S-I/AAAAAAAAANY/4iNijGa0HNc/s72-c/15102008047a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6927427772015048818</id><published>2008-11-27T21:48:00.004+07:00</published><updated>2008-11-27T21:58:29.676+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Sang Parang Jati; A Review To Bilangan Fu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS6z3JQox5I/AAAAAAAAANQ/6lILNls8hCE/s1600-h/fu3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS6z3JQox5I/AAAAAAAAANQ/6lILNls8hCE/s200/fu3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273349973657307026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bilangan Fu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                   Ayu Utami&lt;br /&gt;                   KPG, 2008&lt;br /&gt;                   537 hal&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah orang yang tak pernah merencanakan judul buku yang hendak saya beli sehingga kegiatan ke toko buku hampir selalu memakan waktu berjam-jam. Kebiasaan yang memang sangat tidak efektif.. he..he.. Tapi akhirnya sore itu saya mengakhiri jelajah saya di sebuah toko buku diskon di Bandung (jangan tanya spesifiknya sebab saya belum terlalu hafal jalan-jalan di kota kembang, sampai ke toko buku itu juga berkat tanya-tanya sama sopir angkot :D), dengan membayar Bilangan Fu di kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu Utami, penulis perempuan peraih Prince Claus Award tahun 2000 (karena dianggap memperluas cakrawala sastra Indonesia) kembali menetaskan sebuah novel bertajuk Bilangan Fu. Cetakan pertama bercover warna coklat keemasan yang tidak terlalu menarik, menurut saya, apalagi jika saya bandingkan dengan beberapa buku Dee dengan cover hitam ekslusifnya (karena saya suka warna hitam?), atau tetap kalah menarik juga jika dibandingkan dengan Recto Verso -buku terbaru Dee- yang bercover warna hijau cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 537 halaman, novel ini pada awalnya berkisah tentang dan dari sudut pandang seorang pemanjat tebing bernama Yuda. Ia memiliki pertanyaan kabur tentang sebuah bilangan, yang jawabannya selalu dibisikkan oleh sosok dalam mimpi-mimpi intimnya , sebagai bilangan Fu. Pada suatu ketika, Yuda bertemu dengan Parang Jati, pemuda berjari dua belas yang kelak menjadi sahabat yang mengubah jalan hidup dan agamanya dalam pemanjatan tebing. Sejak pertemuan Yuda dan Parang Jati, sentral novel ini beralih ke kehidupan Parang Jati. Parang Jati bayi ditemukan di sebuah mataair, kemudian diangkat anak oleh guru kebatinan dan dididik untuk menanggung segala sesuatu. Parang Jati menjelma pemuda kritis yang tidak mengukur apa yang metaforis secara matematis, dan tidak yang spiritual secara rasional. Ia pejuang pelestarian alam, dan menggagas pemanjatan bersih kepada kelompok Yuda, sebagai wujud penghormatan terhadap alam. Menurut iman kritisnya, alam banyak memberi tanda kepada manusia. Iman kritisnya membuat ia seolah mencampuradukkan agama, berada di antara Tuhan dan Nyi Roro Kidul, sebagai bilangan Hu, bilangan satu yang juga nol. Hal ini ditentang oleh Farisi, adiknya yang sama-sama ditemukan di mataair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian kejadian aneh dan berbau mistis, seperti orang bangkit dari kubur (pada akhir cerita, akhirnya ketahuan kalo mayat mereka ternyata dicuri sebagai pemenuhan syarat menuntut ilmu hitam), penampakan tuyul dan makhluk-makhluk aneh, teror pembunuhan dukun santet, ninja, isu aliran sesat mewarnai perjuangan Parang Jati menyelamatkan alam. Melibatkan pula militer yang akhirnya membuka jalan kematian bagi Parang Jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada Marja, gadis kekasih Yuda yang digambarkan bertubuh kuda teji dan bersenyum matahari. Ia adalah 'manusia' di antara Yuda yang 'setan' dan Parang Jati yang 'malaikat'. Terjadilah sebuah kisah cinta segitiga yang dimengerti oleh mereka bertiga tanpa membutuhkan pengungkapan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa menarik novel ini? Ayu Utami dengan kepiawaiannya meramu flasback dan memasukkan sejarah-dongeng menjadikan Bilangan Fu tidak membosankan untuk dibaca, sebab kita dibawa meloncat dari satu masa ke masa yang lain, dari kejadian sejarah-dongeng semacam Sangkuriang dan Siung Wanara hingga sejarah kontemporer yang berlatar waktu seputar reformasi. Penulis ini menggunakan simbol dan gambar-gambar untuk memperkuat penggambaran dalam novelnya. Dalam beberapa tempat gambar-gambar itu terasa mengganggu – kalo gak mau disebut merusak- imajinasi pembacanya, namun dalam beberapa tempat memang terasa diperlukan, misal dalam penggambaran tokoh pewayangan dan pohon silsilah dari Babad Tanah Jawi. Ayu Utami pun membuat simbol dan gambar itu lebih 'santai' hingga menjadi jenaka, seperti kejenakaan yang juga muncul dalam celetukan-celetukan sepanjang novel. Tapi Ayu Utami, sama halnya dengan kekhasan Saman dan Larung, memasukkan banyak kata berunsur seks sangat kental. Mereka yang pernah membaca Ayu Utami tentu tidak kaget lagi dengan perumpamaan-perumpamaannya tentang organ reproduksi pria dan wanita. Begitulah :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nukilkan dari cover belakang sbb:&lt;br /&gt;'Ia menamai novelnya 'spiritualisme kritis' yaitu yang mengangkat wacana spiritual -keagamaan kebatinan maupun mistik ke dalam kerangka yang menghormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya, yang mengangkat wacana keberimanan tanpa terjebak dalam dakwah hitam putih.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bilangan apakah Fu, yang selalu menghantui Yuda? Ia sayup-sayup menyingkap dirinya di antara kejadian, di antara kisah Parang Jati sang Hu, di antara semua itu pokoknyalah...he..he.. biar gak penasaran baca aja sendiri. By the way, hari itu saya cukup puas membawa pulang Bilangan Fu setelah tak mendapatkan referensi Photoshop yang saya butuhkan. Namun sebab kegiatan ke toko buku yang tidak pernah efektif itu, saya jadi kehabisan waktu, rencananya mau ke BEC liat-liat T650, katanya lagi turun harga. Hikz. Gak jadi deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inside the book :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hu adalah bilangan sunyi. Hu adalah dimana satu dan nol menjadi padu. Sebab ia bukan bilangan matematis, melainkan metaforis. Dia bukan bilangan rasional, melainkan spiritual.&lt;br /&gt;(hal 304)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...bahwa alam, seperti Tuhan, bersifat pasti. Reduksinya: ilmu, seperti agama, bersifat pasti. Yakni, bisa diturunkan ke dalam dalil-dalil yang bersifat pasti pula. Inilah sikap yang dirumuskan Parang Jati sebagai 'memaksakan kerangka matematis kepada yang metaforis, memaksakan kerangka rasional kepada yang spiritual'&lt;br /&gt;(hal 353)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku. Tiba-tiba yang kuinginkan adalah menringkus anak nakal itu di sana, membentangkannya, dan membiarkan Parang Jati memuaskan gemasnya ke tubuh kucing liar yang akan mencakar-cakar punggungnya hingga berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik seharusnya aku melakukannya, aku tidak melakukannya. Aku takut kehilangan sesuatu. Jika itu terjadi, akankah hubungan kami tetap sama lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen pertama telah dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Marja masih berbaring memasang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Parang Jati masih mematung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu pada masing-masing kami telah ada embun yang membasahi kain.&lt;br /&gt;(hal 430)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Marja ada di sini, akan kukatakapadanya bahwa kita berdua adalah dua atom yang mengikatkan diri dalam sebuah molekul zat asam. Kita bahagia. Tapi sebuah atom yang sendiri bernama Parang Jati tiba-tiba datang melekat. Dan kita menjadi sebuah molekul dengan tiga atom. Kita menjelma Ozon yang bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku adalah bilangan satu, Marja bilangan nol, Parang Jati adalah bilangan Hu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti Ozon. Atom yang sendiri itu- yang tiba-tiba menyusup mengikatkan diri kepada sepasang atom O yang hidup bahagia dan menjelma entitas ketiga – tidakkah dia sebelumnya memiliki pasangan juga? Kemana pasangannya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin bertiup dari belakang. Dari arah bukit batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pengetahuan dalam diriku, seolah dari sel-sel asam darahku, bagaikan menjawab pertanyaan itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bilangan itu bernama Fu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fu adalah dengan siapa Hu sebelumnya mengikatkan diri, sebelum radiasi memisahkan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(hal 523-524)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6927427772015048818?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6927427772015048818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6927427772015048818' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6927427772015048818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6927427772015048818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/11/sang-parang-jati-review-to-bilangan-fu.html' title='Sang Parang Jati; A Review To Bilangan Fu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SS6z3JQox5I/AAAAAAAAANQ/6lILNls8hCE/s72-c/fu3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1484444794072355851</id><published>2008-10-13T20:41:00.003+07:00</published><updated>2008-10-13T20:47:54.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Anak Laki-Laki Di Teras Rumah Dua Belas Tahun Yang Lalu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin dia bukan siapa-siapa kami. Aku bahkan tak mengenalnya hingga suatu sore ia berdiri di teras rumah, mengepit tas kain kumal,bercelana pendek dan kaos oblong yang sudah mulur. Kakinya polos tanpa alas. Waktu itu aku yang teringat film-film dengan adegan seorang ibu berpesan kepada anaknya ; don't talk to stranger, langsung berlari ke dalam rumah, menjumpai kedua orang tuaku. Mereka keluar, dengan aku membuntut memegangi rok ibuku. Anak kecil itu berdiri menggigil sebab gerimis tiba-tiba bertambah deras. Rambutnya yang masai menutupi sebagian wajahnya. Ayah membimbingnya masuk. Ibuku mengeluarkan serentet pertanyaan seperti muntahan peluru di serial Combat sambil menepiskan peganganku pada roknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNRXP6g5qI/AAAAAAAAANI/ARFF_NUV1Ws/s1600-h/PICT0214.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNRXP6g5qI/AAAAAAAAANI/ARFF_NUV1Ws/s200/PICT0214.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256634649922299554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah duabelas tahun berselang. Anak itu tumbuh bersama-sama denganku. Ibuku sudah enggan lagi bertanya siapa gerangan dia sebab ayahku akan selalu bilang ; dia tak penting. Ibuku sudah tak bertanya-tanya lagi akhirnya. Tapi rupanya keingintahuan seorang perempuan melebihi apapun. Rasa ingin tahu ibu bertahan melewati tahun sampai aku tumbuh dewasa dan anak laki-laki asing itu juga. Apakah ia anak ayah dengan perempuan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ibuku berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu tak membenci siapapun, apalagi hanya anak kecil kumal yang tiba-tiba datang di tengah gerimis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja tapi menemukan kelelahan sarat di mata ibuku. Setelah itu ia mengiris kubis sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu tumbuh baik. Ia rajin membantu ayahku di ladang pantai kami. Ia betah menyiangi rumput liar di antara tanaman cabe merah, terbakar matahari. Jika musim bertanam melon, ia akan terlibat dari penanaman benih hingga mengangkut melon-melon matang ke bak pick-up. Kulitnya semakin hari semakin legam tapi ia jauh lebih bersih daripada ketika pertama kali datang ke rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari yang lembab seperti saat pertama kali dia datang, aku dan anak laki-laki itu bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu selalu sedih karena aku?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Barangkali jika kau mau beritahu siapa kau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu, aku bisa membaca apa yang akan terjadi besok. Maka biarkan apa yang tak diketahui tetap begitu adanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Zaman sudah sangat maju, meski kami hidup di desa aku sudah tak percaya lagi dengan hal-hal berbau mistis dan supranatural. Aku lebih percaya pada internet. Maka kubiarkan dia menunggu gelakku habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak percaya kan? Tapi ayah dan aku percaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari itu, dia berusaha membuatku percaya bahwa ia bisa membaca masa depan. Ke kamarnya yang penuh dengan gambar konstelasi zodiak anak laki-laki itu sering menuntunku masuk. Di dalam ia akan mencoret-coret menunjukkan gambaran di pikirannya tentang ayam-ayam ayah, berapa bertelur minggu ini, berapa ton hasil ladang cabe, dan ikan apa saja yang dibawa pulang nelayan di pantai dekat ladang kami. Suatu kali ia tak mencoret-coret tapi menatapku dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa-apaan sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssstt. Aku sedang membaca masa depanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, katakan saja padaku apa soal ujian besok daripada kau baca masa depanku. Itu lebih penting buatku." Aku tergelak dan dia melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku, menangkap kelebatan anak laki-laki itu menuntun aku masuk ke kamarnya suatu sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak tahu siapa dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku mengiris kubis keras-keras, hingga aku khawatir jika meleset dan mengenai tangannya tanpa sadar seperti perempuan-perempuan di perjamuan Zulaikha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya bercakap-cakap. Katanya ia bisa membaca masa depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku makin keras mengiris kubis. Aku merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu telah membawa warna yang lain ke rumah kami. Aku merasakan kegembiraan seorang ayah memiliki anak laki-laki yang bisa diajaknya mengerjakan ladang.  Aku tak mungkin membantunya sebab sedikit saja kulitku terkena rumput maka gatal-gatal seluruh badan dan ibuku sambil berkeluh akan membedaki ruam-ruam di kulitku. Tapi di dalam rumah ada bara yang juga siap meledak. Aku masih ingat muntahan pertanyaan seperti rentet peluru di serial Combat itu, dan setelah bertahun-tahun ini, masih banyak ranjau tertanam yang siap meledak. Ayahku tak pernah berkata apa-apa tentang anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada sebuah subuh, aku masih meringkuk di bawah selimut setelah terlambat tidur sebab harus mengetik berlembar-lembar laporan praktikumku, terdengar gaduh di ruang tengah. Aku beranjak melawan dingin sebab suara itu membuatku tak bisa lagi memejamkan mata. Daun pintu perlahan kubuka sedikit, berusaha tak menimbulkan derit. Cahaya lampu panjeran di ruang tengah yang redup tak menghalangiku melihat apa terjadi. Anak laki-laki itu berdiri di tengah ruangan, membelakangi televisi yang tak menyala. Ayahku duduk dan ibuku berdiri di tentang pintu antara ruang tengah dan dapur. Dan, seorang lelaki tak kukenal berdiri membelakangi pintu kamarku hingga tak kulihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah saatnya ia menjadi hakku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana dengan janjimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bagaimana bisa waktu dua belas tahun tak kau gunakan dengan benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku menatap mereka silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janji apa yang kau tunggu sebab anak laki-laki ini?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki asing itu memandang ibuku. Aku melihat ibuku yang meradang seolah tunduk di bawah tatapan laki-laki itu. Ayahku seperti hendak menjelaskan sesuatu tapi hanya terkunci di mulutnya. Aku melihat ruang tengah terbalut suasana mistis. Bukankah aku tak percaya pada hal-hal semacam ini? Tapi tak bisa kucegah tiba-tiba aku merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki  tak kukenal itu memanggil si anak laki-laki dengan isyarat tangan. Anak laki-laki itu mendekat. Mereka kemudian pergi tak berkata-kata. Ibuku beku di tentang pintu dan ayahku duduk terpaku. Aku menutup pintu. Tak tahu apa yang kupikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berubah esok harinya, kecuali ibu yang semakin riang, suara irisan kubisnya terdengar merdu, dan ayah yang terlihat lebih murung. Anak laki-laki yang dua belas tahun lalu berdiri di teras kami itu, aku tak pernah tahu siapa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;published on&lt;/span&gt; Lontar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1484444794072355851?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1484444794072355851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1484444794072355851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1484444794072355851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1484444794072355851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/10/anak-laki-laki-di-teras-rumah-dua-belas.html' title='Anak Laki-Laki Di Teras Rumah Dua Belas Tahun Yang Lalu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNRXP6g5qI/AAAAAAAAANI/ARFF_NUV1Ws/s72-c/PICT0214.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-7359925755582849126</id><published>2008-10-13T20:22:00.007+07:00</published><updated>2008-10-13T20:40:10.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Journeyed So Far To Be With You</title><content type='html'>Pukul tujuh pagi. Detik ia menatap gelas bening bergaris merah itu, sebuah rasa aneh hinggap tiba- tiba, yang seketika menghentikan ketukan jarinya pada keyboard. Terbayang paras Winar. Ia memejam sejenak. Menghalau. Kelebatan peristiwa tak akan membuatnya mampu menyelesaikan apa yang sudah dimulainya sejak satu jam yang lalu. Ia tak akan berhenti sekarang sebab ia tak akan pernah mampu menyelesaikannya nanti. Sebuah kebiasaan. Betapa berhenti akan menghapus semua ide segar di kepalanya. Maka jarinya kembali menari di atas keyboard. Persetan dengan Winar. Sekuat apapun paras eksotik itu melibas waktu dalam kepalanya. Ia akan menemuinya nanti sesuai janji tanpa pernah tahu semua takkan berjalan sesempurna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh koma lima kilometer darinya, seorang gadis bercelana jeans dan jaket kulit yang dikancingkan menutup leher, berdiri di halte bus. Sembab langit yang bergerimis membuat kesan indah seperti cuplikan adegan film; seorang perempuan menunggu kekasihnya di halte bus. Tapi Winar tidak sedang menunggu kekasihnya. Ketika bus kota dengan iklan sabun mandi berhenti, ia bergegas masuk. Rambut lurusnya berkibar ketika bus melaju dan angin meniupnya dari jendela kaca yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia resah. Berkali-kali matanya singgah pada gelas bening di atas meja. Semalam diseduhnya kopi Lampung oleh-oleh dari temannya. Sisa ampas mengendap kehitaman di dasar gelas. Entah kenapa semalam ia lupa menandaskan ampas kopi itu, biasanya ia meminum kopi beserta ampas-ampasnya. Ketukan jarinya berhenti lagi. Layar monitor dipandangnya seolah memandang kapal di kejauhan dari tepi pantai. Telepon selulernya berdering. Lengking gitar Yngwie dalam Like An Angel mengembalikan kesadarannya. Pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smua yg g mgkin bs jd mgkin jika dipaksa. Kdisiplinan jg bentuk paksaan kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cinta jg dipaksa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Dipaksa oleh cinta itu sndiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah delapan. Pantai berdebur di luar jendela. Ia berjalan ke jendela. Menyibakkan tirai dan menikmati lanskap favoritnya, impiannya sejak kanak-kanak; berumah di tepi pantai. Ombak berkejar-kejar ditingkah gerimis. Ia benar-benar tak mampu melanjutkan draft dalam komputer. Kepalanya mendadak kosong. Sh*t!. Ia meninju birai jendela. Ini kali keberapa betina itu membuatku kesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas tanpa kenikmatan. Cuci muka. Makan sereal coklat bola-bola dengan susu putih. Minum jus instan. Puntung rokok dan botol bir masih bertebaran, sisa kawan-kawannya nonton bola tadi malam. Hampir subuh tadi kawan-kawannya baru pulang. Ia terlelap dan bangun pukul enam, menyalakan PC untuk ide yang tiba-tiba memberontaki otaknya. Tapi pagi ini betina itu menggagalkanku lagi! Ia menelan sereal dengan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun lalu ia mengenal Winar. Mahasiswi jurusan komputer. Rambutnya yang lurus tersapu angin di jendela bus kota sore itu. Menggerakkan sesuatu di hatinya, hingga berlama-lama memandang dan tersadar ketika kondektur menyenggolnya meminta ongkos. Terlalu banyak kebetulan di dunia ini, ia yakin bahwa kebetulan juga yang membawanya kembali bertemu Winar dua minggu kemudian, di dalam bus kota yang sama, suasana yang sama, angin yang sama. Kali ini ketika mata mereka bersitatap, ia tersenyum. Gadis itu membalas. Terbayang Monalisa di dinding kamarnya. Saat penumpang di sebelah gadis itu turun ia memanfaatkan situasi. Duduk bersebelahan. Deretan puisi cinta yang dihafalnya mulai mendesak-desak. Tapi ia memutuskan ini bukan saat yang tepat kecuali ingin dianggap sebagai orang aneh. Jadi ia cuma bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau seperti Monalisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Da Vinci?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum penuh rahasia. Lalu menambahkan di akhir senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Da Vinci membuat orang bertanya-tanya apa arti senyuman Monalisa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ia cantik, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Monalisa tak hanya memiliki kecantikan perempuan, entah kenapa Da Vinci menambahkan garis maskulin di wajahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia angkat bahu. Untuk sebuah perkenalan, perbincangan ini lumayanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku Angin"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namamu aneh. Winar." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dentang jam beker yang dipasangnya untuk pukul delapan tepat berdering nyaring. Ia nyaris terlonjak sebelum akhirnya menyumpahserapahi jam beker warna perak di atas lemari es. Merapikan sisa sarapan seadanya, lalu bergegas menyambar handuk. Beberapa detik kemudian terdengar teriakannya membaca puisi keras-keras di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winar turun di depan sebuah gereja kuno. Ia menarik jaket kulit di pergelangan untuk melihat jam tangan. Pukul delapan. Masih ada satu jam lagi dari waktu yang disepakati. Gerimis sudah berhenti. Ia memutuskan menunggu di bangku taman gereja itu. Ia tahu Angin akan tiba-tiba muncul seperti biasanya. Di manapun mereka sepakat bertemu, Angin akan muncul dari sudut yang tak disangkanya. Winar mengitarkan pandang ke seputar halaman gereja, menduga-duga kelak dari mana Angin akan muncul. Ia tak akan menghubungi ponsel Angin sekarang. Ia penyuka kejutan. Ia tak pernah tahu kejutan kali ini tak akan seperti biasanya. Winar bersenandung. Like an angel you came to me and now I see - the stranger in me is finally free to feel true love**.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membutuhkan lima menit untuk mandi. Termasuk di dalamnya memikirkan kalimat selanjutnya dari tulisan yang tengah digarap tadi. Separuh pikirannya yang lain melayang pada Winar yang mungkin saja telah tiba di tempat yang dijanjikannya untuk bertemu. Ia selalu datang lebih awal. Betapapun betina itu mengesalkanku, sh*t, aku mencintainya! Ia menutup pintu kamar mandi dengan satu bantingan keras. Betapa aku mencintainya! Dan betapa ia begitu skeptis terhadap penulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monalisa itu, suatu senja mengusik kedamaian di antara mereka. Hanya sesaat setelah suratkabar yang memuat tulisan Angin dilempar pengantar koran di halaman rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mencintaiku, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk. Tak mengerti mengapa pertanyaan itu meluncur dari bibir Winar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berhenti menulis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kata yang dirasakannya seperti sambaran petir di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alasan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka dekat dengan kebiasaan buruk. Merokok, minum, tak kenal waktu, tak kenal ruang. Hidup di wilayah abu-abu. Kadang berbahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak semua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winar menyebut nama penulis-penulis penyabet award, yang merokok, minum, bergaul demikian bebas bahkan ketika sedang diwawancara televisi, ada juga yang melepas jilbab setelah jadi penulis. Ada yang dibunuh. Dibuang ke pulau terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau suka lukisan. Artinya kau penikmat seni. Aku tak mengerti. Menulis juga seni, Winar, hanya menyatakan diri dalam kalimat-kalimat dan imaginasi, bukan warna dan garis seperti lukisan. Lagipula tak semua penulis seperti kau kata itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memaksamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang tak mungkin tak bisa dipaksa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggumam sambil berpakaian. Kelebatan peristiwa seperti itu selalu membuatnya kehilangan ide di tengah-tengah menulis. Persetan dengan Winar! Betina itu tak akan membuatku berhenti menulis. Ia merancang kata-kata dalam menit yang tersisa. Ia mampu menemukan sesuatu yang tepat, biasanya, dalam keadaan mendesak. Seperti malam itu ketika artikel dan gambar-gambar bertebaran di kaki kursinya. Kepalanya pening sekali, sebotol bir sudah tandas ke perutnya. Ia memejamkan mata, membayangkan semua yang ada di sekitarnya. Lalu seperti kaleidoskop, peristiwa berlaluan di kepalanya membawanya pada satu penemuan penting yang sangat mengejutkan. Lalu seperti kesetanan ia mengurutkan artikel-artikel, gambar-gambar. Tertawa keras dan puas sebelum jemarinya menggila di atas keyboard. Pagi hari berikutnya di surat kabar nasional terungkaplah jaringan penjualan gadis-gadis ke luar negeri yang melibatkan seseorang, yang sebulan lalu dicopot jabatannya. Ia puas menyaksikan hasil pencariannya selama beberapa bulan. Ia mengatakan pada Winar, ia menulis puisi, cerita-cerita pendek, essay, tapi menulis di wilayah berbahaya membuat adrenalinnya terpacu lebih deras. Puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNPkvI-ZNI/AAAAAAAAANA/OAJgY225nTg/s1600-h/ax.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNPkvI-ZNI/AAAAAAAAANA/OAJgY225nTg/s200/ax.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256632682619495634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melirik gelas bening di atas meja. Semalam ia memilih kopi daripada bir yang dibawa dan ditawarkan oleh kawan-kawannya. Gelas bening bergaris merah pemberian Winar. Untuk mengganti botol bir, katanya. Ah, Winar sedang menunggu. Hanya butuh tujuh menit untuk sampai di gereja kuno itu. Ia menyambar kunci sepeda motor dan setengah berlari menuju pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winar masih bersenandung. Burung gereja bercicit-cicit di lubang angin. Hawa pagi setelah gerimis begitu segar. Bau rumput. Winar menghirup dalam-dalam seolah ia tak akan menghirupnya lagi esok hari. Ia selalu takut kehilangan waktu-waktu penting dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan kurang tujuh menit..Dari arah mana Angin akan muncul? Ia telah mengenalnya setahun ini. Ia mencintainya. Ia mencoba memahami kepuasan Angin meskipun khawatir telah salah mencintai orang yang hidup dengan kebiasaan begadang berteman komputer, rokok dan bir, dan menulis sesuatu yang bisa saja kelak membahayakan dirinya. Okey lah, aku tak akan menyinggung apapun tentang menulis hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pegangan pintu baru saja ditariknya. Ia terdorong ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Winar melihat jam tangan. From heaven I knew you were born. On the wings of love you were brought to me. I've been longing for truth, journeyed so far to be with you**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kekuatan lain di luar pintu mendorong masuk. Dan satu detik berikutnya pintu kembali tertutup rapat. Kilatan itu menghentikan arus pikirannya pada Winar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan tiga puluh menit. Ponsel Winar berdering. Dalam gelisah ia membuka pesan. Setengah hari kemudian, orang-orang menemukannya masih duduk di sana memandang matahari yang sedang  memasuki gerbang pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** )Penggalan lagu Like An Angel, Yngwie Malmsteen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;published on&lt;/span&gt; Alis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-7359925755582849126?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/7359925755582849126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=7359925755582849126' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7359925755582849126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7359925755582849126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/10/journeyed-so-far-to-be-with-you.html' title='Journeyed So Far To Be With You'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPNPkvI-ZNI/AAAAAAAAANA/OAJgY225nTg/s72-c/ax.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5260022736472133037</id><published>2008-10-12T21:27:00.007+07:00</published><updated>2008-10-12T21:43:33.322+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>SAJAK-SAJAK KEPADA SESOSOK SEPI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;subuh ini aku telah menjejak dasar palung&lt;br /&gt;tempat kau letakkan hatimu di tengah cangkang&lt;br /&gt;mutiara&lt;br /&gt;setelah semalaman&lt;br /&gt;aku menyelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi matahari terlalu lekas menembus&lt;br /&gt;;aku sobek di dada&lt;br /&gt;melayanglayang&lt;br /&gt;di antara dasar dan permukaan&lt;br /&gt;bingung sekali ruh ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMf490FNI/AAAAAAAAAMg/uge3f0jT10A/s1600-h/sepi2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMf490FNI/AAAAAAAAAMg/uge3f0jT10A/s200/sepi2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256277457101919442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan berkata apapun&lt;br /&gt;terkadang sepi lebih baik&lt;br /&gt;bahkan dari suara tarikan nafas atau getar handphone&lt;br /&gt;cukup kita duduk dalam diam&lt;br /&gt;kuletakkan jantungku di dadamu&lt;br /&gt;(ia masih berdetak!)&lt;br /&gt;menggeser palangpalang besi&lt;br /&gt;di pintu nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan berkata apapun&lt;br /&gt;sebab katakata sejam yang lalu&lt;br /&gt;telah menjadi belati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkadang sepi lebih baik&lt;br /&gt;bahkan dari detak jantung kita sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMNkMA42I/AAAAAAAAAMY/cy4loIkvzdw/s1600-h/sepi1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMNkMA42I/AAAAAAAAAMY/cy4loIkvzdw/s200/sepi1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256277142286689122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bekas kukumu merajah lingkar leher waktu&lt;br /&gt;tapi aku enggan dengan cekikan&lt;br /&gt;pada akhirnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti apa rasa matahari terbenam&lt;br /&gt;aku tak pernah bertanya. tapi lembut lidahmu&lt;br /&gt;menari di rongga mulutku&lt;br /&gt;; ini&lt;br /&gt;belum usai kucatat. sungguh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari terbenam&lt;br /&gt;maka kita mencicip rasanya&lt;br /&gt;dalam saus keringat dan airmata&lt;br /&gt;kepenatan&lt;br /&gt;setelah sepanjang hari&lt;br /&gt;melompat&lt;br /&gt;bergelantungan di sambungan gerbong kereta&lt;br /&gt;melihat waktu. bergesekan&lt;br /&gt;dan menelan gemuruh iblis dari dasar sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari terbenam&lt;br /&gt;seperti maumu sejak pagi; biar kita tak bergelandang&lt;br /&gt;melompat gerbonggerbong kereta di stasiun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari terbenam&lt;br /&gt;tapi kita terlanjur menjadi gelandangan&lt;br /&gt;tak pernah menemukan rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMryTBT-I/AAAAAAAAAMo/hmwK8B3VRaA/s1600-h/sepi3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMryTBT-I/AAAAAAAAAMo/hmwK8B3VRaA/s200/sepi3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256277661470248930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak 6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarkan angin itu&lt;br /&gt;melewati helaian rambutmu&lt;br /&gt;seperti gerak lambat peluru&lt;br /&gt;suatu waktu ia tiba di titik ini&lt;br /&gt;; memecah cermin dan bayanganku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5260022736472133037?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5260022736472133037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5260022736472133037' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5260022736472133037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5260022736472133037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/10/sajak-sajak-kepada-sesosok-sepi.html' title='SAJAK-SAJAK KEPADA SESOSOK SEPI'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SPIMf490FNI/AAAAAAAAAMg/uge3f0jT10A/s72-c/sepi2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-7527976020621888322</id><published>2008-08-10T17:28:00.008+07:00</published><updated>2008-08-26T22:03:05.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Cape; Pikiran Kok Lari-lari...</title><content type='html'>&lt;div class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap orang punya rencana hendak melakukan apa, sejak bangun pagi, tapi bakal terlaksana atau tidak rencana itu tak ada yang tahu kecuali waktu. Waktu akan memaparkan semua layaknya sebuah peta yang dibentangkan menjelang pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini mendung. Saya mempunyai beberapa rencana yang sudah saya siapkan beberapa hari lalu; meng-update blog, belanja baju, bertemu beberapa orang, ngurusin buletin... tetapi akhirnya seperti sampan karam saya hanya berakhir di sofa warnet yang dulu pernah sangat akrab dengan hari-hari saya. Sebuah bencana kecil ketika tersadar bahwa tak ada yang bisa saya lakukan untuk blog dan buletin tanpa flasdisk di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sudah mendung sejak pagi. Perasaan saya sedikit lebih baik ketika saya memutuskan keluar rumah pukul dua siang tadi, setelah beberapa hari sebelumnya berperang dengan perasaan tak enak, terabaikan, panik, lelah, dan sempat ketakutan diburu mimpi-mimpi buruk, dan seperti biasa saya selalu merasa sendirian. Saya membenamkan diri dalam hingar dan betapa bahagia jika hingar itu sampai juga ke dalam tubuh saya, tubuh perempuan yang selalu berada di tengah perseteruan perasaan, logika, cinta dan kenyataan. Beberapa jam yang lalu saya berbincang - mendengar - seorang sahabat bercerita di samping saya duduk. Panjang lebar. Saya mendengar dia, dan saya seolah merasakan saya mendengar apa yang sesungguhnya pun hendak saya ucapkan, saya ungkapkan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya seperti sedang menulis buku harian saja. :D. Saya hanya ingin berbagi hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah tulisan yang saya kutip dari blog orang lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SURAT BUAT RIEN..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pertanyaan untukmu rien...&lt;br /&gt;Pernah gak sih rien kamu rasa lelah..&lt;br /&gt;Menurut kamu sombong gak sih, jika seseorang melawan arus norma dunia..&lt;br /&gt;Apa pendapatmu tentang pemikiran "ada kedamaian dlm ketidak pastian.."&lt;br /&gt;Menurut kamu dimana letak keangkuhan seseorang....&lt;br /&gt;Dan dimana letak ketegaran...&lt;br /&gt;bagaimana rien....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya hanya merasa larut, seperti squash nanas dicampur air bening. Membaur dalam sebuah perasaan asing yang sakit sekaligus indah, yang bertanya-tanya tentang akhir, yang bertanya-tanya tentang kedamaian dalam ketakpastian, yang tak mengerti dengan keangkuhan, yang tak cukup kuat untuk ketegaran. Tulisan pendek itu saya copy paste dari blog seseorang yang merupakan teman dekat sahabat saya yang hari ini curhat panjang lebar; maaf sekali sumbernya tak saya cantumkan karena sesuatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Same things happen in different places in the world.&lt;/span&gt; Tak ada pembenaran untuk hal-hal yang memang sudah salah. Tak ada toleransi untuk para koruptor, pembunuh berantai, pelaku cinta segitiga atau maling ayam, terlepas dari hukuman macam apa yang bakal dijatuhkan; secara sosial atau penegakan hukum yang sesungguhnya. Saya tahu Tuhan adalah Maha. Tentang benar atau salah adalah pertanggungjawaban kita kelak padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan saya tidak ada arahnya ya, saya memang hanya mengikuti jari saya bergerak di atas keyboard. Ada beberapa puisi baru yang ingin saya upload, ada beberapa foto saudara lelaki sesusuan yang ingin saya tampilkan, tapi apa daya flasdisk saya kedua-duanya tak ada di genggaman (flashdisk seperti sebuah senjata mahapenting buat saya akhir-akhir ini). Sebenarnya tadi ba'da Ashar sempat mampir ke tempat teman yang membawa salah satu senjata mahapenting saya itu, tetapi apa daya pula ia telah cabut ke Prambanan nonton soundrenaline. Kabar-kabarnya sih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he got two free tickets&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Just have a nice day to him&lt;/span&gt;.... Selamat menikmati aliran adrenalin! Saya mempunyai pilihan yang sama dengannya, seandainya saya diberi dua tiket gratis, apapun itu, saya akan mengajak orang yang paling berarti dalam hidup saya untuk menghadirinya, sekali lagi, apapun itu. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdampar.Pikiran saya serasa lari-lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, iya,ada pic dari sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;barber shop&lt;/span&gt; di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SJ7UVpiyxtI/AAAAAAAAAJc/wIUA8w0q3CA/s1600-h/06082008%28001%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SJ7UVpiyxtI/AAAAAAAAAJc/wIUA8w0q3CA/s200/06082008%28001%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232853285445224146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudahlah. Tak ada yang bisa saya lakukan. Tulisan-tulisan saya beberapa hari lalu di dalam flashdisk semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bersenang-senang, tanpa gangguan dari saya. Hehhehe... mungkin akan menjadi hal yang lebih baik daripada biasanya. Hidup jarang menawarkan pilihan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-7527976020621888322?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/7527976020621888322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=7527976020621888322' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7527976020621888322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7527976020621888322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/08/cape-pikiran-kok-lari-lari.html' title='Cape; Pikiran Kok Lari-lari...'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SJ7UVpiyxtI/AAAAAAAAAJc/wIUA8w0q3CA/s72-c/06082008%28001%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6421538503483409882</id><published>2008-07-29T18:21:00.005+07:00</published><updated>2008-07-29T18:48:43.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Tempe Goreng, Biskuit Twist Lick Dunk dan Saya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempe Goreng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8Ae2BfWWI/AAAAAAAAAJE/rFRVW2H92l0/s1600-h/tempe+a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 211px; height: 200px;" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8Ae2BfWWI/AAAAAAAAAJE/rFRVW2H92l0/s320/tempe+a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228398222298274146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu siang di kota Purworejo, seorang teman yang pernah mengakses halaman friendster saya dan cukup sering mengobrol di YM, benar-benar bersedia keluar pada jam kerja hanya untuk membelikan saya tiga iris tempe goreng bawang uyah. Hari itu saya sedang menemani seorang teman yang ingin 'kopi darat' dengan gebetannya di dunia maya, kebetulan mereka satu tempat kerja. Dan sumpah, hari itu saya menikmati tempe goreng terenak daripada yang sebelum-sebelumnya saya makan. Sampai hari ini pun saya belum pernah lagi merasakan tempe yang digoreng seenak itu. Dan sampai hari ini pun saya tak tahu di warung makan mana teman itu membelikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesukaan saya yang ini, beberapa orang teman tak percaya dan hanya mengira saya mendramatisir atau apalah. Tapi ini sungguhan. Saya penggemar berat tempe goreng. Ada pula teman yang salah persepsi mengira jenis tempe goreng kegemaran saya adalah tempe yang digoreng dengan selimut gandum - di beberapa tempat disebut tempe mendoan -, sehingga dia cukup sering membawakan saya tempe goreng jenis ini saat jam makan siang. Tapi tidak saya tolak juga, namanya rezeki tah? Hehe... Padahal tempe goreng saya adalah tempe tanpa tambahan apa-apa kecuali bumbu bawang putih dan garam, bisa juga ditambah sedikit ketumbar, biasanya diiris persegi panjang dengan ketebalan setengah sampai satu cm (untuk jenis tempe yang pembuatannya dalam ukuran besar dan dikemas dengan plastik) atau dibiarkan utuh setelah di'kupas' dari daun pembungkusnya (untuk jenis tempe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt; yang kemudian badan tempe digaris-garis menggunakan pisau, garis-garis ini dalam istilah ndeso dikenal dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;garet&lt;/span&gt;, fungsinya agar bumbu lebih meresap, maka tempe jenis begini punya nama top tempe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;garet&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8BIn0ibdI/AAAAAAAAAJM/64Eo5WVyi0w/s1600-h/tempe+b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8BIn0ibdI/AAAAAAAAAJM/64Eo5WVyi0w/s320/tempe+b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228398940040359378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya mulai menyukai tempe sejak usia kelas 2 SMP. Waktu kecil, dalam lingkungan keluarga di mana kedua orang tua sama-sama bekerja , saya dan adik lebih sering mengecap makanan instan dan makanan warung. Ibu memang tak selalu memasak, tapi jor-joran soal menyediakan makanan buat kami, hampir semua yang kami inginkan diusahakan, barangkali sebagai kompensasi tidak menyediakan makanan rumahan. Di daerah trans tempat saya menghabiskan masa kecil, jarang sekali ada pembuat tempe. Ada satu orang tapi letak rumahnya cukup jauh dan ibu bilang tempe buatannya tak terlalu enak. Ah, saya tak pernah ambil pusing karena tak makan tempe pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas kelas satu SMP, keluarga cabut dari sana dan kembali ke desa habitat awal orang tua saya. Di sini lauk yang paling mudah didapat dan terkenal adalah tempe. Hampir setiap pagi, simbah saya yang waktu itu masih hidup, menggorengkan tempe buat lauk sarapan saya ke sekolah. Seperti kebiasaan anak remaja, saya juga under estimate dengan rasa tempe ini awalnya, tapi semakin kesini saya benar-benar tak bisa membohongi hati nurani dan indera kecap saya bahwa saya suka makanan sederhana ini. Hehe.. sampai sekarang, jika ke warung Padang, saya hampir tak pernah melewatkan tempe goreng. Tapi jujur saja, susah mencari tempe goreng yang benar-benar enak dan dimasak secara serius, mungkin sebab pandangan awal bahwa tempe tak perlu diperlakukan secara istimewa, sehingga orang-orang macam saya ini cuma bisa terima apa adanya.Sedih juga saat nafsu makan yang memuncak sebab melihat tempe goreng berjejer di piring merosot tajam gara-gara rasa tak seperti yang diharapkan. Ugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, menjadi kebiasaan di rumah, jika menu makan malam adalah tempe goreng, saya mendapat bagian yang istimewa. Pulang kerja, saya pasti disambut dengan piring tanggung berisi beberapa iris tempe goreng, yang dipisahkan dari kawanannya di piring lauk. Kawan, andai kalian tahu betapa bahagia rasanya mendapati pemandangan seperti itu. Heheheh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seputar makanan, ada satu lagi yang saya gemari. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Check it out&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Biskuit Twist Lick Dunk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan cari merk ini coz tak ada di pasaran. Tapi kalau anda jeli, sangat mudah untuk menemukannya. Ia dengan beberapa variannya mejeng di rak-rak paling mudah dijangkau di supermarket-supermarket. Masih dengan kemasan biru yang lumayan eksklusif dengan tulisan merk besar-besar dan tersedia beberapa pilihan krim; cokelat, coklat dan kacang, strawberry dan krim original, penampilan biskuit ini seenak rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam keluarga, saya sudah terkenal anti makan biskuit. Bukannya tidak doyan tapi biskuit menurut saya memiliki rasa yang aneh dan itu-itu saja, meskipun divariasi dengan rasa kelapa, nanas atau durian. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa, misal dijamu biskuit di rumah calon mertua, atau untuk pergaulan (semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social drin&lt;/span&gt;k maksud saya :D), hampir dapat dipastikan saya enggan menyentuh makanan dengan bentuk-bentuk geometris itu. Makanya, kegemaran terhadap satu jenis biskuit ini dapat dibilang anomali dan -barangkali- cukup pantas untuk saya ceritakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penampilannya, biskuit ini benar-benar eksklusif. Masih mengadaptasi bentuk lingkaran sih, tapi warnanya yang gelap dengan cetakan merk di tengahnya membuatnya terlihat serupa situs candi. Bertangkup dua-sandwich- dengan krim di antaranya. Cantik. Rasanya?  Subyektif sekali jika bicara tentang rasa. Tapi karena ini bicara tentang saya, maka pendapat saya yang digunakan di sini. Hehehehe... Pokoknya, rasanya cantik juga. Lidah saya menyukai gradasi rasa asin, gurih dan pedas lebih daripada menyukai rasa manis, dan biskuit ini mengandung salah satunya pada gigitan pertama; asin. Rasa biskuitnya saja, tanpa krim, sudah enak banget. Untuk paduan dengan krimnya, saya memilih krim originalnya yang putih dan berasa vanila. Yummy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;By the way&lt;/span&gt;, saya bukan lagi ngiklan loh. Jangan-jangan ada yang merasa sedang membaca adlip. Heheheh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bepergian jauh, dalam perjalanan ke luar kota, telusur sungai atau piknik seharian, saya biasa membawanya dalam tas saya. Saya juga memilihnya untuk oleh-oleh keponakan atau kalau lagi pengen beliin camilan buat teman. Dan sampai sekarang saya belum bosan makan biskuit yang satu ini; satu-satunya biskuit yang mampu menembus pertahanan saya. Kadang-kadang sempat berpikir tentang keadilan Tuhan, Dia me-nyeimbangkan kegemaran saya akan tempe goreng yang sudah menerima imej &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt; dengan memberikan kebijaksanaan pada lidah saya untuk menerima taste yang akrab di lidah anak-anak modern. :D, dan sudah dibajak dengan nama merk yang sangat mirip warna dan visualisasinya pula, hanya ukuran lingkarnya lebih besar (wah, anak-anak yang tak jeli gampang mengira biskuit si pembajak adalah versi besar dari biskuit aslinya nih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twist Lick Dunk. Tiga kata ini yang membawa si biskuit jadi artis. Kata-kata ini tercetak pula di kemasannya, meskipun tak terlalu mencolok. Membuat setiap orang pengen iseng memutar tangkup sandwichnya lebih dulu, kemudian menjilat krimnya sebelum treatment terakhir di gelas susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8CQljXWlI/AAAAAAAAAJU/GDQFkNWguPo/s1600-h/oreo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8CQljXWlI/AAAAAAAAAJU/GDQFkNWguPo/s200/oreo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400176382040658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Uff, jadi pengen taste it banget. Dah dulu ya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6421538503483409882?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6421538503483409882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6421538503483409882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6421538503483409882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6421538503483409882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/07/tempe-goreng-biskuit-twist-lick-dunk.html' title='Tempe Goreng, Biskuit Twist Lick Dunk dan Saya'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SI8Ae2BfWWI/AAAAAAAAAJE/rFRVW2H92l0/s72-c/tempe+a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5968537658689213419</id><published>2008-06-18T17:15:00.004+07:00</published><updated>2008-06-18T17:39:38.361+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Untuk Jengkerik dan Ilalang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEORANG LELAKI DAN GITAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana suara denting itu kemudian disebut nada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SFjk1M2T-qI/AAAAAAAAAIs/XGjgi5B-1zU/s1600-h/land.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SFjk1M2T-qI/AAAAAAAAAIs/XGjgi5B-1zU/s320/land.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213168171314576034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku mendengarkan. teringat peristiwa&lt;br /&gt;dan suarasuara yang terekam jauh di bawah sadar&lt;br /&gt;tentang masa kecil, ruangan bercat biru&lt;br /&gt;dan Wind of Change&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka ketika aku berkenalan dengan denting gitarmu&lt;br /&gt;di tubuh malam penat dan ringkik stasiun&lt;br /&gt;terlempar. seperti kulit jeruk dari jendela kereta api&lt;br /&gt;aku merangkak mencari kenanganku&lt;br /&gt;dawaimu menggeletar ingatan. masa kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana suara denting itu kemudian disebut nada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti cambuk yang dilecutkan tepat di pusat otak kanan&lt;br /&gt;yang sedang purapura sibuk merasakan sesuatu&lt;br /&gt;terjaga. setiap kenangan tak pernah benarbenar hilang&lt;br /&gt;engkau telah memilih memetik gitarmu&lt;br /&gt;kemudian melempar jauh&lt;br /&gt;jatuh dalam perigi masa kecilku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana suara denting itu kemudian disebut nada?&lt;br /&gt;kau dan aku tak ada yang pernah benarbenar tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MALAM DI PUSAT KOTA KECIL KITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau akan mencibir ; di mana letak pusat kota kecil kita?&lt;br /&gt;gerumbul perdu selalu menyusutkan malam &lt;br /&gt;hingga tak pernah demikian panjang&lt;br /&gt;seperti sebuah pementasan karakter&lt;br /&gt;adegan cepat mengalir. kadangkala tak tertangkap oleh pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kita masingmasing mencari sudut yang masih menyalakan lampu&lt;br /&gt;tak berkeluh sebab peristiwa seharian belum lagi selesai terangkum&lt;br /&gt;dalam puisipuisi janggal tentang kehidupan&lt;br /&gt;yang membangun perbincangan antara kau dan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pusat kota kecil kita-entah dimana- malam hari&lt;br /&gt;aku bersinggungan dengan medan magnet kehidupanmu&lt;br /&gt;dari sudut yang masih ada kerlip. barangkali lampu merah jalan&lt;br /&gt;segerombol orang berbincang. gemeretak kerupuk kulit dan desis &lt;br /&gt;kepedasan. kelontang gelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SFjj4bq9VqI/AAAAAAAAAIk/8fARfPg2nBQ/s1600-h/jangkrik.JPG"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SFjj4bq9VqI/AAAAAAAAAIk/8fARfPg2nBQ/s320/jangkrik.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213167127321466530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku di lintasan yang sama. pada malammalam lain&lt;br /&gt;mencoba mengulur waktu. sebelum tiba fajar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5968537658689213419?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5968537658689213419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5968537658689213419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5968537658689213419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5968537658689213419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/06/untuk-jengkerik-dan-ilalang.html' title='Untuk Jengkerik dan Ilalang'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SFjk1M2T-qI/AAAAAAAAAIs/XGjgi5B-1zU/s72-c/land.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-8790929953911844294</id><published>2008-06-08T13:56:00.011+07:00</published><updated>2008-06-15T15:45:30.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Untuk Mereka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEudefeVoDI/AAAAAAAAAIU/yPxmitrMpvU/s1600-h/29042008%28013%29+A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEudefeVoDI/AAAAAAAAAIU/yPxmitrMpvU/s320/29042008%28013%29+A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209430541154492466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kota. puisi kedua hari ini kutitipkan&lt;br /&gt;pada cahaya.&lt;br /&gt;gemintang tak padam&lt;br /&gt;dalam jingkat langkah mungil&lt;br /&gt;kerjap sudutsudut matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota. puisi kedua hari ini&lt;br /&gt;sisipkan pada celah lembab bibirnya&lt;br /&gt;sudutmu paling lekuk&lt;br /&gt;biar dibacakannya pada malam perayaan&lt;br /&gt;atas cinta. bercecer di aspal&lt;br /&gt;para malaikat turun&lt;br /&gt;memungut air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota. di kelokan itu kemudian ia akan menghilang&lt;br /&gt;setelah menyihir puisiku&lt;br /&gt;menjadi bayang&lt;br /&gt;lesap&lt;br /&gt;seperti para malaikat itu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUNGAI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEucBW5N1SI/AAAAAAAAAIE/tYb-zY8wC8c/s1600-h/bim+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEucBW5N1SI/AAAAAAAAAIE/tYb-zY8wC8c/s320/bim+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209428941123474722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sentakkan, sebab sajakku sendat di mata pancingmu&lt;br /&gt;kehidupan menungguku, kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada gerombol ikanikan di pertemuan arus&lt;br /&gt;riak rencana ke perairan dalam yang kelam riuh&lt;br /&gt;planktonplankton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku di sini, kabarmu pada malamku&lt;br /&gt;mata pancingmu tersangkut di perairan dalam itu&lt;br /&gt;duhai, puisiku menjadi rakus pada umpan&lt;br /&gt;berebut mencicip kehidupan kalah&lt;br /&gt;di ujung mata pancing&lt;br /&gt;tapi sentakkan, kehidupan masih menungguku&lt;br /&gt;gerombol ikanikan di pertemuan arus&lt;br /&gt;riak rencana baru. kemana mata pancingmu&lt;br /&gt;takkan singgah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GUNUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEuZfy2iERI/AAAAAAAAAH8/lJJriL99emI/s1600-h/candra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEuZfy2iERI/AAAAAAAAAH8/lJJriL99emI/s320/candra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209426165489602834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kadang penat. menafsir mata&lt;br /&gt;rangkuman sepersekian detik lalu&lt;br /&gt;curam jalan. pohon kayu putih membiusi&lt;br /&gt;kita masih mendaki di sekian puluh kilometer&lt;br /&gt;mencecerkan peluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau ajak aku bincang sepanjang jalan&lt;br /&gt;tentang cinta. maka berseberang kita menafsir&lt;br /&gt;kau mulai mengeluh tentang penat&lt;br /&gt;tapi kataku; itu hanya sepersekian penat&lt;br /&gt;yang disodorkan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta seperti curam jalan. seperti wangi kayu putih&lt;br /&gt;menguras peluh dan memabukkan. sampai hilang&lt;br /&gt;pertimbangan kemana jika tiba di persimpangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kugamit lenganmu. bukan kuajari&lt;br /&gt;kita bersisian saja mengukur jalan&lt;br /&gt;membacakan tafsiran masingmasing&lt;br /&gt;tentang cinta yang kau keluhkan, kali ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PESISIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEucaShgQNI/AAAAAAAAAIM/WE1QEOpJfzQ/s1600-h/wikan+a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEucaShgQNI/AAAAAAAAAIM/WE1QEOpJfzQ/s320/wikan+a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209429369447006418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sajak yang tak selesai&lt;br /&gt;putus di garis usia&lt;br /&gt;pertanda telah sampai pada ujung&lt;br /&gt;pengembaraan atas karangkarang mati. malam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah kabar perahu kertas&lt;br /&gt;               sobekan buku harian. saat mencekik kepenatan&lt;br /&gt;               berlarilari dalam labirin&lt;br /&gt;perahu kertas tanpa bobot&lt;br /&gt;diperebutkan gelombang dan angin&lt;br /&gt;kemana, tanyamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; menunggu. sisasisa perahu kertas&lt;br /&gt;kembali ke pesisir. seperti telah dimengerti&lt;br /&gt;sajak yang tak selesai&lt;br /&gt;akan menyelesaikan dirinya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEufmByktBI/AAAAAAAAAIc/l5kVTPQ6Je4/s1600-h/dhi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEufmByktBI/AAAAAAAAAIc/l5kVTPQ6Je4/s320/dhi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209432869648512018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;apa yang mungkin dan tak mungkin&lt;br /&gt;kau gumpalkan menjadi bola salju&lt;br /&gt;sejumput musim belahan dunia. satusatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam sebuah bingkai&lt;br /&gt;kau bawa padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;katamu, bumi adalah tempat semua bertumbuh&lt;br /&gt;saling mengisi. seperti kenangankenangan antara&lt;br /&gt;pecahan yang sungguh lengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-8790929953911844294?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/8790929953911844294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=8790929953911844294' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8790929953911844294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8790929953911844294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/06/kota-kota.html' title='Untuk Mereka'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/SEudefeVoDI/AAAAAAAAAIU/yPxmitrMpvU/s72-c/29042008%28013%29+A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3853412008034531872</id><published>2008-03-30T15:41:00.003+07:00</published><updated>2008-03-30T15:50:55.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Metamorfosa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SELEBIHNYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam melolong di atas bukit&lt;br /&gt;menyaru serigala yang terpasung&lt;br /&gt;di kolong.&lt;br /&gt;setelah malam kemarin kau berangus&lt;br /&gt;dengan selempang lelakimu&lt;br /&gt;Lalu kau ikat di kaki ranjang&lt;br /&gt;kau pameri persetubuhanmu dengan bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas bukit, malam menangguhkan titiknya&lt;br /&gt;yang terpekat. Melalui desau angin&lt;br /&gt;didengarnya desah paling sublim&lt;br /&gt;Bulan yang sedang kau setubuhi&lt;br /&gt;dan kuik serigala meringkuk&lt;br /&gt;di keremangan kamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan udara di kamarmu mendadak panas&lt;br /&gt;percintaanmu&lt;br /&gt;serigala yang marah&lt;br /&gt;Lolongan malam&lt;br /&gt;Menjadi keinginan yang mendendam&lt;br /&gt;Menyusupkan serigala lain yang tak bertubuh&lt;br /&gt;ke kisikisi. Menyulut kamarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, siluet kau memanggul salib&lt;br /&gt;ke atas bukit....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASING&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat ladang kita. Bijibijian yang kita tanam setahun lalu&lt;br /&gt;Telah tumbuh jadi pohon. Rantingnya seperti gurita&lt;br /&gt;Membelit keterasingan kita pada dosa lelaki dan perempuan&lt;br /&gt;diceritakan sejarah turuntemurun. Dari mula di jatuhkan ke bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin rapat pohonpohon. Kita tak bergerak&lt;br /&gt;Demikian asing memahami kehendak sublim dalam diri&lt;br /&gt;Mulamula menyalahkan rimbunan semak. Lalu gelap malam&lt;br /&gt;Bulan nyusup ke jantung. Semakin hari mengaum di dalam jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat ladang kita. Bijibijian yang remeh setahun lalu&lt;br /&gt;Menyesap berjengkal humus. Sampai habis. Kita mulai mengeluh&lt;br /&gt;Tambah terasing dengan sisasisa, dedaunan gugur di wajah.&lt;br /&gt;Adakah jawab, mengapa dosa diciptakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R-9T-moim9I/AAAAAAAAAHc/hgh9qi9HA3o/s1600-h/DSC00151+A.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R-9T-moim9I/AAAAAAAAAHc/hgh9qi9HA3o/s320/DSC00151+A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183454031114312658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CATATAN SEORANG PENGKHIANAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke menit. Ke jam. Ke hari&lt;br /&gt;dari sebuah perbincangan rahasia di balik pintu&lt;br /&gt;Kutuliskan rencanarencana besar&lt;br /&gt;Tentang kehendak. Nerjang batas &lt;br /&gt;kusisipkan dalam kode yang dikirim padamu menjelang pertempuran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat fajar namaku dihapus&lt;br /&gt;Jangan menuliskan lagi sebab satu kali cukup sudah&lt;br /&gt;Aku telah menemukan jati diri ketika aku adalah pengkhianat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAN KITA TAK PERNAH BERTEMU LAGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam matamu. Ada ruang&lt;br /&gt;yang menyangkalku&lt;br /&gt;Entah sebab aku tak membikin peta&lt;br /&gt;buat perjalananmu. Atau sebab tak ada pelita&lt;br /&gt;di kemahkemah yang kau singgahi&lt;br /&gt;Barangkali juga sebab harapan&lt;br /&gt;yang belum sempat kujejalkan&lt;br /&gt;ke celah lipatan pakaian dalam ranselmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di ujung sini. Matamu makin kukuh&lt;br /&gt;menembok ruang yang menyangkalku&lt;br /&gt;Tak masalah dengan peta, katamu. Juga bukan pelita&lt;br /&gt;Harapan hanya imajinasi keterlaluan&lt;br /&gt;membekukan kesadaran&lt;br /&gt;Padahal kita bersisian dengan kenyataan&lt;br /&gt;yang setiap waktu mengingatkan&lt;br /&gt;dosadosa yang belum kita lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di persimpangan.&lt;br /&gt;Kau memilih ke kanan sementara aku ke kiri&lt;br /&gt;Tak pernah tahu &lt;br /&gt;kemudian kita tak pernah bertemu&lt;br /&gt;lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3853412008034531872?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3853412008034531872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3853412008034531872' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3853412008034531872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3853412008034531872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/03/metamorfosa.html' title='Metamorfosa'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R-9T-moim9I/AAAAAAAAAHc/hgh9qi9HA3o/s72-c/DSC00151+A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-8219584848725652621</id><published>2008-03-30T15:34:00.002+07:00</published><updated>2008-03-30T15:41:04.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Resah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;DI TEPI PANTAI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi pantai. Orangorang menangkap ombak&lt;br /&gt;Mengayak buih. Untuk segenggam nafas para kekasih&lt;br /&gt;di saat terakhir&lt;br /&gt;Serentetan kejadian hanya menyisakan pertanyaan&lt;br /&gt;ketakpastian kehilangan &lt;br /&gt;dan sayatsayat harapan&lt;br /&gt;Juga setumpuk janjijanji basi yang diucap berulangkali&lt;br /&gt;Sampai nanah di kuping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi pantai. Orangorang menunggu&lt;br /&gt;Berita camar di tengah-tengah deru cuaca tak ramah&lt;br /&gt;Sekelumit detak dari jantungjantung di dasar&lt;br /&gt;melupakan semua omongkosong janjijanji&lt;br /&gt;Sebab pelunasan ambyar sudah&lt;br /&gt;kemarinkemarin itu&lt;br /&gt;Sedang dirundung kesedihan yang lain, kata entah siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi pantai. Orangorang mulai menghitung senja dan fajar&lt;br /&gt;Mengumpat deburan ombak. Saat nafas para kekasih&lt;br /&gt;Barangkali tersendat&lt;br /&gt;dihalanghalang pecahan kapal. Atau hiu yang marah&lt;br /&gt;Tak ada yang sempat tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi pantai. Orangorang kemudian menjadi pasir.&lt;br /&gt;Tak ada yang peduli lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENUNGGU GERHANA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menjelma onggokan&lt;br /&gt;Diam di tong sampah. Saluransaluran air. Pembuangan&lt;br /&gt;Orangorang lewat mencibir. Lekaslekas&lt;br /&gt;Berapa lama sudah?&lt;br /&gt;detik menjadi menit menjadi jam menjadi hari&lt;br /&gt;Masih menunggu sampai mengeras batu&lt;br /&gt;Saat matahari dan bulan bertatapan&lt;br /&gt;dan semesta mematikan lampu&lt;br /&gt;Perjumpaan&lt;br /&gt;Luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sekali waktu dalam diammu, kau mengigau&lt;br /&gt;tentang kekasih yang hilang di rimba tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SIAPA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa kau dan aku? Seorang perempuan melongok ke luar jendela. Kanak di halaman menangis&lt;br /&gt;Pertanyaan tak penting - seperti apa pertanyaan&lt;br /&gt;yang penting? - berlalu seperti mimpi yang lantas terlupa ketika terjaga&lt;br /&gt;Seorang perempuan turun ke halaman. Di luar pagar seseorang berteriak&lt;br /&gt;Siapa kau dan aku? Pertanyaan tak penting. Diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanak tadi berlari mengejar kupu&lt;br /&gt;Tangisnya tak terdengar lagi&lt;br /&gt;Seorang perempuan di tengahtengah halaman. Rumput hijau&lt;br /&gt;Di luar pagar seseorang membuang bungkusan ke tong sampah.&lt;br /&gt;Siapa kau dan aku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-8219584848725652621?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/8219584848725652621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=8219584848725652621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8219584848725652621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8219584848725652621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/03/resah.html' title='Resah'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1953000632446001567</id><published>2008-03-04T19:38:00.007+07:00</published><updated>2008-03-04T20:39:12.243+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Prasasti Project, Sambil Menunggu Gerhana</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hai, haloo... lama juga saya gak update blog, lumayan kangen juga. Lumayan kangen dengan warnet tempat saya part time dulu. Sekarang berubah lumayan banyak baik interior maupun kebijakannya :D. Sempat kaget juga dengan interior baru yang lebih 'berani'. Tidak berprasangka ah, katanya prasangka itu dosa..he..he... Mungkin mas dan mbak pengelolanya punya pertimbangan tertentu kenapa mengubah interior yang - menurut saya pribadi - lebih cocok interior yang dulu. Ups. Ada yang marah gak ya saya ngomong gini? Atas nama kebebasan berbicara, saya membela diri dulu ah sebelum kejadian. :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberi judul cerita ini; Prasasti Project. Bingung ya? He..he..he.. gak penting lah apa tuh Prasasti Project. Saya cuma pengen cerita ternyata bikin buletin itu susah. Gimana gak? Mulai dari pembagian kerja dengan kru yang terbatas, menyiapkan naskah, mengontak percetakan, ngurusin pasca cetak, and distribusi sampai ke tangan pembaca. Mungkin ada juga sih proses-proses yang lupa saya sebutkan sebab -terus terang saja- saya masih awam dengan hal beginian. Dan? Akhirnya saya dan beberapa teman bisa juga menerbitkan sebuah buletin -tentang apapun itu- yang penting buat kami adalah 'perhargaan' terhadap kerja keras. He..he..he.. Penghargaan yang dimaksud bukan semacam perhargaan finansial begitu (buletin ini kami bagikan gratis loh... sebanyak 500 eksemplar - iklan dikit - ), tetapi sebentuk perhargaan sederhana seperti; buat yang terjangkau oleh 500 eksemplar gratis kami, baca donk tulisan-tulisan sederhana di dalamnya. Jangan dijadikan bungkus kacang doang. Hikz... mentang-mentang gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana? Pasti ada yang tanya gitu. Waktu saya membikin tulisan ini, Prasasti dengan konsep yang fix baru terbit 1 edisi. Tetapi Prasasti yang masih mencari bentuk sebelumnya telah sempat terbit 3 edisi, kemudian vakum sebentar sebab orang-orang di dalamnya lagi nyari konsep, dan juga ditelan dunia yang luar biasa sibuknya. Sebenarnya orangnya sih gak sibuk-sibuk amat, tapi imbas dunia yang sangat sibuk, jadi pura-puranya (biar wangun) ikutan sibuk juga lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang merasa muda Prasasti ada, tapi yang usianya terbilang gak muda juga sah-sah aja baca buletin ini sebab kami menyuguhkan sesuatu yang mudah dicerna, umpama makanan, formula bayi deh. Fenomena-fenomena biasa di sekitar kami coba angkat ke dalam suatu artikel bebas, berusaha peduli, berusaha tetap kritis, dengan bahasa muda yang tidak ribet, dan sebisa mungkin tidak mendikte. Ada ruang khusus untuk yang suka puisi. Ada juga ruang khusus untuk mereka yang ingin berbicara menanggapi fenomena-fenomena yang kami angkat dalam artikel utama. Baru 1 edisi dengan konsep seperti ini sih, untuk distribusi kami juga masih ndompleng orang tua kami ; Komunitas Lumbung Aksara yang menerbitkan buletin sastra Lontar dan sangat sukses coz pembacanya bertebaran di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kru Prasasti semuanya pemula. Tapi punya semangat lumayan tinggi dan semoga saja tidak tergoyahkan (halah). Ow ya, Prasasti juga mungkin benar-benar hanya akan jadi prasasti tanpa dorongan teman-teman, senior-senior yang tergabung di Lumbung Aksara (LA). "Prasasti gak mau mati sekarang, sebelum berbuat apa-apa!" kata mas Cimenx nih, PU kami. Semangat kan? Jadi ketularan semangat juga lah. Yah, sekalian belajar lah, siapa tahu ke depannya besok benar-benar bisa jadi pemred media ternama di negeri ini. Hahahaha... setiap orang boleh bermimpi bukan, sebab mimpi yang benar-benar kita ingini, kita pikirkan setiap hari, suatu hari akan menjadi kenyataan. Percaya saja jika semesta akan memberikan apa yang kita sangat inginkan, tanpa kita perlu tahu bagaimana ia mengerjakannya untuk kita.(Hmm... njiplak The Secret ya mbak?). Eh, jadi inget ada yang pesan reviewnya The Secret belum sempat saya tuliskan, maaf yah, buat yang merasa pesan. Tak pinjamin bukunya aja ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya mau bilang, berteriak lantang, merasuk ke gendang telinga semua orang (halah, kalo yang ini njiplak Dewi Lestari), bahwa..."Horeee....Prasasti gak jadi mati sekarang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca ya, Prasasti edisi cetak buat yang terjangkau sama distribusi kami, gak maksa sih tapi jangan buat bungkus nasi donk (Landung PB, yang paling saya khawatirkan bakalan &lt;em&gt;make&lt;/em&gt; Prasasti buat bungkus nasi bekal naik gunung!), buat yang tidak terjangkau bisa akses Prasasti di &lt;a href="http://www.muda-prasasti.blogspot.com/"&gt;http://www.muda-prasasti.blogspot.com/&lt;/a&gt;. Maaf jika belum nyaman tampilannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Udah ah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Baca ya, sekali lagi. Gak puas? Gak suka? Kecewa? Benci? Cinta? &lt;em&gt;Send us message&lt;/em&gt;, via blog boleh, via sms oke juga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu paragraf terakhir, saya kecewa sekali malam ini. Teman saya gak bisa datang. Entah kenapa perjumpaan dengannya seperti menunggu gerhana. Langka. Padahal saya mau balikin uang yang saya pinjem tiga bulanan yang lalu, sekalian minta dia bawakan Digital Fortress yang saya beli di pameran buku awal Februari lalu. Belum sempat saya baca. Bye. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1953000632446001567?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1953000632446001567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1953000632446001567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1953000632446001567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1953000632446001567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/03/prasasti-project-sambil-menunggu.html' title='Prasasti Project, Sambil Menunggu Gerhana'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2329548267540581792</id><published>2008-01-14T18:30:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T18:38:37.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>My Sacrifice 2</title><content type='html'>CINTA TAK MELINTAS DI JALAN INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;                                                         ;Girra Martinda, Wikankara, Bim Yuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagi ini aku melihat orangorang berpayung&lt;br /&gt;di jalanjalan dalam kota&lt;br /&gt;mereka melompati genangan sesekali sumpahserapah&lt;br /&gt;sebab terciprat kendaraan lintas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menyaksikan dari pinggir jalan&lt;br /&gt;berlindung pada boks telepon umum bekas&lt;br /&gt;dari sudutsudut jalan mereka datang&lt;br /&gt;semakin banyak, seperti eksodus&lt;br /&gt;ada yang berpayung sendirian, ada yang bergandengan&lt;br /&gt;ada juga yang menggigil menembus hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangorang itu hendak kemana?&lt;br /&gt;Bocah kecil dalam dekapan ibunya bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menajamkan telinga&lt;br /&gt;Sebab aku juga ingin tahu kemana mereka mau pergi&lt;br /&gt;Sepagi ini, tak biasanya&lt;br /&gt;Di tengah hujan begini deras pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara jawaban si ibu bergesekan dengan angin&lt;br /&gt;Yang bertiup tibatiba menyeret sebagian hujan&lt;br /&gt;Menampar wajahku&lt;br /&gt;Aku makin merapatkan tubuh pada dinding bau karat&lt;br /&gt;Tibatiba seseorang menempel pamflet di boks telepon umum bekas&lt;br /&gt;Tempatku meringkuk seperti kelinci di lubang&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R4tISMKbvPI/AAAAAAAAAG4/-J_A8fj9uKE/s1600-h/cinta+invert.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155293675795496178" style="MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R4tISMKbvPI/AAAAAAAAAG4/-J_A8fj9uKE/s320/cinta+invert.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil dan ibunya berjalan menjauh&lt;br /&gt;Payungnya melengkung menahan deras hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagi ini aku melihat orangorang&lt;br /&gt;Keluar dari setiap gang, dari setiap pintu yang terbuka&lt;br /&gt;Melompati genangan dengan sesekali sumpah serapah&lt;br /&gt;Sebab terciprat kendaraan lintas&lt;br /&gt;Mereka akan melewati semua jalan untuk mencari cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyaksikan saja dari pinggir jalan&lt;br /&gt;Dulu cinta sering melintas di sepanjang jalan ini&lt;br /&gt;Tapi sudah lama aku tak melihatnya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sisa-sisa, 3 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2329548267540581792?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2329548267540581792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2329548267540581792' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2329548267540581792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2329548267540581792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/01/my-sacrifice-2.html' title='My Sacrifice 2'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R4tISMKbvPI/AAAAAAAAAG4/-J_A8fj9uKE/s72-c/cinta+invert.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5283848958531674842</id><published>2008-01-05T23:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T23:15:48.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Cinta Sudah Mati</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Cinta Sudah Mati&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;       ; mata hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku melihat bayangbayang&lt;br /&gt;Kerumunan mata hati di langitlangit mimpiku&lt;br /&gt;berbincang tentang kelicikan&lt;br /&gt;Cinta yang terjebak dalam muslihat&lt;br /&gt;Jurang nafsu membentang jauh memalung dalam&lt;br /&gt;Mencecerkan kesejatian di lumpur&lt;br /&gt;Patah dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku hendak bergabung&lt;br /&gt;Dalam kerumunan mata hati yang duduk melingkar&lt;br /&gt;Menyaksikan cinta hancurlebur&lt;br /&gt;Kehilangan keindahannya yang agung&lt;br /&gt;Sebab angkaangka telah menguasai hati&lt;br /&gt;Dalam pertimbangan untung dan rugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat segalanya jelas pagi ini&lt;br /&gt;Cinta yang mempertahankan maknamakna&lt;br /&gt;Yang menyentuh sisi jiwa dengan kelembutannya&lt;br /&gt;Yang tak berambisi&lt;br /&gt;Habis terlanggar keinginan tak bermatahati&lt;br /&gt;Cinta telah menjelma kemasan atas racunracun&lt;br /&gt;Menyusup halus ke dalam nadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat segalanya utuh pagi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai mata hati yang berkumpul dalam mimpiku&lt;br /&gt;Mari selesaikan menulis cinta yang koyakmoyak tersuruk di lumpur&lt;br /&gt;Aku bersamamu mengikis cinta yang tak murni&lt;br /&gt;Habis, lepas dan jangan kembali sebelum sejati&lt;br /&gt;Jangan, sebelum cinta mampu membuat dirinya kembali&lt;br /&gt;kupercaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Tidak Menulis Sajak Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab cinta telah mati&lt;br /&gt;Aku melihatnya pagi ini&lt;br /&gt;Terbenam di bak mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    rumahhati, 1 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Tidak Menulis Sajak Cinta 2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tanya kenapa&lt;br /&gt;Lihat pisau cukur di tanganmu&lt;br /&gt;Baru saja mengiris lehernya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah kau jilati darahnya seperti lelehan cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    rumahhati, 1 Januari 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kejadian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terjebak di labirin perasaanmu&lt;br /&gt;saat lampu padam dan tak ada bulan&lt;br /&gt;aku meraba dan menerka dalam gelap&lt;br /&gt;sampai akhirnya jatuh di lorong buntu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tergelak di ujung labirin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuck!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5283848958531674842?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5283848958531674842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5283848958531674842' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5283848958531674842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5283848958531674842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/01/cinta-sudah-mati.html' title='Cinta Sudah Mati'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1851480352724470062</id><published>2008-01-05T22:40:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T22:46:51.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>My Sacrifice</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt; Pemakaman Senja Pantai 2&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;         &lt;br&gt;    &lt;br&gt;                                                                                           ; sudut ruang dan waktu yang salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap senja, lanskap pantai ini tetap begini&lt;br /&gt;Sampansampan nelayan menantang surut matahari&lt;br /&gt;ditinggalkan pemiliknya&lt;br /&gt;Sisa amis yang melekat di sampan dihamburkan angin&lt;br /&gt;sampai ke deretan bangunan di pinggir pantai&lt;br /&gt;yang berdiri remang seolah menyimpan rahasia&lt;br /&gt;merambat diseret angin makin ke utara&lt;br /&gt;melintas ladangladang, hinggap di bebunga melon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampai ke jajaran anthurium muka rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap senja,aroma yang hinggap di jajaran anthurium itu&lt;br /&gt;menjarum ingatanku&lt;br /&gt;Kata orang, ingatan memang tajam seperti jarum&lt;br /&gt;Aku hanya tahu,pantai ini selalu menebar amis ikanikan mati&lt;br /&gt;bangkai ikanikan kecil setengah terkubur di pasirpasir&lt;br /&gt;yang sungguh heran tak pernah kita keluhkan&lt;br /&gt;padahal sudah seribu petang kita baca dan kita salin&lt;br /&gt;ke dalam lembaran buku harian ungu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga lembaran terakhir yang kita tikaikan, hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan menunggu, apa akhir yang akan dicatat&lt;br /&gt;dalam lembar terakhir itu; petang yang berangin&lt;br /&gt;ombak pasang menghanyutkan rumahrumahan pasir&lt;br /&gt;Sampansampan amsal patung seperti biasanya&lt;br /&gt;amis yang khas, perasaan yang mengeras batu, egoisme, kekalutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau biarkan saja ia kosong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, kekosongan bisa diisi apa saja&lt;br /&gt;Kekosongan adalah sebentuk ruang tenang tempat berlindung&lt;br /&gt;dari keriuhan pikiran&lt;br /&gt;tempat menyamakan kemauan tubuh dengan kebijakan hati&lt;br /&gt;Tempat memberangus pemberontakan yang tersulut&lt;br /&gt;mendinginkan angan yang terlanjur terbakar&lt;br /&gt;kekosongan yang mungkin sanggup membelokkan cinta dari selasar yang salah&lt;br /&gt;(kekosongan yang setengah mati aku usahakan!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kau mau menuliskan versimu sendiri dalam buku harian ungu kita, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan bertanya; mengapa mesti menyalin petang yang sama&lt;br /&gt;pantai yang sama angan yang sama hasrat yang sama luka yang sama&lt;br /&gt;ke dalam dua akhir yang  berbeda?&lt;br /&gt;Jika segala rasanya sama mengapa dipaksa berbeda?&lt;br /&gt;Jika pucuk dedaun anthurium itu samasama menusuk, mengapa bersikeras&lt;br /&gt;menanamnya di dalam hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua pertanyaan akan terjawab, kataku&lt;br /&gt;Maka suatu senja yang lain, kuperlihatkan lanskap pantai ini padanya&lt;br /&gt;Amis yang sama tetap bercerita, rumahrumah semi permanen&lt;br /&gt;dalam keremangan juga berbincang.&lt;br /&gt;Ladangladang, bebunga melon&lt;br /&gt;Kubiarkan ia mengikuti angin membawa aroma ikanikan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai juga pada jajaran anthurium muka rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masingmasing yang dilintasi angin membacakan versinya sendirisendiri&lt;br /&gt;beberapa mengerti dan beberapa tak mengerti mengapa kita bertikai&lt;br /&gt;untuk satu lembaran ungu yang tersisa&lt;br /&gt;Padahal sejatinya kesamaan itu penuh, luka itu menggores sama dalam&lt;br /&gt;Kawan itu menegaskan pula; bahasa mata adalah kejujuran yang terpancar&lt;br /&gt;dari lubuk terdalam hati&lt;br /&gt;Jangan pernah berbohong, sebab akan terlihat sangat jelas dalam pancaran mata&lt;br /&gt;Katanya ia membaca badai yang sama di palung mata kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berbohong, jangan memunafiki diri, jangan mengingkari pancaran mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap senja, aku membelokkan arus ingatan pada halhal menyenangkan&lt;br /&gt;Jauh ke utara, meninggalkan selatan yang badai&lt;br /&gt;meninggalkan lembaran terakhir buku harian ungu kita&lt;br /&gt;kuserahkan utuh biar petang di pantai ini menuruti jemarimu menyalinnya&lt;br /&gt;mengemas kenanganmu sendiri, versimu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyerah membacai sampansampan yang masih tetap akan di sana&lt;br /&gt;sampai tahuntahun mendatang&lt;br /&gt;mungkin aroma amis ikanikan pun tetap akan terbawa angin&lt;br /&gt;terseret terus semakin jauh ke utara, ribuan kali melintasi ladangladang&lt;br /&gt;hinggap di bebunga melon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ke jajaran anthurium muka rumahmu, yang lelah menyaksi&lt;br /&gt;pertikaian hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, ingatan adalah penyimpan rasa sakit&lt;br /&gt;Aku hanya tahu, tak ada yang mampu mengelak dari ingatan&lt;br /&gt;Tapi aku tidak menulis puisi nelangsa walaupun pertanyaan tetap bergaung&lt;br /&gt;Semudah itu menyalin sebuah senja terakhir berakhir&lt;br /&gt;di pantai tempat kita pernah mimpi membangun rumah kecil&lt;br /&gt;di tepiannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak hidup sebatas usia percintaan&lt;br /&gt;Ia bertahan melintas generasi, menyaksikan&lt;br /&gt;Kelak dermaga dibangun di pantai ini menggusur rumahrumah&lt;br /&gt;Aspal mungkin melenyapkan ladangladang&lt;br /&gt;Bangunanbangunan megah didirikan&lt;br /&gt;Aroma tajam ikanikan mati tak lagi terhirup, sampansampan itu enyah&lt;br /&gt;Meniupkan aroma kehidupan baru tanpa namaku pernah tertulis&lt;br /&gt;Dalam kenanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuserahkan padamu catatan pada buku harian ungu itu&lt;br /&gt;Kukembalikan padamu sisa mimpi yang tak sempat jadi kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap senja, aku masih juga bertengkar dengan ingatan&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Entah kapan, makam kecilku akan sunyi dengan nisan tegak di atasnya&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;                                                                                      makam hati setengah selesai, akhir tahun 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1851480352724470062?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1851480352724470062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1851480352724470062' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1851480352724470062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1851480352724470062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/01/my-sacrifice.html' title='My Sacrifice'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-4500352937996305749</id><published>2008-01-05T22:06:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T23:09:36.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Iseng-iseng</title><content type='html'>Satu mingguan yang lalu, kalo gak salah ingat sih, suatu sore, iseng-iseng, sambil menunggu waktu gladi resik untuk pementasan Indonesia Dalam Sepotong Sajak, gurat tangan saya dibaca oleh seorang teman. Teman ini kebetulan berprofesi sebagai tabib (juga penyair? :D), ah, yang jelas beliau bisa membaca gurat tangan, gitu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya buka tipe orang yang percaya dengan hal-hal begituan, ramalan-ramalan, zodiak dn semacamnya just for fun aja, gak percaya-percaya banget lah. Tapi hasil pembacaan gurat tangan sore itu cukup mencengangkan juga, saya akui. Kata beliau ni saya termasuk orang ngeyelan alias keras kepala, semua yang saya inginkan diusahaain harus bisa tercapai.  Katanya saya juga gak gampang sakit tapi sekalinya sakit satu minggu bisa aja gak keluar-keluar...hehehhe... Soal keuangan, saya (katanya lagi nih) termasuk beruntung sebab saya gak pernah kehabisan uang (horee...), selalu saja ada uang datang dari sumber yang tidak terduga (hehehe.. dikasih paman, bibi, pakde, bude, nemu di jalan...mmm...dipinjemin temen termasuk juga gak ya?). Wah, saya langsung berdoa semoga yang bagus-bagus begitu bertahan sampai saya jadi nenek-nenek. Tapi katanya akan ada tiga kebutuhan besar deket-dekat ini, meskipun satu kebutuhan diantaranya masih dapat ditunda (jadi deg-degan juga :P). Jeleknya saya termasuk boros juga. Duh, hari gini gak boros? Susaahh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peruntungan. Nah ini. Beliau menyarankan agar saya sering ikutan kuis di radio atau tivi sebab kecenderungan saya untuk menang termasuk besar meskipun cuma dapat souvenir doank. Sayangnya saya jarang ikutan yang begituan apalagi zaman sekarang hampir semua kuis via sms, jadi berat di pulsa juga ( mendingan buat sms temen sekalian jalin silaturrahmi (halah..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang asmara. Gurat yang dibaca adalah gurat di telapak tangan yang dimulai dari pertengahan telunjuk-jari tengah sampai di bawah kelingking. gurat-gurat yang membentuk cabang dari gurat utama katanya adalah jumlah mantan pacar saya (huaa.. ternyata guratnya banyak!). Ada satu gurat cabang yang menutup seperti bulir padi, artinya dari sekian banyak satu itulah yang jadi the best one, selalu terkenang oleh saya (hmm...). Ada satu cabang yang keluar dari gurat utama, mencar, istilah gampangnya, itu bermakna ada satu mantan pacar saya yang sudah menikah. Yap, yang ini benar seratus persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup mencengangkan saya, beliau bilang saya sedang memikirkan sesuatu terlalu dalam akhir-akhir ini, sebuah masalah yang berusaha saya atasi sendiri. Ini juga benar seratus persen. Saya spontan tanya darimana beliau bisa tahu. Beliau menerangkan dan menunjukkan sesuatu pada telapak tangan saya yang tampak samar tapi terlihat jelas jika benar-benar diamati. Beliau juga menyarankan agar saya berbagi alias curhat dengan seseorang yang saya percaya, dan jangan pernah sendirian sebab akan berpengaruh terhadap kesehatan terutama kepala (dan ternyata saya memang sering mengalami sakit kepala di saat-saat tidak terduga. Kata orang, terlalu sering menangis juga memicu sakit kepala ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh. Tulisan ini cuma fun aja, biar gak tertekan menghadapi hidup yang kadang-kadang gak mau tahu keinginan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hidup itu memang indah tergantung dari mana kita memandangnya. Sepedih apapun yang disodorkan hidup pada kita, kitalah yang memilih untuk membiarkan kepedihan itu menguasai kita atau kita akan membuatnya indah dengan cara pandang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal, saya jatuh cinta pada musik yang mengiringi pementasan puisi kami malam harinya. Padhang mBulan, menikmati musik kalian sungguh membantu menenangkan jiwa yang tengah berbadai begitu hebat. Terima kasih, buat Landung, terimakasih link-nya meskipun belum sempat link balik, tapi pasti suatu saat.... :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-4500352937996305749?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/4500352937996305749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=4500352937996305749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4500352937996305749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/4500352937996305749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2008/01/iseng-iseng.html' title='Iseng-iseng'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-792882777949936383</id><published>2007-11-18T18:56:00.000+07:00</published><updated>2007-11-18T19:14:25.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Pada Kekasih</title><content type='html'>&lt;strong&gt;TAFAKUR EMBUN&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pagipagi sekali&lt;br/&gt;merenung embun; bulirbulir dosaku&lt;br/&gt;sepanjang malam&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tuhanku, aku begitu asing&lt;br/&gt;pada rumahMu&lt;br/&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0AsLn3q-OI/AAAAAAAAAGc/lFiUiWiDo8E/s1600-h/sunsetdmuara.jpg"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0AsLn3q-OI/AAAAAAAAAGc/lFiUiWiDo8E/s320/sunsetdmuara.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134152153395034338" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;KEANGKUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sesubuh ini kristalkristal&lt;br/&gt;keangkuhan&lt;br/&gt;Bertetesan memasir wudlu-ku&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cinta yang bergeser. Entah sejak kapan&lt;br/&gt;Kutunda janjijanji padaMu&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kekasihku, keangkuhan inikah&lt;br/&gt;membuatMu&lt;br/&gt;menjauh?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-792882777949936383?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/792882777949936383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=792882777949936383' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/792882777949936383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/792882777949936383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/11/pada-kekasih.html' title='Pada Kekasih'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0AsLn3q-OI/AAAAAAAAAGc/lFiUiWiDo8E/s72-c/sunsetdmuara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-7785413124594246841</id><published>2007-11-18T16:51:00.000+07:00</published><updated>2007-11-18T18:53:49.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Chicken Soup For  The Kid's Soul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0Am7n3q-NI/AAAAAAAAAGU/vHPxyG2AWQI/s1600-h/Chicken+Soup+for+the+Kids+Soul.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0Am7n3q-NI/AAAAAAAAAGU/vHPxyG2AWQI/s320/Chicken+Soup+for+the+Kids+Soul.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134146380958988498" /&gt;&lt;br/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Chicken Soup For The Kid's Soul&lt;br/&gt;98 Kisah yang Menggugah Keberanian, Harapan dan Kegembiraan&lt;br/&gt;Jack Canfield dkk&lt;br/&gt;Gramedia Pustaka Utama, 1999, 496 hal&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;Halo semua... lumayan lama nih gak update. Terimakasih untuk teman-teman yang merindukan posting baru di blog ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oke deh, kali ini saya punya buku yang cukup menarik, meskipun sudah terbitan agak lama tetapi kisah-kisah didalamnya tak pernah basi meskipun dibaca beberapa tahun ke depan. Ya, apalagi kalau bukan Chicken Soup For The Soul? Series gebetan Jack Canvield dan kawan-kawan ini selalu menjadi best seller dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Buat para penggemar Chicken Soup,untuk mengenang dan menggugah jiwa kanak-kanak yang selalu penuh harapan dan kegembiraan, I present Chicken Soup For The Kid's Soul.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berisi 98 kisah inspiratif tentang cinta, persahabatan, keluarga, sikap dan sudut pandang, maut, mimpi , mengatasi rintangan, tentang pilihan dan persoalan berat serta kebijakan ekletik. Kisah-kisahnya dituturkan oleh orang-orang dewasa, tetapi kebanyakan oleh anak-anak dengan jiwa kanak-kanak yang sangat hidup. Buku ini memberikan teladan pada anak-anak tentang cara menghadapi masalah-masalah, mengambil keputusan, cara pandang terhadap rokok dan minuman keras,bunuh diri, prasangka sampai cara menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kisah-kisah persaingan antar teman, sibling, kelas baru, perkara sepatu basket rusak,teman asing di internet, permintaan-permintaan seorang anak, menjadi sesuatu yang sungguh dapat membangkitkan rasa gembira, beberapa menimbulkan rasa haru dan menyentuh lapis nurani paling dalam. Kisah Amy Hagadorn, salah satu favorit saya dalam buku ini, simaklah suratnya yang dikirimkan ke sebuah stasiun radio yang mengadakan lomba menulis surat pada santa, untuk Natal;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;"&lt;span&gt;Santa Claus yang baik,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namaku Amy. Umurku sembilan tahun. Aku punya masalah di sekolah. Bisakah kau menolongku, Santa?. Anak-anak suka menertawakan caraku berjalan, lari dan bicara. Aku mengidap cerebral palsy. Aku cuma ingin satu hari saja orang-orang tidak menertawakan atau menggodaku.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Salam sayang,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Amy"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada banyak penggalan-penggalan lucu;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;"Ibu THOMAS EDISON : "Tentu saja aku bangga kau menemukan bola lampu listrik, Thomas. Sekarang matikan lampu itu dan pergi tidur!"&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ibu BATMAN : "Mobilmu bagus, Bruce, tapi apa kau sadar seberapa mahal asuransinya?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;Bahkan tips-tips sederhana yang memang cocok untuk kanak-kanak ;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;"Kalau kau membuka sweatshirt-mu, kemejamu akan ikut terangkat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jangan tidur sambil makan permen karet.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau ibumu sedang diet, jangan makan coklat di depannya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hmm...membaca Chicken Soup For The Kid's Soul memang membuat hidup terasa lebih indah, betapa sebuah kisah dapat menyentuh kehidupan ribuan orang lainnya. Meskipun ditujukan untuk anak-anak, tapi orang dewasa juga gak bakalan rugi membaca buku ini. Bukankah untuk siapa saja, sup ayam tetap terasa sedap?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ups, sedikit kisah, buku ini ada dalam koleksi saya sebagai kenang-kenangan dari seorang teman asal Wonogiri, enam tahun yang lalu. Telah berkali-kali saya baca dan selalu saja ada hal baru, perasaan baru yang saya temukan. Terimakasih deh buat teman saya itu. :D&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selamat membaca. Selamat menikmati jiwa kanak-kanak yang sebenarnya selalu ada dalam kedewasaan kita!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Inside the book:&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku berdiri di satu sisi meja sementara ana itu di sisi satunya lagi. Di tengah meja ada objek besar dan bundar. Aku melihat dengan jelas bahwa benda itu berwarna hitam. Lalu guru kami bertanya pada anak itu, apa warna benda tersebut. "Putih" sahutnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku tak percaya mendengarnya sebab benda itu jelas-jelas hitam. Kami kembali berdebat, kali ini tentang warna benda tersebut. Guru kami kemudian menyuruhku berdiri di tempat anak tadi sementara anak tadi berdiri di tempatku. Kami bertukar tempat dan sekarang guru kami bertanay padaku, apa warna benda itu. Aku terpaksa menjawab ,"Putih" sebab benda itu memiliki dua sisi yang berbeda warna.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hari itu aku mendapat pelajaran penting, kita mesti bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat situasinya melalui mata mereka, supaya kita bisa benar-benar memahami perspektif mereka. (Judie Paxton)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(hal 152)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-7785413124594246841?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/7785413124594246841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=7785413124594246841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7785413124594246841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7785413124594246841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/11/chicken-soup-for-kids-soul.html' title='Chicken Soup For  The Kid&apos;s Soul'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/R0Am7n3q-NI/AAAAAAAAAGU/vHPxyG2AWQI/s72-c/Chicken+Soup+for+the+Kids+Soul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6248210517675893088</id><published>2007-10-08T15:37:00.000+07:00</published><updated>2007-10-08T17:44:00.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Daging Akar, Eksistensi Gus tf</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwoJZ_iI5uI/AAAAAAAAAGE/I1t1OWHfKz0/s1600-h/GSTF01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwoJZ_iI5uI/AAAAAAAAAGE/I1t1OWHfKz0/s320/GSTF01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118914268615993058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAGING AKAR&lt;br /&gt;Gus tf&lt;br /&gt;Penerbit Buku Kompas, 2005&lt;br /&gt;70 hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini saya sering susah tidur, mungkin sebab bulan puasa, siklus tidur jadi tidak seperti biasanya. Kadang-kadang bahkan tidak tertidur sampai dinihari saat makan sahur. Seperti malam tadi, rasa kantuk tidak juga datang pada saya. Jadilah saya melakukan kebiasaan lama; bongkar-bongkar koleksi buku, siapa tahu ada yang enak dibaca-baca ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan saya jatuh pada -lagi-lagi- buku kumpulan puisi. Kali ini milik Gus tf dengan Daging Akar-nya. Sebenarnya saya pribadi susah memahami puisi-puisi rentang 1996-2000 ini, sempat juga terpikir bagaimana mungkin menulis reviewnya? Mengalir saja ya, saya malah terkenang senja hari berhujan pertama kali saya membuka buku ini. Saat itu di panggung rendah satu setengah meteran di depan saya Happy Salma tengah menceritakan tentang buku kumpulan cerpennya yang berjudul Pulang. Bagai angin di telinga saya sebab saya hanyut sendiri berinteraksi dengan Daging Akar (maaf yach mbak Happy, bukannya ngga menghargai :D). Teman yang duduk di sebelah saya sempat pula sesaat terlupakan... hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus tf - untuk prosa, penulis Payakumbuh ini memakai nama Gus tf Sakai - membagi Daging Akar menjadi bagian pertama bertajuk Daging dan bagian kedua, Akar, masing-masing dengan 19 buah puisi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa beliau memilih menggunakan Daging? Saya tak pernah paham, seperti masih juga tak pahamnya saya dengan pilihan Akar-nya. Puisi-puisi yang saya temukan di sini sangat 'manusia', sangat 'alam' dan sangat 'hidup'. Seolah mengajak pembacanya berpikir dan merenungi tentang eksistensi dirinya, makna hidupnya. Jadi serasa filsuf banget dech. Untuk saya yang termasuk awam dalam hal begini, terasa agak susah mencerna ide-ide yang ditawarkan dalam puisinya. Puisi pertama pada bagian pertama, pencarian eksistensi itu, sudah cukup membuat saya ?*! (pusing, ikut berputar-putar dalam tanya :D). Penggalan sajak berjudul Daging ini : &lt;em&gt;Tentang tiada? "Aku manusia! Diriku lahir/karena ada. Siapa Anda? Takkan aku bertanya/kalau di mataku Anda tiada. Takkan aku bertanya kalau gugus/galaksi gelap saja. Tak kan aku berpikir kalau semuanya/sia-sia. Siapa Anda?"&lt;/em&gt;. Nah lo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi juga tergambar dalam puisi Ibu dan Anak: &lt;em&gt;"Bu, dari mana kita? Mengapa kita ada?"/"Entah. Dari tanah. Tidurlah!"&lt;/em&gt;. Dalam puisi Si Gila, pertanyaan itu malah muncul dari mulut seorang gila yang tak penting: &lt;em&gt;seorang lelaki turun dari taman kota/Dari pintu pagar,/ia berteriak, "Tidakkah mengherankan bahwa kita hidup?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setidaknya ada beberapa puisi yang cukup mudah saya pahami. Mengangkat makna-makna, kata dan pemikiran bijak yang jika dipikirkan memang benar adanya. Peniup Suling mengajak kita keluar dari waktu, menembus ruang, melampaui dunia materi, suling yang ditiup pada zaman berbeda akan terdengar di zaman yang lain pula : &lt;em&gt;Kau meniup suling - entah kapan/dan di mana, tapi aku mendengarnya. Mungkin seseorang membawa/sejarah, dan ia tak hidup di zaman kita&lt;/em&gt;. Makna yang sangat terasa ketika membaca Gagak Putih : &lt;em&gt;Jangan terlalu percaya pada mata. Mungkin materi/yang membentuk realitas ini cuma gelombang suara&lt;/em&gt;, atau dalam Penafsir : &lt;em&gt;Menafsir? Sungguh lucu. Bagi kami/sejak lama, yang penting justru mengubahnya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kumpulan Akar, ada beberapa pengungkapan, pemikiran tentang hakikat diri dan selintas rasa putus asa, juga keasingan manusia dengan sekitarnya - menurut penafsiran saya pribadi sih-. Sajak, 2 : &lt;em&gt;Satu kalimat dalam diriku: Selalu mencoba/ungkapkan diri, tak sampai-sampai/tak sampai-sampai kepadamu&lt;/em&gt;. Malin : &lt;em&gt;dalam diriku/Malin terkapar digempur nafsu&lt;/em&gt;. Negara Waktu: &lt;em&gt;kau pun lalu berkata, "Hanya ketika waktu tak ada,/kau boleh bilang keabadian engkau yang punya."&lt;/em&gt;. Usia : &lt;em&gt;dan aku meronta, mengerang dari dada. Secabik serat/melenguh; mengiris ruang dalam diriku. O,bagaimana/mungkin, masa depan menyurut, mengekal masa lalu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uufs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus tf piawai sekali menggunakan pilihan kata seperti langit, angkasa, galaksi, bintang, DNA, molekul, bakery, kosmik-radiasi, atom, zaman dan susi (sampai sekarang saya masih juga ngga tahu apa sih yang dimaksud Gus tf dengan susi?). Kalau ada yang tahu, kasih tahu saya donk :D. Penulis ini juga bermain kata yang sedikit beraroma science, agak fisika-fisika sedikit, begitulah. Alam dan manusia jelas masuk dalam daftar pilihan katanya. Tapi untuk kepiawaiannya menulis puisi yang bermakna dalam, bukan sekedar kata-kata indah, saya angkat topi beneran deh. Salut! Sebuah yang sangat saya suka, puisinya yang berjudul Penglihatan, yang saya nukilkan lengkapnya di akhir review ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, buat yang suka puisi, buku ini pasti menambah wawasan perpuisian, buat yang suka mikir agak-agak filsuf sedikit, buku ini juga mampu menampung pikiran-pikiran anda. Jadi, ngga ada ruginya membaca Daging Akar besutan Gus tf ini. Good luck, and selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Inside the book:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penglihatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga ini, bila kau berkesempatan merenanginya,&lt;br /&gt;konon kata mereka, kita akan punya penglihatan yang sama,&lt;br /&gt;sehingga apapun yang kau kata,aku juga bakal menyaksikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudera ini, bila kau berkesempatan menyelaminya&lt;br /&gt;konon kata mereka, kita akan saksikan bening-jernih semesta,&lt;br /&gt;karena dasarnya, sungguh aneh, lebih terang daripada permukaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payakumbuh, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(hal 42)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6248210517675893088?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6248210517675893088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6248210517675893088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6248210517675893088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6248210517675893088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/10/daging-akar-eksistensi-gus-tf.html' title='Daging Akar, Eksistensi Gus tf'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwoJZ_iI5uI/AAAAAAAAAGE/I1t1OWHfKz0/s72-c/GSTF01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2453262708875153429</id><published>2007-10-04T09:50:00.000+07:00</published><updated>2007-10-08T15:37:29.784+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Beribu Rindu Pada Ma_Belle</title><content type='html'>Beribu Rindu Kekasihku&lt;br /&gt;Abdul Wachid BS&lt;br /&gt;Amorbook 2004, 98 hal.&lt;br /&gt;(no pic available)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwRZJPiI5sI/AAAAAAAAAF0/qJuqmtdZjT0/s1600-h/achidbs1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwRZJPiI5sI/AAAAAAAAAF0/qJuqmtdZjT0/s320/achidbs1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117313091923142338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Abdul Wachid B.S. tatkala baca sajak di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,November 1996. Atas undangan Panitia Festival November.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review buku kumpulan puisi ini persembahan khusus untuk Ma_Belle AKA Cy_Irish AKA Gerry Mirinda (saking banyaknya punya nama maya.. hehhe), seorang gadis manis yang penampakan luarnya sama sekali tidak 'nyastra' tapi ternyata suka baca dan nulis puisi. Puisi-puisinya juga lumayan ada soul-nya. Kelihatannya sih penyair wanna be nich anak... :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Wachid BS. Nama ini yang sering dia sebut-sebut dan ada salah satu puisi karya penyair ini yang diupload di blognya. Kali ini, untuk Ma_Belle, dengan Beribu Rindu Kekasihku (no pic available sayangnya...), Abdul Wachid BS mengemas cinta dalam dua bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I : SMS Harap-harap Cemas, sajak-sajaknya mewakili hati seseorang yang sedang berjauhan dengan kekasihnya dan segala cinta, kecemasan dan kerinduannya diungkapkan lewat sms. Tetapi meski ber-sms, kadangkala kecemasan malah menjadi-jadi. Teknologi telepon genggam tidak mampu menyelesaikan masalah kerinduan dan cinta yang menggebu dalam keterpisahan. Segala cinta, kerinduan dan cemas itu dapat dibaca dalam SMS Pucat Kapas, SMS Harap-harap Cemas, dalam SMS Tak Terkirim: &lt;em&gt;Kurasa kau sedingin es/Suaramu via HP, di balasan SMS/Wujud tanpa bentuk/Tapi kenapa aku begitu takluk?, &lt;/em&gt;dalam SMS Rindu: &lt;em&gt;Kekasih,/rindu padamu/Sungguh membuatku/Gila!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II diberi judul Kangen Tak Terbilang. Kisah-kisah tentang kangenlah. Kangen yang tak hanya sebab keberjarakan tetapi rasa rindu yang timbul karena perasaan cinta seperti tergambar dalam sajak Meski: &lt;em&gt;Meski, Kekasih/Jarak kau aku hanya dalam hati/Kenapa peleburan cinta sulit sekali?. &lt;/em&gt;Ada sebuah puisi dalam bagian kedua yang sangat saya suka, judulnya Yang: &lt;em&gt;Kutulis duri-duri dari hari/Yang terbaca malah nyanyi/Kubaca-baca alir air nurani/Yang terdengar jerit merindui&lt;/em&gt;. Perasaan kangennya sampai banget gak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak dalam buku ini 'cinta' banget. Ya namanya juga kumpulan puisi cinta dink. Gaya berpuisinya menurut saya seperti gaya puisi zaman dulu yang mengikuti pola bait dengan rima. Pertama kali membaca puisi-puisi dalam buku ini, saya merasa aneh sebab sudah jarang saya menemukan gaya seperti ini. Tapi juga jadi terasa unik sebab sang penyair memasukkan kata-kata gaul seperti &lt;em&gt;'banget','ML','Idiih','misscall' &lt;/em&gt;ke dalam bait-bait puisi yang bernuansa zaman dulu itu. Jadi rasanya seperti mengawinkan dua species yang berbeda.. heeheheh.... Uniklah pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm..saya kadang mengulang membaca Beribu Rindu Kekasihku jika sedang mencari pencerahan, sedang merasa kalut, merasa rindu mungkin. Eh, tapi saya memang selalu menyempatkan membaca puisi kalau sedang bete, sedang susah melepaskan sesuatu dari pikiran, biasanya puisi dapat merefresh mood saya, syukur-syukur dapat inspirasi baru :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Ma_Belle, nih reviewnya, kalau mau pinjam bukunya boleh kok. Semoga saja bisa membantu menyembuhkan 'luka-luka'mu... hheehehhe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Inside the book:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakrawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa jarak impian dan kenyataan?&lt;br /&gt;Bisa sejauh langit&lt;br /&gt;Bisa setipis kulit&lt;br /&gt;Ah, kau bilang ingin di antara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti si pemabuk Qois atau Romeo&lt;br /&gt;Berjalan di dalam mimpi&lt;br /&gt;Tertidur di dalam jaga&lt;br /&gt;Maka tajam jalanan tak terasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti para wanita di kota Zulaikha&lt;br /&gt;Mengiris-iris buah tangan&lt;br /&gt;Meluka-luka tangan sendiri&lt;br /&gt;Ah, kubilang kau aku di antara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(hal 22)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2453262708875153429?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2453262708875153429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2453262708875153429' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2453262708875153429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2453262708875153429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/10/beribu-rindu-pada-mabelle.html' title='Beribu Rindu Pada Ma_Belle'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RwRZJPiI5sI/AAAAAAAAAF0/qJuqmtdZjT0/s72-c/achidbs1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2641661818768403649</id><published>2007-09-19T18:29:00.000+07:00</published><updated>2007-09-19T19:41:23.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Sehirup Senja</title><content type='html'>Saat senja, banyak hal muncul dalam ingatan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SECANGKIR COFFE MIX SAAT SENJA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvERkE7xwdI/AAAAAAAAAFM/iHDXRQfG2DE/s1600-h/coffe.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvERkE7xwdI/AAAAAAAAAFM/iHDXRQfG2DE/s320/coffe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111886363539653074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehirup demi sehirup&lt;br /&gt;Seperti mahkota bunga&lt;br /&gt;tanggal&lt;br /&gt;Tinggal anganangan&lt;br /&gt;di dasar cangkir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kamu pernah mencoba menyatukan &lt;br /&gt;mimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MAGHRIB DI ANGKRINGAN SUDUT JALAN ITU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kota ini mulai menyala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucari kamu&lt;br /&gt;Kemarin disampingku&lt;br /&gt;mengaduk hati&lt;br /&gt;dalam segelas&lt;br /&gt;susu jahe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucari kamu. &lt;br /&gt;Tatapan yang bersentuh itu&lt;br /&gt;Getargetar mengabur&lt;br /&gt;Denting&lt;br /&gt;sendok dan gelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Aku kangen kamu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sebungkus nasi dengan sambal tomat&lt;br /&gt;tusuk sate bersilangan&lt;br /&gt;di mataku bayangmu ada!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvES4E7xwfI/AAAAAAAAAFc/xdIhGx94_GA/s1600-h/blog-segokucing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvES4E7xwfI/AAAAAAAAAFc/xdIhGx94_GA/s320/blog-segokucing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111887806648664562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEMANDANG MUG PUTIH DI ETALASE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01&lt;br /&gt;Malam dingin. Malam tengah malam&lt;br /&gt;Kau bilang lemon tea.&lt;br /&gt;Padahal sepat jeruk purut sembarang kau petik&lt;br /&gt;dari tamanku&lt;br /&gt;Cinta, maka masam sepat saja sisa sesap&lt;br /&gt;bibirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02&lt;br /&gt;Teringat bajigur mbak Dar&lt;br /&gt;di bawah pohon trembesi alunalun kotamu&lt;br /&gt;Kataku indah. Tapi kita tak sepakat&lt;br /&gt;tentang puncak gunung Sumbing&lt;br /&gt;di kejauhan&lt;br /&gt;Maka, kau sisih cinta seperti kolangkaling&lt;br /&gt;di gelasmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvEX_E7xwhI/AAAAAAAAAFs/qFgUBdXLl0k/s1600-h/oneida_crown_rego_white_mug_P0000276762S0004T2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvEX_E7xwhI/AAAAAAAAAFs/qFgUBdXLl0k/s320/oneida_crown_rego_white_mug_P0000276762S0004T2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111893424465887762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03&lt;br /&gt;Secangkir Nescafe Classic tumpah hangat di dadamu&lt;br /&gt;Mungkin memang noda, tapi tak ampas, bukan?&lt;br /&gt;Masukkah jauh menembus dadamu?&lt;br /&gt;Sungguh maaf, kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04&lt;br /&gt;Memandang pecahan roti tawar yang meleleh&lt;br /&gt;di lembut lidahmu, terlupa aku akan menitmenit&lt;br /&gt;hingar di jalan raya!&lt;br /&gt;Dalam decap lidahmu begitu mudah angkuhku&lt;br /&gt;meleleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05&lt;br /&gt;Ada retak di pegangan mug&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2641661818768403649?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2641661818768403649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2641661818768403649' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2641661818768403649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2641661818768403649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/09/sehirup-senja.html' title='Sehirup Senja'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RvERkE7xwdI/AAAAAAAAAFM/iHDXRQfG2DE/s72-c/coffe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-1948448290831806946</id><published>2007-09-17T18:36:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T12:01:50.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Tentang Hati</title><content type='html'>Tentang hati yang selalu memberikan penawaran berbeda setiap hari...(teringat seorang teman yang berburu mimpi Yogya-Malang-Bali.... dan mungkin juga bertualang ke tempat-tempat lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesetiaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keping...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau ulurkan&lt;br /&gt;Jantungmu yang paling debar&lt;br /&gt;Dekat dadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jatuh Cinta Lagi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku abai musim&lt;br /&gt;Dan mencumbu pelangi&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Pada bibir (racun)mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Ru6H2J5XQhI/AAAAAAAAAFE/PFSXmGWGuFk/s1600-h/Kissing_in_the_Rain_by_CrazyWingo1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111171991551296018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Ru6H2J5XQhI/AAAAAAAAAFE/PFSXmGWGuFk/s320/Kissing_in_the_Rain_by_CrazyWingo1.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Kissing in The Rain by Crazy Wingo, pic-nya bagus yach!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-1948448290831806946?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/1948448290831806946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=1948448290831806946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1948448290831806946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/1948448290831806946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/09/tentang-hati.html' title='Tentang Hati'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Ru6H2J5XQhI/AAAAAAAAAFE/PFSXmGWGuFk/s72-c/Kissing_in_the_Rain_by_CrazyWingo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5712812038980008502</id><published>2007-09-07T18:11:00.000+07:00</published><updated>2007-09-07T19:05:55.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Untuk Lelaki-ku Yang Paling Indah</title><content type='html'>Pernah merasakan kehilangan? Saya pernah membaca dalam sebuah seri Chicken Soup, bahwa kehilangan yang paling menyakitkan adalah ketika kehilangan seseorang dari sanubari kita sementara kita sendiri masih hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalami banyak kehilangan. Ada kehilangan yang benar-benar sebab kematian; kelas tiga SMP saya kehilangan seorang sahabat, teman sebangku, saingan saya pula dalam prestasi di sekolah, karena kecelakaan lalu lintas, kelas 2 SMA saya kehilangan bunda saya. Dari sekian banyak kehilangan sebab kematian dua kehilangan itulah yang paling dalam saya rasakan. Ada kehilangan-kehilangan lain; waktu SD saya pernah kehilangan bola bekel yang sangat saya sukai, pernah juga kehilangan satu seri Tiger Wong, majalah kungfu favorit saya masa itu, entah nyungsep di rumah teman saya yang mana. Ketika dekat-dekat usia seventeen, kehilangan-kehilangan yang saya alami biasanya berkisar hal-hal tak penting, cowok misalnya. Cinta monyet saya akhirnya jadian dengan sahabat saya sendiri. Gak penting banget kan? :D. Setelah dewasa (wuihh, dewasa?) saya tidak terlalu dramatis lagi terhadap ‘kehilangan’. Paling-paling kehilangan benda-benda kecil kesayangan saya; saputangan yang diberi oleh cinta pertama saya, rok-rok pendek buatan bunda saya dulu, poster grup band Padi kesayangan yang dibelikan sepupu, dan belum ada satu minggu yang lalu saya kehilangan salah satu tanaman hias kesayangan saya. Lenyap tak terdeteksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada sebuah kehilangan yang sangat dalam. Seseorang pergi tapi dia hanya sejarak pelukan, setiap hari saya bisa lihat sosoknya, beraktivitas, tumbuh dewasa menjadi sesosok lain yang hampir tak saya kenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki paling indah itu, paling indah dalam hidup saya, telah pergi. Dia memilih jalannya sendiri lepas dari kasih tak berpamrih yang selalu bersedia saya berikan untuknya. Dia memilih untuk pergi dari rengkuhan, menghadapi dunia tanpa perlindungan, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang saya bisa berikan untuk pilihan-pilihannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat mencintai dia. Lebih dari apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya pernah melakukan kesalahan, saya pernah memaksakan kehendak yang mungkin sangat menyinggung dia, tapi saat itu ego saya yang bertindak. Lalu dia menyingkirkan saya mungkin, dari daftar orang yang berhak disayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang rasanya perih melihat dia. Bekerja keras untuk seorang istri yang sedang  mengandung anak pertamanya. Melihat beban-beban kehidupan yang sarat sekali terpancar di matanya, rasanya ingin merengkuh dia, memeluk dan bertanya apa yang bisa saya lakukan untuknya. Tapi dia begitu jauh. Jarak itu begitu tajam memisahkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga pernah salah. Tapi maaf  itu sudah ikhlas saya berikan meskipun ia tak pernah memintanya. Saya hanya ingin semua kembali seperti sedia kala. Bisa berbincang, canda dengannya. Berebut remote televisi, nonton Formula 1 atau MotoGP bersamanya. Begadang sampai malam muter kaset-kaset rock lama. Berdendang Still Loving You sambil saling mengejek suara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kehilangan lelaki paling saya cintai dalam hidup. Dia pergi dan hilang dari hari-hari saya sejak kata menjadi sesuatu yang tak penting, kebisuan melingkupi sekitar, dan keterdiaman yang terus membuat saya merasa pedih. Apakah dia benar-benar tak membutuhkan saya lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  dari sekian banyak kehilangan, kehilangan dia mungkin menjadi sesuatu yang tak sanggup saya hadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Adikku, mengapa tidak kita akhiri saja semua ini? Ingat tidak malam beberapa tahun lalu, usiamu 21, ketika berselisih sedikit dengan ayah, kau memintaku memelukmu sampai kau tertidur, kau gemetar karena kekecewaan dan amarah dan aku di sana memelukmu sampai kau benar-benar tertidur......Ingat tidak malam lain di tahun itu pula, saat aku jatuh pingsan di jalan, terlalu sedih saat mengejarmu, meminta kau untuk tidak pergi?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat mencintai dia. Sangat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5712812038980008502?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5712812038980008502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5712812038980008502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5712812038980008502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5712812038980008502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/09/untuk-lelaki-ku-yang-paling-indah.html' title='Untuk Lelaki-ku Yang Paling Indah'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-437316669215341394</id><published>2007-08-31T12:17:00.000+07:00</published><updated>2007-08-31T12:35:25.678+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Jejak-jejak Tertinggal</title><content type='html'>&lt;div&gt;Tanpa rencana, tiba juga akhirnya ia di pantai itu. Sekian tahun telah berlalu dan pantai itu banyak berubah. Jalan setapak yang dulu, bukit-bukit pasir.. semuanya tidak serupa itu saat terakhir kali ia sambangi. Mungkin tujuh tahun yang lalu, ia mengingat-ingat, terakhir kali dinikmatinya matahari tenggelam di sana. Hela nafasnya menyatu dengan angin. Perjalanannya kali ini seperti napak tilas tahun-tahun yang mengendap dan nyaris dia lupakan meskipun kadang tetap membuatnya terdera rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memarkir motornya beberapa meter dari air, ia melangkah perlahan. Pasir-pasir menajam di kakinya. Aroma laut yang khas menyerbu penciuman, ada sedikit amis yang terbawa dari perahu-perahu nelayan di tepian. Beberapa remaja berkejaran saling dorong di pasir sambil tertawa-tawa ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memilih bagian pantai yang agak sepi. Sejak dulu ia suka bagian pantai yang sepi, menjauh dari orang-orang. Matahari hampir terbenam. Angannya berkembara jauh ke tahun-tahun lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El, jangan berumah di tepi pantai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ia tertawa lepas sembari mengacak rambut Gara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau berumah di mana aku mau, dan kau tahu kecintaanku pada pantai. Jangan terlalu terbawa acara televisi tentang rumah di pantai yang terbawa ombak itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat Gara menatapnya aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan sebab itu El, berumah di pantai minimal kita harus membuat rumah yang tahan gempa dan tsunami sebab….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssttt”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia dan Gara hanya menikmati matahari terbenam dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rteoa2fLtwI/AAAAAAAAAE8/MskgsILUi4o/s1600-h/Image006a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104733881904117506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rteoa2fLtwI/AAAAAAAAAE8/MskgsILUi4o/s320/Image006a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia menikmati matahari terbenam juga dalam diam. Malah tanpa Gara. Gara sudah jauh darinya. Terakhir didengarnya kabar ia menikah dan berputra satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunggu seseorang sekarang. Diliriknya jam tangan, beberapa saat lalu telepon genggamnya berdering. SMS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El, ak bs dtg. Tunggu ak ½ jam lg, coz urusanku lom slesei. Ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;½ jam lg? Sunsetnya dah abiz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gmn lg? Tunggu ya...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ok. ½ jam lg dah lewat jam 6. But I’ll wait...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengunci keypad handphone, memasukkannya dalam saku. Berjalan ke arah matahari terbenam matanya mencari tempat yang memungkinkannya duduk tanpa celana jeansnya terkotori banyak pasir. Akhirnya ditemukannya sepotong batang kayu yang terbawa ombak ke tepi, mungkin sudah lama ada di sana. Dan kelihatannya sering pula diduduki pengunjung pantai itu sebelum dia. Botol air mineral dan kemasan makanan kecil berserak di dekatnya. Ia duduk. Menatap jauh ke lautan di depannya. Temaram sudah. Matahari hampir habis. Remaja-remaja itu masih berkejaran dan tertawa-tawa, agak jauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sekali, ia hampir lupa berapa tahun yang lalu, di tempat yang hampir sama seperti ini, dengan potongan batang kayu didudukinya, Gara di depannya bersila di pasir pantai. Rambut panjang Gara tersapu angin menampar wajahnya, tapi ia tak marah ataupun merasakan perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih yang kamu suka dari pantai? Udara basah begini kan bikin rambutmu lengket..” Gara menggerutu. Ia tahu sejak dulu ia dan Gara tak pernah sepakat soal pantai. Gara lebih suka udara pegunungan yang menurutnya murni dari polusi dan bagus buat paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pun mau berumah di mana aku mau, El. Dan aku maunya tidak di pantai.” Gara senyum simpul sambil mengamati ekspresi wajahnya. Mata Gara berbinar canda. Ia tertawa begitu lepas saat itu. Tiba-tiba Gara menarik tangannya dan mereka berlari menantang ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perih itu dirasakannya sekarang. Mendadak angin bertiup lebih kencang menerbangkan pasir ke wajahnya membuatnya merasakan perih yang lain. Remaja-remaja itu mulai beranjak pulang. Tawa mereka terdengar olehnya sayup-sayup makin menjauh. Telepon genggamnya berdering lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El, masih d pantai kan? Tunggu bentar lg. Mendadak ada lg yg hrs kukerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap ke arah matahari. Tinggal sisa sinarnya saja. Menggaris di langit pantai seperti gambar perspektif, warnanya pun tak mampu ia definisikan. Mungkin biru, tapi sepertinya bukan, kelabu, merah...uh, entahlah. Dingin. Ia mendekapkan tangan ke dada. Diliriknya jam tangan. Sudah hampir setengah jam ia menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa ia ada di sini sekarang. Semua tak direncanakannya. Begitu saja terpikir olehnya pantai ini ketika ia keluar rumah tadi, menstarter motornya dan melihat langit yang begitu cerah. Ketika sampai tadi, ia ingat seseorang. Seseorang yang pernah berjanji akan menemaninya menikmati senja di pantai, kapanpun ia mau. Maka ditekannya nomor-nomor yang dihafalnya di luar kepala, tanpa melihat daftar kontak dalam handphone-nya. Entah mengapa juga, ia bisa ingat rangkaian nomor itu. Dua jam yang lalu, setelah berkali-kali ia hubungi, teleponnya di terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, El?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku di pantai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang? Aku lagi kerjakan sesuatu, gak bisa ke situ temani kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam. Tak tahu mesti memaksa atau mengingatkan pelunasan janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, El.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia memang tidak mendengar sesal dalam kalimat itu? Ia menekan sakit yang tiba-tiba muncul. Tapi kesadaran untuk tidak berharap membuatnya memaksakan senyum meskipun tahu lawan bicaranya tak akan melihat. Ia menenangkan hatinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Aku sendirian saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik. Ditatapnya handphone agak lama. Tak ada apa-apa di sana. Cuma catatan hubungan telepon terakhir. Tapi dalam pikirannya berkelebat bayangan lain. Ia membunuh bayangan itu. Apakah saat itu ia merasakan air mata membasah? Ia tak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ia di pantai itu sekarang. Masih menunggu sebab setengah jam setelah telepon itu pesan pendek masuk ke handphonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El, ak bs dtg. Tunggu ak ½ jam lg, coz urusanku lom slesei. Ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia malah mengenang Gara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kedinginan sekarang. Dulu Gara pasti memeluknya jika ia kedinginan seperti ini. Angin terasa lebih kencang sebab malam mulai turun. Matahari benar-benar telah terbenam dan gelap mulai mengelilinginya. Ia menggigil. Ia menundukkan kepala, rapat ke lututnya. Pantai itu sudah sepi. Ia mengharapkan sosok yang dinantinya tiba, menemukannya kedinginan di sini dan (mungkin ) memberikan pelukannya. Ah, angannya terlampau jauh. Bukankah tak ada hubungan istimewa antara mereka? Mungkin ia yang salah mengartikan perhatian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon genggamnya berdering lagi. Incoming call. Tiba-tiba ia merasa harapannya benar-benar habis. Tubuhnya tiba-tiba lunglai saat mendekatkan hanphone ke telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El, maaf banget, aku gak bisa datang. Udah malam banget untuk ke pantai. Kamu pulang saja sekarang. Gak baik di pantai jam segini, apalagi untuk perempuan...”&lt;br /&gt;Ia diam. Ombak berdebur kencang, rasanya sangat dekat. Ia berpikir percuma bersuara toh suaranya akan lenyap, kalah dengan deburan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ia hanya tak tahu mesti berkata apa. Ia sudah menunggu. Kedinginan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El? Kamu gak apa-apa kan? Maafin, El... Kamu pulang saja sekarang, okey?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah didengarnya sesal dalam kalimat itu? Ia tak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.” Setengah berteriak. Serak. Ia marah pada dirinya sendiri, setengah menahan tangis. Ia tak tahu perasaan apa di hatinya sekarang. Diakhirinya telepon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia beranjak. Tiba-tiba ia merasa takut menyadari sekelilingnya sudah gelap. Apakah tinggal ia sendirian di sana? Sekarang air mata benar-benar telah menuruni pipinya. Setengah berlari ke tempat ia memarkir motor, hatinya menyalahkan Gara. Mengapa sejak Gara, pantai selalu menyisakan rasa sakit untuknya? Terlepas dari siapapun yang terhubung dengannya di pantai, ia selalu saja merasakan sakit. Selalu saja tentang apa yang diingininya dan tak pernah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menstarter motornya. Pulang. Memacu secepat ia bisa. Dingin tak lagi dirasakannya. Telepon genggam yang sedari tadi berdering mengisyaratkan pesan masuk pun tak lagi dipedulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kilometer jauhnya dari El, seseorang bermain dengan pikirannya sendiri. Berulang ditatapnya telepon genggam itu, sambil berpikir untuk mengirim email saja malam nanti untuk menjelaskan ini semua.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-437316669215341394?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/437316669215341394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=437316669215341394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/437316669215341394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/437316669215341394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/jejak-jejak-tertinggal.html' title='Jejak-jejak Tertinggal'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rteoa2fLtwI/AAAAAAAAAE8/MskgsILUi4o/s72-c/Image006a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6566812159704386244</id><published>2007-08-31T09:22:00.000+07:00</published><updated>2007-08-31T09:44:30.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Menulis'/><title type='text'>Tips Menulis Fiksi</title><content type='html'>Dari berbagai sumber, saya tuliskan kembali dalam urutan acak. Ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips-tips menulis fiksi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifiklah dalam menulis. Katanya nih, makin spesifik sebuah cerita akan makin terasa nyata buat pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The best fiksi&lt;/em&gt; muncul dari imajinasi yang kaya dari penulis yang pandai bercerita. Hmm hmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa mengetik dengan baik dan menguasai aplikasi &lt;em&gt;word processor &lt;/em&gt;akan sangat berguna buat seorang penulis. Bener buanget yach?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revisi donk. Revisi itu penting. Seorang penulis dapat lebih dari sekali melakukan revisi, tapi jangan keterusan. Segera berusaha untuk mempublikasikannya, mengirimnya ke media massa , atau paling gampang di&lt;em&gt;upload&lt;/em&gt; aja ke blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlihatkan, lakukan, jangan cuma sekedar ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tips yang menyarankan untuk menghindari memulai sebuah cerita dengan dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin &lt;em&gt;surprise point&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ceritanya sangat pendek, setiap kata-kata dalam cerita menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan memasukkan pengetahuan yang kabur (penulisnya tahu, tapi gak jelas-jelas amat, jadi gak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan hal-hal teknis harus detil dan otentik, kalau pembaca menyadari bahwa penulis melakukan kesalahan, duh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menggunakan kalimat berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses akan berlanjut. Jika tulisan telah dipulikasikan, akan semakin mudah untuk mempublikasikan tulisan-tulisan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nih saran bagus banget : jangan katakan apa yang terjadi, tapi buatlah sebuah kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita harus menarik pada &lt;em&gt;beginning&lt;/em&gt;nya, jangan sampai pembaca kehilangan minat pada halaman pertama. Pokoknya, &lt;em&gt;opening&lt;/em&gt; berperan banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan 'melempar' banyak karakter di awal, yang susah dipahami pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter tokoh dalam cerita ditampilkan dalam tingkah laku, cara mengambil keputusan dan pilihan-pilihannya. Ingat, karakter orang dilihat dari apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, cerita yang baik dapat menjawab pertanyaan paling dramatis dalam cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan dialek daerah sesedikit mungkin jika memang tidak mengetahui benar-benar atau tanpa riset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh protagonis dibangun sedemikian rupa sehingga bisa menimbulkan simpati pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lakukan pengeditan sebelum satu draft benar-benar selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6566812159704386244?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6566812159704386244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6566812159704386244' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6566812159704386244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6566812159704386244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/tips-menulis-fiksi.html' title='Tips Menulis Fiksi'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6986706715324646188</id><published>2007-08-31T08:37:00.000+07:00</published><updated>2007-08-31T08:57:50.516+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Mendung Di Langit</title><content type='html'>Aku memandang teriknya Yogya dari dalam taksi. Sebentar-sebentar lampu merah. Ada anak kecil ngamen, bibir kering dan kakinya dekil. Pagar-pagar tembok, jembatan dan pintu ruko-ruko penuh coretan. Bus kota berseliweran berebut penumpang. Aku pulang dengan segenap aliran darahku membuncah rindu. Untuk sebuah perkawinan. Sebuah kata yang membuat Julie, sahabatku di Melbourne, tertawa mencemooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Get married? You?” &lt;/em&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilang donk sama keluargamu perempuan bisa hidup tanpa bergantung lelaki. Pendidikanmu tinggi, masa depanmu terjamin, di sini kau kuliah, hampir kerja dan tinggal di apartemen mewah. Apalagi?” Julie menghisap dalam-dalam rokoknya. “Meilani, &lt;em&gt;man can be bought...and you're still so young&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu keyakinanmu, Julie. Tahukah kau bahwa kebudayaan di kota kelahiranku menolak pendapatmu itu? Usiaku 29. Mama bilang aku sudah perawan tua. Tante wanti-wanti agar aku segera menikah sebelum usiaku kepala tiga. Aku tertawa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;From&lt;/em&gt; Indonesia?” Julie menjatuhkan tubuh tipisnya di atas sofa biru di apartemenku. Menyambar remote control televisi sambil menatapku ingin tahu ketika aku baru saja menerima telepon dari mama. Membelakangi pantai samudera sebelah selatan Australia yang tampak kabur di kejauhan, di apartemenku di lantai 24, aku ceritakan pada Julie semuanya, bahwa keluargaku dan keluarga Dimas sudah matang merencanakan pernikahan kami. Alasannya, aku semakin tua. Dan yang lepas dari bibir kecoklatan Julie adalah cemoohannya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julie gadis bebas, paling tidak itu yang kuketahui selama setahun ini bertetangga dengannya. Pintu apartemen kami yang berhadapan memungkinkan aku tahu siapa saja yang pernah masuk apartemen Julie, khususnya laki-laki. Usia Julie tak beda denganku. Wajahnya kekanak-kanakan. Soal perkawinan dia bilang, &lt;em&gt;I’ll never marry someone&lt;/em&gt;. Lelaki tidak pernah mencintai perempuan, &lt;em&gt;they just play a game&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rtd0QmfLtuI/AAAAAAAAAEs/hbNzzRRcTO4/s1600-h/melbourne_2001_disk_05_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rtd0QmfLtuI/AAAAAAAAAEs/hbNzzRRcTO4/s320/melbourne_2001_disk_05_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104676531205813986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku baru tahu rupanya Julie pernah dikecewakan. Beberapa tahun yang lalu,lelaki itu menawarkan musim bunga pada Julie, membawakan bertangkai-tangkai mawar ke apartemennya, menemaninya belanja di Queen Victoria Market, duduk mengagumi pemandangan fantastik jantung kota Melbourne dengan Rialto Towernya, mengajaknya makan malam romantis di atas feri yang melaju di atas Yarra River.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami kejar-kejaran seperti anak kecil dalam trem...” Julie tersenyum mengenang. “Tapi ibunya tidak menyukaiku.” Ia memindah channel televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ibunya akan berhenti mengirim biaya kuliah jika ia masih denganku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julie menghembuskan asap rokok ke udara. Aku beranjak meraih Cola dari refrigerator. Julie berceloteh lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal uang dari ibunya tidak pernah cukup. &lt;em&gt;I sold my apartment for paying his tuition fee.&lt;/em&gt; Dia makan malam di apartemenku dan aku yang sering bayar laundry pakaiannya....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;You loved him so much...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dulu aku bukan penganut &lt;em&gt;free sex&lt;/em&gt;. Sama seperti kamu, &lt;em&gt;and I was still virgin at that night&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;His mother never know that&lt;/em&gt;. Dipikirnya aku sering tidur dengan bermacam laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan?” aku berusaha antusias dengan cerita Julie. Sebab Julie tak pernah cerita ini sebelumnya, perbincangan kami biasanya berkisar tentang tempat-tempat belanja dan fashion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;As you see. He has canged me&lt;/em&gt;”. Julie menerawang, ada kesakitan di sayu matanya. Mungkin bajingan benar laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kau merokok, minum, dan bercinta dengan siapapun yang kau sukai, seperti callgirl eh?” Julie menatapku tajam, lalu luruh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan pelacur, Mei.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di negaraku itu sama saja dengan pelacur, Julie sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah katamu. Aku benci orang Indonesia.” Remote control ditekannya dengan gemas. Televisi padam. Julie menyambar Cola yang kusediakan di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Why? I'm Indonesian ,Julie&lt;/em&gt;...” Dia malah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;He is Indonesian too&lt;/em&gt;..” Kau pengecualian, Mei. Jadi bagaimana denganmu, jadi juga kau akan kawin?” ejeknya. Manis aku tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;I have decided it&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga suamimu orang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julie menutup pintu. Kudengar senandungnya di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rtd0hGfLtvI/AAAAAAAAAE0/jIkmvIrjNp4/s1600-h/rialto.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rtd0hGfLtvI/AAAAAAAAAE0/jIkmvIrjNp4/s320/rialto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104676814673655538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam taksi aku tersenyum sendiri. Sebuah cerita manis untuk Dimas sebagai kado perkawinan kami. Tak sabar rasanya aku sampai di rumah. Aku akan mengusulkan honeymoon ke negeri Julie saja. Makan malam di atas Yarra River seperti kata Julie, kejar-kejaran dalam trem...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, itu Dimas di beranda rumah dengan seluruh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf ya &lt;em&gt;hun,&lt;/em&gt; aku gak bisa jemput di &lt;em&gt;airport. How's everything with you&lt;/em&gt;?” Aku mencibir, mentang-mentang pernah kuliah di luar negeri nih, di rumah pake bahasa Inggris segala. Dia mencubit pipiku. Kami berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;epilog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan yang bahagia. Aku kembali ke Melbourne menyelesaikan pasca sarjanaku, meskipun Dimas tak bisa menemaniku. Tak apalah. Dimas sedang menyiapkan masa depan yang cerah untuk kami berdua. Toh ada Julie di sini. Tapi ternyata dia juga kemudian harus pindah ke Perth karena tuntutan pekerjaan. Aku membantunya mengepak barang-barang ke kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong berkas-berkas di meja rias itu , Mei. Aku berterimakasih sekali atas bantuanmu Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikat kardus kuat-kuat dan menghampiri meja rias. Setumpuk berkas berdebu, rekening telepon, nota belanja Queen Victoria, nota laundry, tisu-tisu kusut, kartu-kartu ucapan natal dan setumpuk foto yang telah saling melekat satu sama lain karena tak disimpan di album. Ada satu yang masih tampak jelas. Dan kepalaku mendadak pusing. Aku jatuh terduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Are you okey, Mei?” &lt;/em&gt;Julie menghampiriku. “Berkas-berkas ini sudah terlalu berdebu, kau mungkin terganggu ya? Biar aku saja...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku nanar. Debu tak membuatku pusing, Julie. Julie memandang foto di tanganku. Tatapan kami kemudian bertemu, saling membaca. Julie terbelalak. Berkas-berkas jatuh berserak di lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, mendung bergayut di langit. Mungkin akan ada badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Watulunyu, saat hujan, entah kapan sebab waktu sedang tersesat&lt;br /&gt;(Untuk seseorang: seperti sebuah bangunan, kadang kita perlu membuka pintu dan mengajak seseorang memasuki ruang-ruang, membagi kisah dan ornamen hari-hari kita)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6986706715324646188?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6986706715324646188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6986706715324646188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6986706715324646188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6986706715324646188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/mendung-di-langit.html' title='Mendung Di Langit'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rtd0QmfLtuI/AAAAAAAAAEs/hbNzzRRcTO4/s72-c/melbourne_2001_disk_05_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6968733665813194117</id><published>2007-08-29T16:38:00.000+07:00</published><updated>2007-08-29T20:53:34.623+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Puisi Untuk Gerhana (Kita)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Gerhana Bulan Petang Itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibatiba teringat&lt;br /&gt;ciumanmu paling kawah&lt;br /&gt;Melupakan : kita sesungguhnya gerhana&lt;br /&gt;yang paling gerhana&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;18:24, 28/08/07&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RtVX62fLttI/AAAAAAAAAEk/bxj-gisXBWI/s1600-h/lunar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RtVX62fLttI/AAAAAAAAAEk/bxj-gisXBWI/s320/lunar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104082421264660178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Purnama Setelah Gerhana&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;....kemudian&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;bulan sempurna&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tapi waktu di kepalaku kacau&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Melawan jarum jam. Lalu diam&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Di hawa paling dingin&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;awal Agustus silam&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Maka jantungku pun beradzan rindu&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sampai getar buluhbuluh&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;darahku!&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;20:28, 28/08/07&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bulan Subuh-subuh&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Bulan masih tampak&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;subuh ini&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Semalam dilupalupa&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;04:30, 29/08/07&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6968733665813194117?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6968733665813194117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6968733665813194117' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6968733665813194117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6968733665813194117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/puisi-untuk-gerhana-kita.html' title='Puisi Untuk Gerhana (Kita)'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RtVX62fLttI/AAAAAAAAAEk/bxj-gisXBWI/s72-c/lunar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6914806674826906099</id><published>2007-08-26T15:39:00.000+07:00</published><updated>2007-08-26T15:56:26.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Menuliskan Kenangan Itu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menyimpan Tawamu Di Sepenggal Senja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sepenggal senja, entah kapan&lt;br /&gt;kita mencoba menjerat waktu&lt;br /&gt;kau deraikan tawa pada rambutku&lt;br /&gt;mengurai pekat yang berkejaran&lt;br /&gt;hari kemarin (di selubung perasaan-perasaan kita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'kita adalah dua yang terpisah dinding kaca'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu di sepenggal senja yang lain, entah di mana&lt;br /&gt;tawamu menjalin cerita&lt;br /&gt;tentang kita yang ternyata tak pernah &lt;br /&gt;menjerat waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemakaman Senja Di Pantai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika burung-burung putih beterbangan di langit kotamu&lt;br /&gt;Saat itu senja telah mengubur warna matamu. Pemakaman cakrawala&lt;br /&gt;Leluka di pasir, kupunguti setelah kulahatkan harum tubuhmu&lt;br /&gt;Sesaat tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah laut, gelombang menyanyi musik miris seperti saat angkuhmu&lt;br /&gt;Redupkan nyala. Aku terejam basah ke dada&lt;br /&gt;Engkau hanya mengemas tawamu dalam kulum tanpa suara&lt;br /&gt;Dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika burung-burung putih beterbangan di langit kotamu&lt;br /&gt;Jangan lagi bertanya cakrawala mengapa sunyi&lt;br /&gt;Tak ada lagi angin dan ombak. Reranting menepi di pantai&lt;br /&gt;Tepat dimana terakhir janji tergurat. Pelunasan yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupungut semua. Jauh kini di belukar hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukan Perihal Kembang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan perihal kembang - setangkai mawar dengan embun muda di kelopaknya - tapi di dadaku getar dadamu yang kau titipkan hangatkan malammalam deja vu &lt;br /&gt;menyisipkan gemuruh purba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menguar wangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tentang jantungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bukan perihal kembang - setangkai mawar dengan embun muda di&lt;br /&gt;kelopaknya - tapi barangkali engkau tak mau peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Puing Di Kota Mati (081178-290482) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;;untuk H di seberang jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perpisahan di kanal itu&lt;br /&gt;pernahkah kau kunjungi lagi lengangnya kota mati?&lt;br /&gt;pada datangku dua hari yang lalu&lt;br /&gt;keranjang rotanku penuh dengan kepingan kisah&lt;br /&gt;yang tercecer dulu sepanjang jalan&lt;br /&gt;dan kupunguti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupungut pula puing jembatan itu&lt;br /&gt;masih terpahat di sana&lt;br /&gt;angin yang melintas dan puisi-puisi Gibran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ku kembali menyisir kenangan&lt;br /&gt;saat kau lukis pelangi di bola matamu&lt;br /&gt;dan membelitkan akar kegalauan itu pada hatiku&lt;br /&gt;kita tertawa, lepas berdua di tentang bulan separuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi badai itu&lt;br /&gt;sekejap dan cepat&lt;br /&gt;hanya tinggal teriakmu kudengar bergema&lt;br /&gt;'Kita seperti angin yang melintas di penggalan puisi Gibran!'&lt;br /&gt;Dan 'tika terjaga, memang tak kutemukan kau lagi&lt;br /&gt;senja telah mengubur warnamu dan aku di reruntuhan&lt;br /&gt;bahkan siluet pun...tak kutemukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang, burung senja berbulu biru melintas terbang&lt;br /&gt;merenggut semua kisah dari keranjangku&lt;br /&gt;dipahatnya di udara&lt;br /&gt;'Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan getirnya&lt;br /&gt; perpisahan yang membuka semua sekat kesadarannya' *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kahlil Gibran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedung Pring I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ingin bincang denganmu sebelum udara membatu&lt;br /&gt;membaca guratanguratan itu, yang tertinggal di pasirpasir&lt;br /&gt;tentang kanakkanak berlarian atau tentang galaksi yang kau petik dan&lt;br /&gt;kau gantungkan di langitlangit kamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu ingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum waktu menjelma bongkahan es&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedung Pring II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedungpring mungkin hanya sebuah keremangan purba yang mengusik kenangan, sebuah lanskap udara coklat yang mengambang dalam pikiranmu, diseling guguran daun mangga di atas reranting mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kutulis untukmu fragmen kegelisahan di bulir-bulir embun muda yang tak sempat terhirup. Ketika malam berakhir dan senandungmu berai di rumputan, bukankah Kedungpring adalah sebuah bait dalam kalimat-kalimatmu? Ia membingkai angin. Dari gunung yang mengalir menuju runtuhan rumah pasir di tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedungpring adalah rangkuman musim yang memberitakan harumnya debu ketika hujan turun pertama kali, dan bisikkan padamu perih pohonan jati meranggas di awal kemarau. Kenangkan angin yang tertinggal menelusur bibir pantai setelah sisa rumah pasirku hanyut dilalu ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kutulis untukmu fragmen kegelisahan di bulir-bulir embun muda malam itu, di Kedungpring. Bukankah malam berakhir dengan riuh gerimis menetes di tajuk alam, dan dingin di ruang kamarmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedungpring, apapun malammu kini, barangkali tinggal abadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6914806674826906099?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6914806674826906099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6914806674826906099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6914806674826906099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6914806674826906099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/menuliskan-kenangan-itu.html' title='Menuliskan Kenangan Itu'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-9122654113683932584</id><published>2007-08-25T08:27:00.000+07:00</published><updated>2007-08-25T09:54:33.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E-Book Download'/><title type='text'>Harry Potter and The Deathly Hallows</title><content type='html'>Mau baca Harry Potter ke-7? Hari ini saya berjalan-jalan di Google dan menemukan link ini. Terus terang saja, saya juga belum baca buku ini :D. But, saya temukan sinopsisnya di Wikipedia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rs-NV2fLtoI/AAAAAAAAAD8/1r9sv478Q_s/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5102452309377136258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rs-NV2fLtoI/AAAAAAAAAD8/1r9sv478Q_s/s320/images.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Buku ketujuh diawali dengan Voldemort dan para Pelahap Mautnya di rumah Lucius Malfoy, yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts, atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore; dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang pembenci non-penyihir dan telah menyerang tiga Muggle, dan meninggal di Penjara Azkaban atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya akibat mantra Sectumsempra; Mad-Eye Moody dibunuh oleh Voldemort sendiri. Harry sendiri lolos ketika Voldemort mengejarnya setelah tongkat sihirnya bereaksi dengan sendirinya dengan tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan, karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur Delacour dan Bill Weasley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa iinisial R.A.B. pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher, mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika Regulus merasa kecewa dengan Voldemort, ia memerintahkan Kreacher untuk kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang palsu. Regulus terbunuh dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan kemudian dirampas oleh Dolores Umbridge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat lama tinggal di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry dan Hermione kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Godric's Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric's Holow, mereka juga menemui Bathilda Bagshot, seorang teman lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore. Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena "Bagshot" itu merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan berkat bantuan patronus berbentuk kijang. Dia menyelam ke dalamnya untuk mendapati pedang tersebut. Kalung Horcrux mencoba mencekik Harry dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood, dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry, Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan benda sihir sebagai hasilnya tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand—tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone—batu kebangkitan), dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan ketiga benda sihir Deathly Hallows, untuk&lt;br /&gt;mengalahkan Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap oleh kelompok Snatcher yang diketuai oleh Fenrir Greyback, karena menyebut nama Voldemort (nama itu sudah dimantrai untuk mendeteksi para penyebutnya) dan dibawa ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor, karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron dan Harry, sebagai balasan dari hutang budi dari tahun ketiga Harry di Hogwarts. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Dibantu Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gingrott's. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan membawa pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri, tetapi pada saat yang bersamaan Voldemort menyadari bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Voldemort akan mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara tidak sengaja, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Pada saat menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota Ravenclaw yang merupakan Horcrux itu tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan benda itu dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk menguasai kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam keadaan sekarat, Snape memberikan memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape selama ini berada di pihak Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Kemudian Harry tersadar di tempat yang mirip dengan stasiun King Cross, dan Dumbledore mendatanginya. Dumbledore mengatakan bahwa Harry sebenarnya adalah pemilik dari Deathly Hallows, dan kutukan Avada Kedavra itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Pada saat ini Dumbledore memberikan pilihan pada Harry, apakah dia ingin meneruskan pada kematian, atau kembali hidup ke dunia. Harry memilih kembali ke dunia, dan tersadar. Pada akhirnya, setelah Nagini dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kedavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri setelah Elder Wand menolak membunuh tuannya (Harry) sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy bersama istrinya yang tidak disebutkan namanya memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi setelah kematian Pangeran Kegelapan. (Wikipedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, download saja deh versi lengkapnya, dalam bahasa Inggris :D. E-book berbahasa Indonesia? Heheheheh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://w13.easy-share.com/3815191.html" target="_blank"&gt;&lt;font face = "Comic Sans Ms" color=#FF9900 &gt;Klik Untuk Download (PDF | 1.17 MB | 397 hal.)&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-9122654113683932584?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/9122654113683932584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=9122654113683932584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/9122654113683932584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/9122654113683932584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/harry-potter-and-deathly-hallows.html' title='Harry Potter and The Deathly Hallows'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rs-NV2fLtoI/AAAAAAAAAD8/1r9sv478Q_s/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-7397940087085342943</id><published>2007-08-23T17:47:00.000+07:00</published><updated>2007-08-24T10:36:07.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Kisah-kisah Cinta</title><content type='html'>Suka kisah-kisah cinta? Saya penikmat kisah-kisah cinta. Entah mengapa, buat saya kisah cinta mampu membuat hidup lebih hidup (kaya iklan rokok yach?). Kata sebagian teman-teman, hati saya lembut (ciee) alias gampang tersentuh, gampang mengeluarkan air mata haru untuk kejadian-kejadian yang bahkan tidak melibatkan saya. Mungkin karena itu juga saya suka banget baca novel-novel cinta, nonton film-film romantis atau mengamati kejadian (dan kadang ikut terlarut) di lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kisah cinta yang bertahan sepanjang masa (buat saya loh), saya sukai sampai sekarang, dan tidak pernah keberatan untuk membaca atau menontonnya ulang. Kisah cinta yang indah buat saya tidak harus selalu kisah-kisah yang berakhir bahagia. Iseng-iseng saya buat daftar untuk kisah-kisah tersebut dan akhirnya dapat hasil akhir seperti yang di bawah ini, meskipun ada beberapa kisah yang mungkin terlewat karena 'terlupa' terlintas di benak saat saya buat catatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh, biar kelihatan catatan beneran, saya urutkan saja, cara klasik :D, mulai dari yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Romeo - Juliet&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Uh, ini kisah klasik banget deh. Tapi saya suka. Saya suka endingnya ketika Romeo meminum racun menyusul Juliet yang dikiranya sudah mati. Rasanya kok ikut-ikutan perih gitu. Tapi entah mengapa, menonton adegan ini (referensi ke filmnya) saya tidak menangis. Saya malah bercucuran air mata seolah merasakan seluruh bagian diri yang menderita saat Romeo menerima berita kematian kekasihnya, tanpa dia membaca pesan bahwa kematian itu hanya rekayasa.Sakit banget gak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sayap-sayap Patah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya membaca novel ini tanpa menangis. Malah lebih menikmati kalimat-kalimat indah Gibran. Saya ingat, yang merekomendasikan untuk membaca novel ini adalah pacar pertama saya dulu. Ceritanya sederhana saja, kasih tak sampai yang benar-benar klasik karena sang kekasih dijodohkan dengan orang lain. Selma, perempuan yang seperti berkas cahaya itu akhirnya menikah dengan seorang yang tidak dicintainya. Hmm.. saya suka kisah ini karena menggambarkan rasa cinta yang tetap hidup, meskipun berakhir tragis dengan kematian Selma. Tapi cinta tetap hidup dalam sanubari mereka berdua. Pokoknya di sini adanya cinta yang abadi deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pearl Harbor&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Yang ini sebuah kisah dari film dengan judul yang sama. Tentang penyerangan Pearl Harbor 7 Desember 1941. Saya suka kisah cinta segitiga di dalamnya, dengan latar belakang masa perang. Dua orang pilot muda, Rafe dan Danny, yang bersahabat sejak kecil mencintai seorang perawat yang sangat berdedikasi, Evelyn. Kisah cinta segitiga itu terjadi dengan sendirinya,setelah Evelyn, kekasih Rafe, menerima berita kematian Rafe dalam tugasnya ke Eropa. Saat ia mulai menerima Danny dalam kehidupannya, Rafe muncul. Ternyata ia belum meninggal dan terjadilah adegan-adegan yang menguras air mata. Ugh, ini adalah film favorit saya sepanjang masa. Endingnya indah banget; Rafe terbang dengan seorang anak yang adalah anak Danny yang dikandung Evelyn, mereka menghidupkan kenangan tentang Danny yang telah tewas dalam si kecil yang juga dinamai Danny. Manis kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karmila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buat yang suka karya-karya Marga T pasti kenal novel ini. Kisah dokter muda, Karmila yang harus menikah dengan Feisal, yang telah merenggut masa depannya (memperkosanya dalam suatu pesta), dan melupakan impiannya dengan Edo. Yang paling menyentuh adalah saat Karmila mulai mencintai Feisal sementara Edo masih terus mencintai dan mengharapkannya, dalam satu adegan, Marga T melukiskan Karmila memeluk Feisal sementara ia membayangkan Edo yang begitu kurus dan mencintainya. Saya jadi ikutan teriris. Bener deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Burung-burung Manyar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kenal YB. Mangunwijaya kan? Nah. Ingat Teto dan Atik? Yang satu tentara NICA, satunya lagi gadis nasionalis yang sangat membenci Belanda. Meski begitu, Teto tetap mencintai Atik. Mereka bertemu kembali setelah terpisah sebab Belanda kalah. Tetapi Atik telah bersuami dan Teto diminta untuk bersedia menjadi kakak bagi Atik. Di akhir, sebuah kecelakaan merenggut nyawa Atik dan suaminya, meninggalkan 3 orang anak yang kemudian diasuh Teto dan dianggap anak sendiri. Teto pun ternyata tidak menikah lagi. Hiii.. merinding deh bacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;While You Were Sleeping&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengen liat wajah cantik Sandra Bullock gugup? While You Were Sleeping jawabannya. Lucy menolong Peter (yang tidak dikenalnya) dari tertabrak KA, membawa dan menemaninya di rumah sakit dengan mengaku sebagai tunangannya. Keluarga Peter surprised Peter punya tunangan. Ketika Peter sadar dari koma, ia tidak mengenali Lucy sebab mereka memang gak pernah bertunangan. Dalam perkembangannya berbaur dengan keluarga Peter, Lucy dan Jack, adik Peter saling jatuh cinta. Namun pernikahan sudah dirancang. Kejadian menarik terjadi ketika di altar Lucy menyatakan ia mencintai putera orangtua Peter, tapi yang dimaksud adalah Jack. Cool deh. Happy ending.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Brokeback Mountain&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ennis dan Jack. Dua lelaki yang bertemu di sebuah peternakan domba, menjalin hubungan yang intim. Setelah tugas mereka selesai, mereka kembali ke kehidupan masing-masing, dan lalu memperoleh istri dan anak-anak. Meskipun telah mendapatkan kehidupan yang 'normal', ternyata keduanya masih memendam asmara terhadap satu sama lain. Pertemuan demi pertemuan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Saya haru banget di akhir, saat jaket dan kemeja bernoda darah itu... ah.Nonton aja deh filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah merasa romantis belum? Hehehe... lain kali deh saya tuliskan lagi kisah-kisah cinta yang lain. Saya mau pulang sekarang, udah kelamaan di warnet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-7397940087085342943?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/7397940087085342943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=7397940087085342943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7397940087085342943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/7397940087085342943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/kisah-kisah-cinta.html' title='Kisah-kisah Cinta'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-756617352616590749</id><published>2007-08-23T10:00:00.001+07:00</published><updated>2007-08-24T10:38:24.395+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Sekali Merengkuh Dayung, Benua Terlampaui</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rsz4bmfLtnI/AAAAAAAAAD0/xuqn6ZhbgyQ/s1600-h/diah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101725630975424114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rsz4bmfLtnI/AAAAAAAAAD0/xuqn6ZhbgyQ/s320/diah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali Merengkuh Dayung, Kisah Perjalanan&lt;br /&gt;Diah Marsidi&lt;br /&gt;Penerbit Buku Kompas 2004, 328 hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Peribahasa ini terlintas ketika saya memutuskan membeli buku ini di sebuah ajang pameran buku. Dengan dana terbatas saya berburu buku-buku yang enak dibaca dan bermanfaat. Jadilah buku ini salah satu pilihan saya dengan harapan saya dapat 'melampaui dua-tiga pulau' dengan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata saya tidak kecewa. Tidak hanya melampaui dua-tiga pulau, saya malah melampaui batas benua. Dari pantai Lovina Bali sampai ke desa kecil di Italia, reruntuhan perang Bosnia, kota Inka bahkan gurun Kalahari. Bercerita tentang tempat-tempat menarik, interaksi manusia berbeda ras dan keindahan budaya, sampai keeksotikan makanannya. Pendek kata, sang penulis merangkum hampir semua elemen kehidupan dalam buku ini. Indah. Buat saya ini buku sangat indah. Penulisnya sangat piawai sehingga menjadikan buku ini bukan sekedar kisah perjalalan biasa. Bukan sekedar bercerita tentang suatu tempat tapi juga memainkan emosi pembaca, seperti tulisannya tentang daerah konflik, sisa-sisa perang menjadikan seorang pemuda Sarajevo memiliki trauma dan tak pernah tidur tanpa memeluk senapannya. Suatu kali bayinya mnangis dan sang istri membangunkan dia. Apa yang terjadi? Senapan itu menyalak dan tertembaknya kaki sang istri, sementara bayinya terus menangis. Ada juga bocah perempuan 10 tahun yang mendayung kano untuk wisatawan di danau Patzcuaro, Mexico. Lengkap juga kisah-kisah gembira tentang pesta musim semi yang indah di Sevilla, ibukota Andalucia, Spanyol. Kita juga diajak menikmati warna lebih tegas dan biru langit tak terlukiskan di Santa Fe, New Mexico, AS, angin yang selalu berhenti dan alam yang sepi sejenak saat matahari terbenam di Kagga Kamma, suaka alam swasta di pegunungan Cederberg, pinggiran Kalahari. Belum lagi petualangan ke Machu Picchu, yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural sebagai salah satu pusat energi di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. Bagus sekali buku ini, menurut saya. Tidak heran, penulisnya, Diah Marsidi adalah seorang wartawan senior harian Kompas yang suka melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Sebagian besar kisah perjalanan dalam buku ini telah dipublikasikan oleh Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suer, gak nyesel saya baca buku ini. Kapan ya ada pameran buku lagi? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Inside the book :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke Dubrovnik? Menyenangkan sekali!" komentar ini yang kami terima tiap kali mengatakan akan melanjutkan ke kota benteng itu. Tak satupun dari kenalan Bosnia kami yang tak berkomentar begitu. Sabina, seorang gadis Muslim-Bosnia, hanya berujar "Dubrovnik, aaaahhh..." sementara matanya menerawang. (hal 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua tahun lebih kami selalu khawatir tiap menjejakkan kaki keluar rumah, kisahnya tentang masa-masa Sarajevo dikepung pasukan Serbia- Bosnia. Mata gadis cantik itu berkaca-kaca. (hal 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...kalau ingin menyerap energi di Machu Picchu, yang perlu dilakukan hanyalah berbaring telentang atau tengkurap di manapun di reruntuhan itu. (hal 234)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-756617352616590749?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/756617352616590749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=756617352616590749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/756617352616590749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/756617352616590749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/sekali-merengkuh-dayung-benua.html' title='Sekali Merengkuh Dayung, Benua Terlampaui'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rsz4bmfLtnI/AAAAAAAAAD0/xuqn6ZhbgyQ/s72-c/diah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-6930662274277468985</id><published>2007-08-23T08:15:00.000+07:00</published><updated>2007-08-24T10:39:38.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Eragon, Perjalanan Penunggang Naga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rszy4mfLtmI/AAAAAAAAADs/R_gXaaisM4c/s1600-h/eragon-indonesia1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101719532121863778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rszy4mfLtmI/AAAAAAAAADs/R_gXaaisM4c/s320/eragon-indonesia1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERAGON&lt;br /&gt;Christopher Paolini&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, 2004, 568 hal&lt;br /&gt;Alih Bahasa: Sandra B Tanuwidjaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saat iseng mencari dan mengumpulkan coretan-coretan tangan di tengah tumpukan buku-buku lama - saya suka menulis di kertas bekas seperti di balik kertas fotokopian atau print-out yang gak kepake -tiba-tiba tangan saya tergerak meraih Eragon, buku pertama. Saya jarang beli novel (karena daya beli terbatas.. hehehe..). Eragon yang saya punya ini pun hasil pemberian seorang sahabat, user warnet tempat saya part time, Shadow, sebut saja begitu (thanks ya Shadow!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, saya lebih suka novel thriller sebenarnya, tapi Eragon lumayan deh buat bacaan saat senggang. Saya menyebut novel ini sebagai novel fantasi petualangan. Pengarangnya, Christopher Paolini memang sangat menyukai kisah-kisah fantasi dan fiksi ilmiah. Ia mulai menulis Eragon pada usia lima belas tahun. Novel ini sendiri berkisah tentang perjalanan Eragon, seorang anak petani miskin berusia lima belas tahun yang menemukan sebuah telur berwarna biru, saat ia berburu di hutan. Ternyata itu adalah telur naga.Dan tenyata lagi, Eragon memang ditakdirkan sebagai penunggang naga, sebagai salah seorang penerus klan penunggang naga yang punah karena ditumpas oleh raja kejam Galbatorix, yang berkuasa saat itu. Setelah telur itu menetas, ditemani seekor naga betina yang dinamai Saphira (mungkin karena warnanya biru ya..) dan Brom, si pendongeng tua yang juga saksi sejarah, Eragon belajar berbagai hal tentang sejarah dan naga. Ia juga belajar ilmu sihir dan ilmu pedang di bawah bimbingan Brom. Berbekal semua pengetahuan itu, Eragon bertekad membangun kembali klan penunggang naga, meski ia harus menghadapi berbagai makhluk aneh dan berada di antara kubu-kubu yang masing-masing memiliki kepentingan dengan para penunggang baru bahkan dengan telur-telur naga lain yang belum menetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uuh, capek juga baca buku ini. Mungkin karena saya lebih suka novel thriller itu tadi, yang adegannya melompat-melompat dari satu kejadian ke kejadian lain dalam rentang waktu bersamaan (seperti scene film), Eragon buat saya jadi terasa membosankan. Penceritaannya lurus pada satu kejadian, detik demi detik hanya berpusat pada Eragon, hari ini Eragon nemu telur naga, besok Eragon ngapain...dst. Seperti menceritakan proses tumbuh sebatang pohon dari hari ke hari dan menghabiskan 500 halaman lebih. Kecuali pada &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;beginning&lt;/span&gt;nya, yang bercerita bagaimana telur itu dikirim dengan sihir oleh seorang elf ke hutan pada saat genting, ketika terjadi perebutan, dan akhirnya ditemukan oleh Eragon. Sampai halaman akhir, tak satu bab pun yang beralih dari hari-hari Eragon untuk menceritakan kejadian-kejadian di tempat lain. Apalah gitu, saya sih berharap ada bab-bab yang menggambarkan kejadian di istana raja Galbatorix, misalnya, atau apa yang terjadi di tempat para elf setelah telur itu di kirim ke hutan lewat sihir, ya semacam itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTW, ini kan buku pertama. Perjalanan sang penunggang naga belum berakhir. Saya belum sempat baca buku selanjutnya (belum ada kesempatan minjam :P), tapi saya berharap buku selanjutnya lebih menarik dan tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh, kalau belum baca dan suka kisah-kisah seperti ini dengan gaya penceritaan yang gak pake belok-belok, silakan baca Eragon. Kalau malas, nonton filmnya aja. Gampang kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Inside the book :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang penting adalah bertindak. Nilai dirimu berhenti kalau kau menghentikan kemauan untuk berubah dan menjalani kehidupan. Tapi kau memiliki pilihan ; pilih salah satunya dan dedikasikan hidupmu untuk itu. Perbuatan-perbuatanmu akan memberimu harapan dan tujuan baru"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa yang bisa kulakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu-satunya pemandu sejati hanyalah hatimu. Tak kurang dari keinginan hatimu yang tertinggilah yang bisa membantu dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saphira membiarkan Eragon mempertimbangkan kata-katanya. (hal 113)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-6930662274277468985?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/6930662274277468985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=6930662274277468985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6930662274277468985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/6930662274277468985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/eragon-perjalanan-penunggang-naga.html' title='Eragon, Perjalanan Penunggang Naga'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rszy4mfLtmI/AAAAAAAAADs/R_gXaaisM4c/s72-c/eragon-indonesia1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5818662531577961768</id><published>2007-08-16T18:01:00.000+07:00</published><updated>2007-08-17T09:21:34.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Rahasia dan Kehilangan-kehilangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rahasia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan di garis horizon&lt;br /&gt;bintangbintang di pintu fajar&lt;br /&gt;dan angin yang menyanyikanmu&lt;br /&gt;mereka tak mendengar&lt;br /&gt;percintaan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(degup jantungmu&lt;br /&gt;geletar hasrat itu&lt;br /&gt;mengacau denyut nadiku!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai kapan hingga&lt;br /&gt;mereka mendengar&lt;br /&gt;percintaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semalam Purnama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, semalam purnama&lt;br /&gt;Tapi kupungut tangis&lt;br /&gt;yang jatuh dari genggammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tresna iku ora mung ukara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;izinkan&lt;br /&gt;kucuri kalimatmu&lt;br /&gt;kutanam dalam sajak&lt;br /&gt;suatu waktu kelak&lt;br /&gt;mungkin menenangkan&lt;br /&gt;badai ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang Tinggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan itu&lt;br /&gt;yang derai&lt;br /&gt;cerita biru bilur&lt;br /&gt;antaraku kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di gerbang gunung&lt;br /&gt;kabut luruh&lt;br /&gt;serupaku kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka yang tinggal&lt;br /&gt;hanya kecupmu malam itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Nightmare&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;debu dan kerikil&lt;br /&gt;cuma itu; aku&lt;br /&gt;mungkin bukit padas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;katamu cinta belum hilang&lt;br /&gt;tapi aku terus lari&lt;br /&gt;kelupas kakiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam tajam&lt;br /&gt;tebing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini&lt;br /&gt;aku; mimpi burukku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5818662531577961768?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5818662531577961768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5818662531577961768' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5818662531577961768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5818662531577961768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/rahasia-dan-kehilangan-kehilangan.html' title='Rahasia dan Kehilangan-kehilangan'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-3747883014505957107</id><published>2007-08-14T14:49:00.000+07:00</published><updated>2007-08-25T10:07:14.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Kanker Leher Rahim?</title><content type='html'>Udah pernah denger tentang kanker leher rahim? Bahasa kerennya sih cervical cancer atau carcinoma cervix uteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini pernah sangat dekat dengan hari-hari saya, selama dua tahun saya menyaksikan ia tumbuh dan perlahan merampas saat-saat indah dalam hidup saya. Bukan, bukan saya yang menderita penyakit mematikan ini, tetapi sosok yang sangat saya cintai yang telah membuat saya menghirup udara dunia ini. Ya, ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang saat-saat itu. Saya hanya ingat ibu sering mengeluh sakit perut, tapi sering tidak saya pedulikan. Saya juga hanya menganggap beliau sakit biasa saja ketika suatu hari harus rawat inap di rumah sakit daerah saya karena tiba-tiba mengalami pendarahan. Kemudian saya mulai berpikir ini tentunya penyakit serius ketika ibu dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. Ayah saya yang pertama kali bilang bahwa sakit ibu bukan main-main. Duduk di lantai koridor rumah sakit itu saya baru menyadari bahwa ini sebuah perjuangan hidup dan mati. Saya mulai menangis. Kanker ibu sudah mencapai stadium 2 ketika pertama kali diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya kelas 2 SMA. Tahun-tahun untuk bermain dan mencari teman itu nyaris terlewat, begitu saja terlupakan. Lalu saya menjadi sosok yang murung. Sulit berkumpul dan bercanda dengan teman-teman sebab saya merasa sangat berdosa mengingat ayah yang menjaga ibu di rumah sakit, atau adik lelaki satu-satunya yang biasanya pulang lebih dulu tapi harus menunggu saya pulang untuk bisa makan siang. Tugas saya bertambah satu, menjadi ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, malah jadi nyeritain kisah sedih segala. Tidak ah. Saya enggan ingat-ingat lagi masa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau membahas tentang kanker leher rahim-nya aja. Barangkali suatu saat berguna. Oya, sejak kenal internet saya langsung searching penyakit ini, mungkin terdorong rasa trauma. Terus terang ketakutan saya sangat besar terhadap penyakit ini. Saya bertekad harus mengetahui sedetail-detailnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan vagina. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun. Menurut para ahli kanker sih, kanker ini adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus kanker. Tapi tetep aja penderitanya gak sedikit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanda-tanda kanker leher rahim ya seperti yang dialami ibu saya itu. Pendarahan. Tapi ini biasanya kalo sudah begitu langsung terdeteksi sebagai kanker stadium tinggi alias sudah terlambat. Untuk mengetahui lebih dini ada sebuah prosedur kedokteran yang disebut pap smear test. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Test ini hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukan kedalam vagina. Alat ini berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya tetap terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas. Sel-sel leher rahim kemudian diambil dengan cara mengusap leher rahim dengan sebuah alat yang dinamakan spatula, suatu alat yang menyerupai tangkai pada es krim, dan usapan tersebut dioleskan pada obyek-glass, dan kemudian dikirim ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan yang lebih teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kedengerannya gak nyaman juga ya, tapi katanya test ini tidak menyebabkan rasa sakit kok. Sebaiknya pap smear test dilakukan pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhirnya masa menstruasi. Tapi pada wanita menopause test ini dapat dilakukan kapan saja. Sedangkan jika kandung rahim atau leher rahim sudah diangkat (hysterectomy), pap smear test gak perlu dilakukan coz sudah tidak beresiko menderita kanker rahim. Biasanya rentang waktu melakukan pap smear test adalah dua tahun sekali dan lebih baik dilakukan secara teratur. Gak ada kata terlambat untuk melakukan test ini, dan tetap diperlukan meskipun udah gak melakukan aktivitas seksual loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tanda-tanda awal terdeteksi, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Yang umum diberikan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kalo udah sampai pada tahap pre-kanker, dan kanker leher rahim udah bisa diidentifikasi, maka untuk penyembuhan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uuh.. dalam kasus ibu saya, beliau tidak dioperasi karena alasan tertentu (terus terang saya gak tahu alasannya, tapi saat itu ibu juga menderita komplikasi – saya tahu sebab ibu pernah dipindahkan dari bangsal obsgin ke bangsal penyakit dalam -), jadi ibu menjalani cara pengobatan yang kedua, yaitu radioterapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gak pernah tahu kenapa penyakit itu menyerang ibu. Itu rahasia Tuhan buat keluarga saya. Tapi dari beberapa sumber, setiap  wanita yang pernah melalukan hubungan seksual memang beresiko terserang kanker ini. Resiko tersebut lebih besar jika wanita tersebut sering berganti pasangan seksual, memulai aktifitas seksual pada usia sangat muda, dan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, memang ibu saya benar-benar pergi. Setelah penderitaan yang saya saksikan setiap hari. Setelah kelelahan terlihat memuncak di mata ayah saya. Setelah rasa percaya diri mulai menggerogoti saya dan adik saya. Kami tidak seperti remaja lain yang bisa bersenang-senang mengikuti zaman, kami tak pernah bisa membeli apa-apa yang kami inginkan, bahkan uang beasiswa kami berdua turut terpakai untuk membiayai pengobatan ibu. Kami hanya mengambil sedikit untuk bayar SPP (waktu itu SPP SMA saya masih delapan ribu sebulan). Suatu siang, semua itu berakhir. Saya dijemput di sekolah, adik saya dijemput di sekolahnya. Kami pulang berdua dan sudah tahu apa yang terjadi meskipun tetangga yang menjemput tidak menjawab pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pergi. Saya tahu itu yang terbaik. Kehilangan telah membuat saya belajar untuk menghargai apa yang saya miliki. Mungkin dulu saya tidak penuh membahagiakan ibu , banyak membantah. Tuhan, jika kesempatan itu masih ada…. Ya, kehilangan telah membuat saya belajar untuk lebih menghargai apa yang saya miliki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-3747883014505957107?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/3747883014505957107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=3747883014505957107' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3747883014505957107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/3747883014505957107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/kanker-leher-rahim-dan-kenangan-saya.html' title='Kanker Leher Rahim?'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-8348057156830043288</id><published>2007-08-14T09:12:00.000+07:00</published><updated>2007-08-14T09:59:47.903+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Sajak Gunung</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malam Di Kaki Gunung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali ini aku kesal pada cahaya bulan&lt;br /&gt;yang menyusup lewat celah pelepah kelapa&lt;br /&gt;dan jatuh di rambutmu serupa sepuhan&lt;br /&gt;Membikin kata yang kurencana jadi terlupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RsEZ56LxdhI/AAAAAAAAABk/0EBQ6nLU1ZQ/s1600-h/MOONSET_KAILUA_0020ab_fl668x381.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RsEZ56LxdhI/AAAAAAAAABk/0EBQ6nLU1ZQ/s320/MOONSET_KAILUA_0020ab_fl668x381.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098384735821985298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekuntum Kembang Manggis Gugur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar&lt;br /&gt;sekuntum kembang manggis&lt;br /&gt;gugur&lt;br /&gt;Dikacaukan musim&lt;br /&gt;yang membuka-katupkan daun jendela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deritnya terkirim jauh&lt;br /&gt;ke mimpi ; daun jendela lain mengatup&lt;br /&gt;                   sepikan aku di luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guguran kembang manggis&lt;br /&gt;terbawa angin&lt;br /&gt;sebagian jatuh di pelupuk&lt;br /&gt;mataku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-8348057156830043288?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/8348057156830043288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=8348057156830043288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8348057156830043288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/8348057156830043288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/sajak-gunung.html' title='Sajak Gunung'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RsEZ56LxdhI/AAAAAAAAABk/0EBQ6nLU1ZQ/s72-c/MOONSET_KAILUA_0020ab_fl668x381.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2611183314402196778</id><published>2007-08-11T12:38:00.000+07:00</published><updated>2007-08-11T13:31:05.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Lagi Cinta Tanah Air Nih...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr1WKaLxdgI/AAAAAAAAABc/Gh4JGozwf74/s1600-h/flag.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 0px 0px; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr1WKaLxdgI/AAAAAAAAABc/Gh4JGozwf74/s320/flag.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097325090080650754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bendera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesekian kali&lt;br /&gt;entah berapa ribu&lt;br /&gt;kau menghadap matahari itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rumputrumput masih pucat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;17 Agustus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan matahari, engkau siluet&lt;br /&gt;maka tak ada warnawarna&lt;br /&gt;Kebanggaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar teranggelap serupa arsiran&lt;br /&gt;menggambar kemuraman&lt;br /&gt;Senja tambah mempertegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu angin turun dari tajuk pohonpohon&lt;br /&gt;mencuri gairahmu, gemulai&lt;br /&gt;di atas hirukpikuk perayaan&lt;br /&gt;Meskipun sedikit muram; katamu bukan sebab malam&lt;br /&gt;yang sudah separuh turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi kibarmu sempal&lt;br /&gt;saat tangantangan menghormat&lt;br /&gt;tapi terlupa mencintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bendera 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti perempuan&lt;br /&gt;terpaku kesepian&lt;br /&gt;Kainnya menjuntai di batuan telaga&lt;br /&gt;terbawa riak air&lt;br /&gt;memanggilmanggil&lt;br /&gt;Rindu katanya&lt;br /&gt;pada bukan sekedar&lt;br /&gt;upacara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2611183314402196778?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2611183314402196778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2611183314402196778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2611183314402196778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2611183314402196778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/lagi-cinta-tanah-air-nih.html' title='Lagi Cinta Tanah Air Nih...'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr1WKaLxdgI/AAAAAAAAABc/Gh4JGozwf74/s72-c/flag.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5454269261021095125</id><published>2007-08-11T08:35:00.000+07:00</published><updated>2007-08-11T10:48:00.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-ku'/><title type='text'>Sajak- Sajak Pantai</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siluet Lelaki di Pantai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;; V &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Senja hari&lt;br /&gt;siapa berdiri&lt;br /&gt;membelakangi matahari&lt;br /&gt;Seperti patung dewa Yunani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia&lt;br /&gt;Menumbuk laju waktu&lt;br /&gt;sanubariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr0uvaLxdfI/AAAAAAAAABU/wcIXgIZQvzk/s1600-h/DSC00077a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr0uvaLxdfI/AAAAAAAAABU/wcIXgIZQvzk/s320/DSC00077a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097281745270699506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Glagah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;; memoar November&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kekasih&lt;br /&gt;berapa senja telah berlalu&lt;br /&gt;di pantai itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih saja kelepak camar hadir&lt;br /&gt;melayanglayang saat mimpi mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Parangtritis Jelang Labuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;; untuk Chan dan kawankawan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;hawa dingin malam itu&lt;br /&gt;terbakar hangat kisahkisah hidup&lt;br /&gt;seperti api unggun membakar kekayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekelompok gadis tertawatawa riuh&lt;br /&gt;kami terbenam&lt;br /&gt;sampai ke hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kau genggam tanganku sebelum pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr0UBaLxdeI/AAAAAAAAABM/B2HhUVW2DcM/s1600-h/Image008a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr0UBaLxdeI/AAAAAAAAABM/B2HhUVW2DcM/s320/Image008a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097252367694394850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pantai Terakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam kesesaatan&lt;br /&gt;kau dan aku, sepasang mimpi yang terkubur&lt;br /&gt;tahuntahun bertumbuh&lt;br /&gt;antara kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desau nafasmu kuhirupi&lt;br /&gt;kenangankenangan membuncah ombak&lt;br /&gt;terakhir kali&lt;br /&gt;pantai ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kita saling melepas pergi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5454269261021095125?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5454269261021095125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5454269261021095125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5454269261021095125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5454269261021095125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/sajak-sajak-pantai.html' title='Sajak- Sajak Pantai'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wI9xYkErVQg/Rr0uvaLxdfI/AAAAAAAAABU/wcIXgIZQvzk/s72-c/DSC00077a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2749703914188467255</id><published>2007-08-07T10:07:00.000+07:00</published><updated>2007-08-07T10:51:16.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen-ku'/><title type='text'>Dua Simpul Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrfruqLxdbI/AAAAAAAAAA0/mW7HS340z6Q/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrfruqLxdbI/AAAAAAAAAA0/mW7HS340z6Q/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095800690223183282" /&gt;&lt;/a&gt;Berbincang dengan Nan, aku menemukan duniaku. Sebuah dunia yang diwakili kata, sajak-sajak, cerita-cerita pendek dan bincang ringan tentang karya-karya indah yang pernah kami baca. Seperti suatu sore, dibacakannya untukku Perempuan Padang Lalang1 saat aku sedang melukis senja di samping rumah (sepintas mengingatkan pada Chairil yang membaca sajak barunya di depan Mirat yang sedang melukis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Aku menunggumu. Bahkan sampai mata berlumut dan tubuh mengeras batu. Aku menunggu. Sentuhan dan rabaan tangan yang ajaib itu...”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti menyapukan cat di kanvas. Diam kupandang Nan. Seperti biasa matanya bicara bahasa yang hanya bisa dimengerti hati. Hubunganku dengan dia memang hanya hubungan hati dalam makna sebenarnya. Persentuhan fisik sepertinya bukan sesuatu yang penting buat Nan. Tanpa persentuhan ia memang telah mampu menyentuh hatiku. Nan pernah bilang cinta tingkat tinggi kadang tidak membutuhkan sebuah pertemuan fisik. Seperti kata Jalaluddin Rumi dalam syair-syairnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Rumi bersyair lebih menuju Tuhan, Nan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Nan hanya tersenyum penuh arti dan menggenggam tanganku, sebelah tangannya memegang buku puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya aku bisa bilang betapa aku mencintaimu. Tapi kalau aku bilang aku cinta kau pasti kau tertawakan aku. Pasti kau bilang ‘apa tidak ada kalimat lain yang lebih indah?’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nan mengecup tanganku. Aku tersenyum. Tertawa kecil dan kembali menyapukan cat menyelesaikan pulasan terakhir pada langit dalam lukisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini memang pelik. Di sebelahku Era bermain dengan pikirannya sendiri sembari menggenggam tanganku. Bagaimana mungkin aku hendak tak peduli padanya? Mungkin aku bukan orang baik. Menit-menit yang kulalui bersama Era rasanya seperti membaca Supernova3. Meledakkan emosi dan mempermainkan imaji liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era berbeda dengan Nan. Suatu kali pernah kuajak ia menonton pementasan puisi yang membacakan karya-karya Afrizal Malna. Sudah kusiapkan tiket namun sengaja bukan mengajak Nan sebab aku mau suasana baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku gak ngerti, Afrizal Malna tu siapa? Bagaimana aku bisa nonton?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali pula, saat senggang aku memberikan padanya bacaan ringan dari salah satu seri Chicken Soup. Tahu apa reaksinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini, kenapa kau suruh aku baca buku masakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Tapi kau menemukan dunia yang berbeda, yang dengan Nan tak pernah bisa kudapatkan. Apa aku terdengar rendah jika kukatakan ini adalah dunia persentuhan fisik? (Aku sempat malu mengakuinya!). Tapi aku seolah mendapatkan sedikit pembelaan saat aku selesai dengan lembaran terakhir Larung4. Digambarkan bahkan seorang pastor pun akhirnya, sebab kemanusiaannya, melakukan apa yang baginya terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era membawaku pada sebuah dunia yang – mungkin – hedonis. Dunia penuh kesenangan yang menolak berpikir. Dan aku dengan mudahnya ikut terjebak di sana. Nan akan butuh waktu dan kata-kata yang tepat untuk bilang bahwa ia mencintai aku, tapi Era tidak membutuhkan apapun untuk menyekap bibirku dalam suatu ciuman tergesa. Selalu tergesa, tapi kusukai. Apalagi jika gerimis turun, betapa indah sebuah ciuman di bawah rintik air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, aku jatuh cinta. Dengan begitu mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku memang bukan orang baik. Dengan Nan dahagaku akan dunia yang kucintai terpuaskan. Batinku kaya dengan pengalaman-pengalaman dan jiwaku mendapatkan supply energi untuk menikmati hidup. Nan adalah belahan yang sepertinya disediakan Tuhan untukku. Dengannya aku bisa berbincang tentang apapun, mulai membahas komik Doraemon sampai mengapresiasi Rendra, dari mulai mengomentari artikel di majalah sampai berdiskusi soal trafiking. Nan juga pasangan yang kompak untuk duduk menonton pementasan-pementasan puisi dan teater, penikmat sastra sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nan sempurna. Untuk batinku. Nan sangat sempurna memuaskan keliaran pikiranku, menampung semua yang bahkan tak terkatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin sebab aku bukan orang baik. Nan yang dingin dan alpa membaca naluriku membuatku memasukkan Era ke sisi hidupku yang lain, membuatku menginginkan Era. Yang lugas dan terus terang, sentuhan-sentuhannya membuatku mendamba. Pengakuan yang mungkin akan membuat muak orang lain. Tapi bukankah itu salah satu dari ghara’iz manusia? Kehilangan satu naluri ini membuat manusia bukan lagi manusia. Ah, mendadak aku sok agamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Era bukan teman untuk bicara. Bincang dengannya membuat aliran ideku serasa tersumbat. Saling tak mengerti dunia masing-masing. Bincang dengannya pasti akan berhenti pada satu titik, kebekuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, suatu sore, saat cuaca yang aneh mengubah warna pohon akasia langsing di depan rumah menjadi keunguan, suasana menjadi ganjil dan tak dikehendaki ketika Nan dan Era muncul di teras rumah. Tiba-tiba kecemasan bertebaran di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tentukanlah pilihanmu!” Era mulai meneriakiku sementara Nan mencengkeram bahuku dan memaksaku menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hatimu pasti membawamu padaku. Kau perempuan padang lalangku.” Mata Nan yang biasanya lembut tiba-tiba terasa sangat memisauku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era mendorong Nan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tak akan datang padaku jika kau urus baik-baik perempuan padang lalangmu ini!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah!” aku berteriak. Berlari masuk dan kubanting pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik pintu waktu berlalu lambat, seperti neraka yang tak pernah berakhir. Lalu bagaimana mungkin aku memilih? Aku membutuhkan keduanya dalam hidupku. Aku membutuhkan Nan bagi jiwaku, sekaligus juga membutuhkan Era untuk ragaku. Seperti Chairil membutuhkan Mirat untuk gejolak jiwanya, untuk inspirasi puisi-puisinya, tapi juga setia mengunjungi Siti yang buta huruf dan tak mengerti sajak, di gubuk pinggir rel kereta5. Seperti banyak hal di dunia ini yang saling tak bisa dilepaskan satu sama lain. Jadi jangan pernah salahkan jika keputusan untuk memilih itu, bahkan tak kupertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Watulunyu, Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Sebuah puisi Warih Wisatsana&lt;br /&gt;2)  Cuplikan puisi Perempuan Padang Lalang, Warih Wisatsana&lt;br /&gt;3) Novel Dewi Lestari&lt;br /&gt;4) Novel Ayu Utami, setelah Saman&lt;br /&gt;5) Aku, Syumandjaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(published on Lontar)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2749703914188467255?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2749703914188467255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2749703914188467255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2749703914188467255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2749703914188467255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/dua-simpul-mati.html' title='Dua Simpul Mati'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrfruqLxdbI/AAAAAAAAAA0/mW7HS340z6Q/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-637536541319291509</id><published>2007-08-04T15:49:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T16:03:21.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Golden Ratio Gitu Loh...</title><content type='html'>Sudah baca The Da Vinci Code? Saya tidak akan membahas isi novel itu sih....saya hanya pengen membincangkan hal yang paling menarik - menurut saya – dari novel tersebut. Yaitu bagian yang membincangkan  tentang proporsi agung atau phi atau di sebut juga golden ratio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golden ratio diperoleh dari pembagian satu angka dalam deret Fibonacci dengan angka sebelumnya. Besar hasil pembagiannya mendekati satu sama lain dan bernilai tetap setelah angka ke 13 dalam deret tersebut. Sedangkan deret Fibonacci – yang ditemukan oleh seorang matematikawan Italia, Fibonacci- adalah deret yang terbentuk dengan masing-masing angka dalam deret tersebut merupakan hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ini, deret Fibonacci itu :  0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hasil pembagiannya, bernilai sama setelah angka ke-13 : &lt;br /&gt;233/144 = 1,618&lt;br /&gt;377/233 = 1,618&lt;br /&gt;610/377 = 1,618&lt;br /&gt;987/610 = 1,618..dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah angka rasio emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Wikipedia : ....&lt;em&gt;two quantities are in the golden ratio if the ratio between the sum of those quantities and the larger one is the same as the ratio between the larger one and the smaller. The golden ratio is approximately 1.6180339887.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The Da Vinci Code, satu adegan menggambarkan Robert Langdon, sang ahli pemecah kode, sedang menerangkan tentang angka phi ini kepada para mahasiswanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“...Siapa yang dapat mengatakan padaku, ini nomor apa?”&lt;br /&gt;Seorang pemuda berkaki panjang dari jurusan matematika, mengangkat tangannya dari belakang. “Itu angka PHI.” Dia melafalnya. Fi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, Stettner,” ujar Langdon. “Semuanya, kenalkan ini PHI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dicampuradukkan dengan PI,” tambah Stettner sambil menyeringai. “Kami, mahasiswa matematika, senang mengatakan PHI merupakan satu H yang jauh lebih keren dari-pada satu PI.”  Langdon tertawa, namun tak seorang pun mengerti kelakar itu. Stettner merosot dari duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angka PHI ini,” Langdon melanjutkan, “satu-koma-enam-satu-delapan, adalah angka sangat penting dalam seni. Siapa yang dapat mengatakan mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stettner mencoba untuk berkelakar. “Karena itu cantik.” Semua orang tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya,” kata Langdon, “Stettner benar lagi. PHI pada umumnya dianggap angka tercantik di dunia ini.” Tawa itu langsung berhenti, dan Stettner pun pongah. Ketika Langdon mengisi proyektor slidenya, dia menjelaskan bahwa PHI diperoleh dari deret Fibonacci—sebuah deret yang terkenal bukan hanya karena jumlah dari angka yang berdeka-tan sama dengan angka setelahnya, tetapi juga karena hasil bagi dari angka-angka yang berdekatan memiliki sifat yang mengagumkan mendekati angka 1,618—PHI! Lepas dari muasal matematis PHI yang tampak mistis, Langdon menjelaskan, aspek menggelitik akal yang sesung-guhnya adalah perannya sebagai dasar dari balok bangunan dalam alam. Tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia, semua memiliki sifat dimensional yang melekat dengan kualitas keakuratan pada rasio PHI banding 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberadaan PHI yang tersebar di alam,” kata Langdon, sambil mematikan lampu, “jelas lebih dari kejadian kebetulan saja, dan begitu pula para pendahulu kita, menganggap angka PHI pastilah telah ditakdirkan oleh sang Pencipta alam ini. Para ilmuwan terdahulu menyebarluaskan satu-komaenam-satu-delapan sebagai Proporsi Agung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu,” kata seorang perempuan muda di deretan depan. “Saya jurusan biologi dan saya tidak pernah melihat proporsi agung dalam alam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak?” Langdon tersenyum. “Pernah belajar hubungan antara betina dan jantan dalam komunitas lebah madu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu. Lebah betina selalu berjumlah lebih banyak daripada lebah jantan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Dan tahukah Anda jika Anda membagi jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang lebah di dunia ini, Anda akan mendapatkan hasil yang sama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. PHI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu terkesiap. “TIDAK MUNGKIN!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saja!” Langdon balas berteriak, sambil tersenyum ketika mengeluarkan selembar slide bergambar kerang laut spiral. “Kenal ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sebuah nautilus,” kata gadis jurusan biologi lagi. “Se-buah cephalopod mollusk yang memompa gas ke dalam ker-ang berongganya untuk menyeimbangkan kemampuan men-gapungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Dan dapatkah Anda menerka apa rasio setiap di-ameter spiral ke spiral berikutnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tampak tak yakin ketika dia melihat lengkung-lengkung konsentris dari kerang nautilus spiral itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langdon mengangguk. “PHI. Proporsi agung. Satu-koma-satu-enamdelapan banding satu.” Gadis itu tampak tercengang.  Langdon melanjutkan dengan slide berikumya—sebuah tam-pak dekat dari sebuah kepala biji bunga matahari. “Biji bunga matahari tumbuh dengan melawan spiral. Anda dapat menerka rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikutnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PHI?” semua berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali.” Langdon mulai memperlihatkan beberapa slide sekarang— bunga cemara berspiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga. Semuanya mem-perlihatkan kepatuhan yang mengagumkan pada Proporsi Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini mengagumkan!” seseorang berseru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” yang lainnya berkata, “tetapi apa hubungannya dengan seni?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha!” kata Langdon. “Senang Anda bertanya begitu.” Dia mengambil sebuah slide lagi—selembar kertas perkamen ber-gambar lelaki bugil karya Da Vinci yang terkenal itu—the Vitru-vian Man— Yang didasarkan pada Marcus Vitruvius, seorang arsitek Roma yang sangat pandai yang memuja Proporsi Agung dalam teks De Architectura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak seorang pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci ten-tang struktur agung dalam tubuh manusia. Da Vinci bahkan menggali mayat manusia untuk mengukur proporsi struktur tulang manusia yang tepat. Dialah orang pertama yang mem-perlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari balok balok bangunan yang rasio proporsionalnya selalu sama de¬ngan PHI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang berada di kelas itu menatapnya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak percaya padaku?” Langdon menantang. “Lain kali, jika Anda sedang mandi, bawa pita ukuran.”  Sepasang pemain football mengikik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya kalian berdua,” Langdon menyarankan, “tetapi semuanya. Lelaki dan perempuan. Cobalah ukur jarak dari puncak kepala Anda ke lantai. Kemudian bagi dengan jarak dari pusar ke lantai. Terka, angka berapa yang Anda dapat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan PHI!” salah satu olahragawan itu berseru tak per-caya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, PHI!” jawab Langdon. “Satu-koma-satu-enam-delapan. Mau contoh lain? Ukur jarak dari bahu Anda ke ujung jari Anda, kemudian bagi dengan jarak dari siku Anda ke ujung jari Anda. PHI lagi. Yang lain? Paha ke lantai dibagi dengan lutut ke lan-tai. PHI lagi. Ruas jari. Jemari kaki. Divisi tulang belakang. PHI. PHI. PHI. Kawan-kawan, masing-masing Anda merupakan penghormatan berjalan terhadap Proporsi Agung.”....”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow.  Saya lebih terkesan lagi ketika sedang iseng browsing dan menemukan beberapa artikel tentang golden ratio yang keberadaannya  tersebar di alam, seperti kata Langdon itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia mikro, perubahan bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, bujursangkar, segilima atau segienam menjadi bentuk-bentuk lain seperti kubus atau piramida (contoh yang paling gampang), tetrahedron (4 sisi seragam), dodekahedron (12 sisi berbentuk segilima) dan lain-lain (uuh.. namanya susah banget) yang bahkan mungkin belum pernah kita dengar atau bayangkan, semuanya terjadi dengan rasio yang terkait dengan golden ratio. Bentuk tiga dimensi dengan golden ratio sangat umum pada mikroorganisme, makanya virus-virus sangat sulit kita bayangkan bentuknya sebab mereka memiliki bentuk-bentuk yang didasarkan pada golden ratio ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dunia Fisika, jumlah berkas cahaya yang keluar dari sebuah sumber cahaya yang diletakkan di atas dua lapisan kaca saling bertumpukan, setelah mengalami pemantulan berulang-ulang , ternyata bersesuaian dengan angka-angka Fibonacci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia seni sendiri, rasio ini adalah rasio keindahan yang diterapkan oleh para seniman termasuk Leonardo Da Vinci. Hampir setiap karya Da Vinci menerapkan perbandingan ini; Mona Lisa, The Last Supper, Madonna of The Rock, Vitruvian Man (yang ini jelas banget :D)...etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrQ_S6LxdYI/AAAAAAAAAAc/TT8F_I2Nq2A/s1600-h/lastsupp.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrQ_S6LxdYI/AAAAAAAAAAc/TT8F_I2Nq2A/s320/lastsupp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094766672551703938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan ini, The Last Supper, menerapkan golden ratio dalam dimensi ruangan, dinding, jendela dan penempatan meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The Sacrament of The Last Supper, Salvador Dali membingkai lukisannya dalam sebuah persegi emas. Seperti Da Vinci, Salvador memposisikan meja tepat dalam perbandingan emas dengan tinggi lukisannya. Sedangkan jendela di latar belakang berbentuk dodecahedron (bentuk tiga dimensi dari 12 segilima yang bergabung dan memiliki rasio emas) yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrQ_waLxdZI/AAAAAAAAAAk/D7PYkhRJh5A/s1600-h/dali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrQ_waLxdZI/AAAAAAAAAAk/D7PYkhRJh5A/s320/dali.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094767179357844882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... pendek kata saya terkagum-kagum dengan keberadaan golden ratio di alam. Tidak sampai dalam pikiran saya bagaimana menciptakan keindahan yang konsisten ini. Saya – terus terang- jadi mengingat Tuhan, pencipta mahakarya yang benar-benar tak tertandingi indahnya, dan sangat teliti sampai ke penciptaan makhluk hidup terkecil pun, Ia menciptakannya dengan kerumitan yang tinggi, bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, dan, sekali lagi, golden ratio itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi mengingat Tuhan. Sumpah. Dan saya sih tidak akan menghujat Dan Brown atau memuji-muji berlebihan, saya cuma mau bilang : thank you Mr. Brown, anda telah membuat saya tiba-tiba teringat Tuhan dengan cara yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sudah baca The Da Vinci Code?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-637536541319291509?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/637536541319291509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=637536541319291509' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/637536541319291509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/637536541319291509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/golden-ratio-gitu-loh.html' title='Golden Ratio Gitu Loh...'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wI9xYkErVQg/RrQ_S6LxdYI/AAAAAAAAAAc/TT8F_I2Nq2A/s72-c/lastsupp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-5361922062584579530</id><published>2007-08-03T15:24:00.000+07:00</published><updated>2007-08-03T15:33:34.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cokelat Manis'/><title type='text'>Pengalaman Pidato Pertama Kali</title><content type='html'>Saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu masih duduk di bangku SMP. Masa SMP saya terbagi, tahun pertama saya jalani di sebuah sekolah negeri di daerah transmigran di propinsi Riau (orang tua saya ikut program transmigrasi ketika saya masih kecil, entah usia berapa saat itu, saya tidak ingat), tahun berikutnya sampai sekarang saya moved ke Yogya. Jadi SD saya di daerah trans itu juga. Senangnya bersekolah di daerah seperti itu, murid SD-nya banyak dari berbagai suku, satu kelas mencapai 40 orang tapi susahnya, kalau butuh apa-apa, misal untuk bikin kerajinan tangan semacam bunga imitasi, beli pita jepang mesti harus menunggu hari Minggu atau Kamis sebab hanya pada hari-hari itu ada mobil yang mengantar ibu-ibu ke pasar di daerah kota kecamatan. Puluhan kilometer melewati rumah-rumah trans dan perkebunan kelapa sawit yang jalannya belum kenal aspal. Kalau gelap dikit bisa berjumpa dengan kawanan babi menyeberang jalan. Bisa lihat ayam hutan nangkring di pelepah pohon kelapa sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tapi itu dulu. Setelah lebih sepuluh tahun ini, sahabat saya yang masih tinggal di sana dan sudah menikah, bercerita via sms bahwa daerah itu sekarang sudah lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tadi saya mau cerita tentang pengalaman saya ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya harus mulai dari waktu saya masih SD. Di SD dulu, menurut dokumen, saya termasuk pinter (he..he..he). sejak kelas 1 sampai lulus rangking saya berkisar dari 1 sampai 3, itu pun lebih banyak rangking 1-nya (he..he..he..ini benar-benar menurut dokumen raport SD saya). Nah, namanya juga daerah trans, SD cuma ada dua dan SMP cuma ada satu-satunya, makanya begitu masuk SMP nama saya langsung dikenal oleh guru-guru (sebenarnya mungkin bukan sebab prestasinya tapi gara-gara para guru itu kebanyakan teman orang tua saya :P). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, waktu itu mendekati acara perpisahan kelas tiga, saya didaulat untuk berpidato mewakili pihak adik kelas yang akan ditinggalkan. Saya bahkan gak tahu alasannya apa sebab saya tidak termasuk dalam jajaran OSIS atau organisasi apapun di sekolah. Zaman dulu nepotisme kan bukan hal yang aneh (sampai sekarang juga mungkin?). Tanggapan saya waktu itu....ugh...huaaaaaaaaaa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kan belum pernah pidato-pidatoan. Sebenernya waktu SD saya biasa tampil di muka umum di acara-acara sekolah. Tapi paling-paling kalau gak ikutan dance (wuiiihh, dance atau menari ya?) ya deklamasi puisi (ini paling sering, sampai diikutkan lomba dan lumayan dapet juara, lupa sih juara berapa dan tingkat apa), pernah juga ikutan grup qasidah bagian pegang kecrekan and kadang-kadang didaulat baca ayat suci Al-Qur’an di acara semacam Maulid Nabi (gini-gini, pernah juara dua MTQ tingkat desa loh.. hehehhehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But kali ini pidato. Pidato? Kyaaa... kyaaa... itu di luar kemampuan saya. Tapi guru bahasa Indo saya yang cantik meyakinkan bahwa saya bisa. Di rumah, saya minta pendapat ibu, jelas sekali beliau mendukung. Maka jadilah saya berlatih teks yang sudah disusun oleh ibu guru bahasa Indo yang cantik namun saya lupa namanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari H, acara perpisahan itu diramaikan oleh sekelompok anak muda band, kalau gak salah namanya Omega Band. Saya dan teman-teman kebagian dance pembuka tapi gak diiringi band, musiknya dari kaset biar sama dengan waktu latihan. Entah bagaimana susunan acaranya, sehabis dance itu ada sambutan-sambutan, saya kebagian maju urutan ke-tiga kalau gak salah. Tanpa konsultasi dengan make-up artist karena emang gak ada, saya ke podium masih memakai kostum dance tadi. Saya ingat, celana gombrang dan rompi pendek warna orange, dalemannya t-shirt tight warna putih (norak?), wajah saya coreng-moreng lagi. Duh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg..deg..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beneran baru kali ini pidato. Tiba-tiba saja gugup dan demam panggung. Kalimat saya meluncur pelan-pelan, bergetar dan nadanya semakin aneh. Sebenernya saya menyadarinya tapi tak tahu harus bagaimana. Saya teruskan saja berpidato dengan gaya saya sementara saya sempat lihat hadirin di kursi terdepan berbisik kepada sebelahnya. Sepertinya sih bertanya saya ini siapa, kok pidatonya aneh banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugh, akhirnya saya selesai. Melesat ke balik panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok pidatonya gitu?” Guru bahasa Indo saya menyambut di belakang panggung. Saya sempat takut juga melihat raut muka kecewanya. Waktu berlalu dengan sangat menyiksa, sementara perwakilan kakak kelas sedang berpidato. Saya mendengarkan dan membandingkan dengan pidato saya tadi. Saya malu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pidato itu seperti itu. Kamu tadi seperti baca puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi..hi.. iya. Tadi saya deklamasi. Sungguhan. Dari mulai menyebut hadirin yang terhormat sampai salam penutup, saya berdeklamasi meskipun tanpa gerakan. Saya kan memang gak bisa pidato. Oalah, pidato di mulut saya jadi deklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya menggerutu. Mungkin merasa salah menjatuhkan pilihan. Saya nyengir saja. Malu. Makanya, Bu, jangan memilih orang hanya sebab Ibu kenal baik dengan orang tua saya...hehhehehhe.... Untung habis itu saya pindah ke seberang lautan. Lumayan agak selamat deh saya dari ejekan teman-teman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-5361922062584579530?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/5361922062584579530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=5361922062584579530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5361922062584579530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/5361922062584579530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/08/pengalaman-pidato-pertama-kali.html' title='Pengalaman Pidato Pertama Kali'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-202987598202945711</id><published>2007-07-31T12:17:00.000+07:00</published><updated>2007-07-31T12:34:05.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Menulis'/><title type='text'>Tips for Writing a Synopsis</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;A synopsis provides key information about your novel including the main characters, plot, conflict and essential turning points. The synopsis should be written in the same order as the novel and contain the ending. The synopsis should also be written in the style of the manuscript-a witty, fast-paced novel requires a witty, fast-paced synopsis.&lt;br /&gt;There is no specific rule about length for a synopsis although most editors prefer the shorter the better. By short, they're looking for 1-2 pages single spaced or 5-6 pages double spaced. However, some books such as historical novels or thrillers are too complicated or long to communicate in such a short document. For these longer works type one page per 25 pages of manuscript.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;TIPS: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Start strong. The first sentence should contain a strong lead and the first paragraphs should provide a hook and introduce the main plot, key conflict, and characters. Example: Alicia Browning, a thirty-year-old supermodel with a face and body that has graced magazines and runways for a decade is found dead in the bathtub of her Manhattan flat. Even in death, her perfect features suggest to investigators that her demise is a tragic accident. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Give brief biographical information about the main characters, such as, "Helen Bailey, the protagonist, a 32 year-old librarian who has given up on love when she finds a puppy on the steps of the library." &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Write in present tense.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Write in third person.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rely on vivid verbs and specific nouns, not modifiers to summarize the novel.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Write in logical, organized paragraphs that explore one topic.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Use transitions between scenes and ideas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Weave characterization into the action.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keep out opinion words and phrases (this moment, which will keep every reader glued to the page, our plucky heroine plunges into the dark alley)-this is summary not book jacket blurb. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Include each plot point.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Include characters' motivations.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Avoid using dialogue unless its essential to reveal character or plot provide a dramatic moment. If included, keep it brief.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Formatting:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Do not justify the right margin&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Use a slug at top left of pages (except first page)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Example: Morrell/DRESSED TO KILL/synopsis&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Use 1" margins on all sides.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Type the page number on top right of pages after 1.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;On the first page type your contact information at the top left, single spaced. At the top left margin type the genre type, word length and Synopsis, also single-spaced. Drop down about 1/3 page and type the title in all caps. Drop down 4 lines and begin the opening paragraph. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Type a character's name in all caps the first time he or she is introduced.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Jessica Page Morrell&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-202987598202945711?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/202987598202945711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=202987598202945711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/202987598202945711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/202987598202945711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/07/tips-for-writing-synopsis.html' title='Tips for Writing a Synopsis'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7989581376167300604.post-2076343981587854252</id><published>2007-07-26T18:24:00.000+07:00</published><updated>2007-07-31T12:14:36.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Menulis'/><title type='text'>Tips Menulis Cerpen</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Struktur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Taruh seseorang di atas pohon.&lt;br /&gt;   2. Lempari dia dengan batu.&lt;br /&gt;   3. Buat dia turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perencanaan Cerpen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tema&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempo Waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penokohan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dialog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat "twist ending" (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Baca ulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.write101.com/shortstory.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7989581376167300604-2076343981587854252?l=selepas-lautan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/feeds/2076343981587854252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7989581376167300604&amp;postID=2076343981587854252' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2076343981587854252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7989581376167300604/posts/default/2076343981587854252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/07/how-to-write-poem.html' title='Tips Menulis Cerpen'/><author><name>Fajar Timur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15674581846331077008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_wI9xYkErVQg/SmlBDnMvwVI/AAAAAAAAAR8/mEKDOUWeMY4/S220/AKU2.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
